Saturday, November 20, 2010

Apa Kata Quran tentang ALKITAB? (Ep 16)

EPISODE 16

Pembawa Acara: Pemirsa yang saya kasihi, selamat datang kembali dalam program kami “Questions About Faith” (Pertanyaan-pertanyaan Tentang Iman). Kami sangat senang bertemu Anda kembali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda. Juga merupakan kehormatan bagi kami dengan hadirnya Bapak Pendeta Zakaria Butrous. Selamat datang Bapak Pendeta.

Pendeta Zakaria: Terima kasih banyak.

Pada episode yang lalu, kita telah berbicara tentang ketidak-mungkinan adanya penyimpangan dalam Alkitab dan Anda telah menjelaskan kepada kami apa itu Alkitab, dan apakah isi dari Alkitab, dan kita juga telah menyebutkan ayat-ayat yang menegaskan keaslian Alkitab. Kita telah sampai pada ayat yang menyatakan bahwa ada penyimpangan dalam Alkitab, dan sekarang jika Anda tidak keberatan, bisakah Anda menjelaskan kepada kami ayat-ayat Qur’an yang menyatakan bahwa ada penyimpangan dalam Alkitab.



Ya, paling sedikit ada 4 ayat yang saya akan menerimanya, dan saya hanya akan menyebutkan sisanya. Dalam Suratt 2 : 75, “Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka merusaknya setelah mereka memahaminya, sedangkan mereka mengetahui”. Ayat yang kedua adalah dari Suratt 4 : 46, “Beberapa orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya”, dan Suratt 5 : 13, “Mereka suka merubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya, dan mereka sengaja melupakan bagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka”, dan dalam Suratt 5 : 41, “Beberapa dari orang Yahudi itu amat suka mendengar berita-berita bohong, mereka merubah perkataan-perkataan Taurat dari tempat-tempatnya”. Ini adalah 4 ayat Qur’an yang menyebutkan mengubah, penyimpangan dan merusak perkataan dalam Alkitab.

Pembawa Acara : Pada episode yang lalu Anda sudah cukup menjelaskan kepada kami ayat yang pertama. Bisakah Anda jelaskan ayat yang kedua?

Bpk. Zakaria : Ya, ayat yang kedua mengatakan … itu ada di dalam Suratt 4 : 46, “Beberapa orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata “kami mendengar” tetapi kami tidak menurutinya dan : “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengarkan apa-apa dan dengan memutar-mutar lidahnya”. Semua ini membutuhkan penjelasan dan sebagainya. Dari pernyataan “beberapa orang Yahudi” menjelaskan bahwa itu tidak mengatakan “tidak termasuk mereka, orang-orang …”

Pembawa Acara : Kristen.

Bpk. Zakaria : Orang-orang Kristen.

Pembawa Acara : Jadi disini dia membicarakan orang-orang Yahudi.

Bpk. Zakaria : Ya, dan saya meminta setiap orang untuk mencari satu ayat yang menyatakan bahwa orang-orang Kristen telah merubah Alkitab mereka sendiri. Semua ayat-ayat seperti yang baru saja kita lihat, menunjukkan penyimpangan kepada orang-orang Yahudi. Semua ayat-ayat ini. Disini, lihatlah!

Pembawa Acara : Tidak juga merusak perbendaharaan kata-nya.

Bpk. Zakaria : Tidak.

Pembawa Acara : Ini berhubungan dengan pengertian.

Bpk. Zakaria : Pengertian. Sebagai contoh, : “Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah”, yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi, dan “Beberapa orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya”. Juga dalam Suratt 4 : 46 dan Suratt 3. Jadi, “mereka yang merubah perkataan dari tempat-tempatnya” dan “beberapa orang Yahudi suka mendengarkan berita-berita bohong” adalah orang-orang Yahudi yang dimaksud, bukan orang-orang Nasrani. Tidak ada satu ayat pun dalam Qur’an yang menyatakan orang-orang Nasrani telah merusak Alkitab mereka sendiri. Tidak perbendaharaan-katanya dan juga artinya. Benar, bukan? OK. Dalam pernyataan yang sama, penyimpangan juga tidak ditujukan kepada semua orang Yahudi, tetapi hanya beberapa dari mereka : “Beberapa orang Yahudi …” dan juga “Beberapa dari orang-orang Yahudi …”. Jadi, tidak semua orang Yahudi dan banyak juga orang Yahudi yang percaya pada Alkitab yang benar, yang mereka miliki. Tetapi beberapa dari mereka salah menterjemahkannya dan salah mengartikannya, ini dapat dilihat dari ayat yang mengatakan “mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya”. Perhatikan frase : “tempatnya”. Apa yang dimaksud “tempatnya”? Imam al Baydawi mengatakan dalam ulasannya mengenati kata ini. Kalimat “Beberapa dari orang-orang Yahudi merubah perkataan-perkataan dari tempatnya”, artinya: mereka memutar-mutar perkataan-perkataan itu dari tempat dimana Allah telah menempatkannya, dengan menterjemahkan perkataan tersebut sesuai yang mereka inginkan.

Pembawa Acara : Mereka memutar-mutar arti perkataan.

Bpk. Zakaria : Mereka berputar-berputar dalam menterjemahkannya dan dalam memahami maksud, dan bukan isinya. Kitab suci Qur’an menyebutnya dengan “memutar-mutar”, seperti tertulis “memutar-memutar lidah mereka” atau “perhatikanlah kami dengan memutar-memutar lidah mereka”. Apa arti dari “memutar-mutar lidah mereka”? Itu berarti mereka mengubah cara mengucapkan kata-kata menurut lidah Yahudi mereka. Alkitab ditulis dengan menggunakan kata-kata khusus, lalu mereka memberikan warna dalam mengucapkan kata tersebut dengan memutar-mutar lidah mereka. Mereka telah mengubah cara pengucapan perkataan yang berarti “perhatikan kami” atau “peliharalah kami”. Mereka mengubahnya menjadi “Engkau bodoh”, yang bukan berarti “perhatikan kami”. Perkataan “Engkau bodoh” adalah suatu perkataan yang mencela. Dimana penjelasan ini ditemukan?

Pembawa Acara : Dimana?

Bpk. Zakaria : Dalam buku ulasan Qur’an oleh Imam Abdullah Youssef Ali, halaman 200. Buku ini merupakan terjemahan kitab Qur’an dalam Bahasa Inggris yang dicetak di Amerika Serikat. Jadi, apa yang telah mereka lakukan adalah mengubah perkataan dengan lidah mereka. Bukannya berkata “perhatikanlah kami”, melainkan mereka mengutuknya: “Engkau bodoh”. Mengubah disini tidak terjadi pada kata-kata yang ada didalam teks, tetapi dalam hal apa? Dalam pengucapan. Mereka telah mengucapkan sesuatu tidak seperti yang seharusnya terdengar.

Pembawa Acara : Kita masih membahas ayat yang ke-dua?

Bpk. Zakaria : Ya, dan Imam Razi…, Ya, masih mengenai ayat yang kedua. Mari kita dengar apa yang dikatakan Imam Razi: “Sebuah buku yang disebarkan dengan menurunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tidak dapat mengalami – perhatikan – perubahan dalam kosa katanya. Pernyataan ini dikutip dari buku yang berjudul Duha El islam halaman 346 dan 358. Dan buku siapa ini? Penulisnya adalah Ahmed Amin. Ini berarti dia menolak tuduhan adanya perubahan dalam kosa kata pada Alkitab. Perkataan tidak diubah. Seorang Muslim mungkin mengatakan “mereka mengangkat kata-kata” yang berarti mereka merubah kata-kata dalam buku tersebut. Mereka mengeluarkan seluruh perkataan.

Pembawa Acara : Mereka mengubah kata.

Bpk. Zakaria : Mereka mengganti seluruh halaman. Tidak, Al Razi mengatakan bahwa perubahan kosa kata tidak mungkin terjadi. Dan dalam Saheeh El Bukhary dikatakan: “mereka mengubah kata-kata dari tempat-tempatnya”. Itu berarti, mereka memindahkannya dan tak seorangpun dapat memindahkan satupun kata dari buku-buku Allah yang Maha Tinggi. Tetapi mereka menterjemahkannya dengan arti yang tidak sesuai.

Pembawa Acara : Tolong diulang lagi, Bapak Pendeta.

Bpk. Zakaria : Lagi?

Pembawa Acara : Ya, silahkan diulang lagi.

Bpk. Zakaria : Saheeh El Bukhary: “mereka mengubah kata-kata dari tempat-tempatnya”. Dia menjelaskan maksudnya adalah mereka memindahkannya dan tak seorangpun dapat memindahkan satupun kata dari buku-buku Allah Maha Tinggi. Tidak seorangpun telah dapat memindahkan satu kata dari buku manapun, mereka hanya menterjemahkan dengan arti yang tidak sesuai. Mereka salah mentafsirkannya dan itu adalah penyimpangan yang mereka maksud. Tetapi perubahan dalam teks Alkitab? Tidak ada. Tidak mungkin. Tak seorangpun dapat merubah apapun dalam teks buku-buku Allah. Lalu kemana perkataan “kami telah menurunkan buku petunjuk itu dan kami melindunginya”? Benarkan?

Pembawa Acara : Bagaimana dengan ayat yang ke-tiga?

Bpk. Zakaria : OK. Ayat yang ketiga datang dari Suratt 5 (Al Maidah) : 13, “Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israel …”, hingga ayat yang mengatakan “Mereka suka merubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya, dan mereka sengaja melupakan bagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka”. Saya memiliki beberapa ulasan disini. Apa penjelasan mengenai ayat ini? Penjelasan Imam Al Razi adalah sebagai berikut: “pengertian dari kata penyimpangan adalah membuat prasangka palsu dan merusak tafsiran, dan memalingkan sebuah kata dari arti yang sesungguhnya kepada arti yang tidak benar. Dengan maksud menipu secara lisan, seperti yang dilakukan oleh bida’ah – bida’ah sekarang ini.

Pembawa Acara : Jika Anda berkenan, hal ini masih membutuhkan penjelasan.

Bpk. Zakaria : Ya, tentu. Dia mengatakan, “Pengertian dari kata penyimpangan berdasarkan ayat “mereka mengangkat kata-kata”, adalah membuat prasangka palsu terhadap teks dan merusak tafsiran atau penjelasan, dan membawa perkataan – perkataan tetap sama – tetapi membawa perkataan keluar dari arti yang sesungguhnya.”

Pembawa Acara : Masih arti yang diubah, bukan perkataannya sendiri.

Bpk. Zakaria : Tidak, tidak pernah. Itu berarti mereka memahami segala sesuatu menurut cara mereka sendiri dengan arti yang disesuaikan dengan keinginan mereka sendiri. Benar bukan? Dan untuk membuktikan apa yang dikatakan Al Razi itu benar, kami mengutip pernyataan yang tertulis dalam Saheeh El Bukhary. Dia menyebutkan hal yang sama sebagai sebuah penjelasan mengenai ayat 15 dari Surat yang sama. Dikatakan: “Ahli kitab, utusan kami telah datang kepada mu untuk menjelaskan banyak hal yang telah kamu sembunyikan dari kitab tersebut.” Menyembunyikan. Kitab suci Qur’an menjelaskan pengertian dari kata penyimpangan, seperti hanya menyembunyikan beberapa bagian dari buku. Perkataan masih terletak di tempatnya, tetapi apa yang terjadi? Tersembunyi. Benar, dan itulah arti dari perubahan: Masih terletak disana, tetapi tersembunyi.

Pembawa Acara : Hal ini merupakan penjelasan lebih lanjut yang menyatakan bahwa tidak ada perubahan dalam teks Alkitab.

Bpk. Zakaria : Tentu saja. Sekarang saya akan mengutip ulasan dari Al Jalalayn dimana Anda akan menemukan sebuah pernyataan yang tidak biasa, tentang penyimpangan kata.. Penyimpangan kata terdapat dalam Taurat. Perhatikan kekhususan ini. Penyimpangan kata yang terdapat dalam kitab Taurat. Dia menunjukkan penyimpanan yang dimaksud dalam Qur’an mengenai kitab Taurat – berhubungan dengan nabi Muhamad, damai dan doa Allah menyertainya. Dan apa yang mereka sembunyikan dari kitab adalah perintah yang diberikan kepada mereka untuk mengikuti nabi Muhamad, damai dan doa Allah menyertainya. Dia mengatakan suatu nubuat tentang nabi Muhamad. Nubuat tentang nabi Muhamad terdapat dalam Alkitab dan mereka telah menyembunyikannya. Nubuat itu adalah tentang nabi yang akan datang, dan mereka mengacaukannya menjadi “nabi yang tidak bisa membaca”. Dengar bagaimana mereka merusak kata “yang akan datang” dan “the ummy” dan kebenaran dari masalah ini adalah bahwa ketidaksepakatan tentang kata penyimpangan, yang menurut ayat ini adalah pembacaan nubuat Musa yang terdapat dalam kitab Taurat, tentang nabi yang akan datang, yang dia maksud adalah Yesus. Dan mereka mengubahnya dengan: nabi yang tidak dapat membaca. Maksud saya adalah orang-orang Arab dan nabi Muhamad mengartikannya sebagai nabi yang tidak dapat membaca. Nabi Musa berbicara tentang nabi yang akan datang, “Tuhan akan membangkitkan bagi kamu seorang nabi seperti aku, seseorang yang berasal dari kamu. Kepada Nya kamu mendengar.” Lalu mereka berkata, ya, itu sama artinya dengan nabi yang “tidak dapat membaca”. Dengar! Dikatakan “yang akan datang”. Dia berkata, Tidak, yang dikatakan adalah “tidak dapat membaca”. Jadi siapa sebenarnya yang melakukan penyimpangan? Bukan orang-orang Yahudi. Mereka adalah orang lain, melainkan, maksud saya adalah nabi Muhamad. Tetapi mungkin seseorang akan bertanya kepada saya: “Siapa nabi yang akan datang yang dimaksud nabi Musa?” Ya, karena dikatakan: “Tuhan akan membangkitkan bagi kamu seorang nabi seperti aku yang berasal dari kamu”, itu berarti dari orang-orang (keturunan) Allah.

Pembawa Acara : Orang-orang (keturunan) Allah.

Bpk. Zakaria : Dari suku bangsa Israel. Muhamad bukanlah keturunan Israel.

Pembawa Acara : Bukan.

Bpk. Zakaria : Benar, bukan. Muhamad adalah keturunan Ismael, bukan keturunan Israel. Jadi, ayat yang mengatakan tentang penyimpangan dalam Qur’an tidak pernah bermaksud mengubah perkataan, kalau tidak, itu tidak akan memberikan bukti tentang Alkitab. Itu tidak akan memberikan bukti tentang kebenarannya.

Pembawa Acara : O K. Apakah kita akan melanjutkan ke ayat yang ke-empat?

Bpk. Zakaria : Ayat yang berikut mengenai penyimpangan kata yang diambil dari Surat 5 : 41, “Beberapa dari orang Yahudi itu amat suka mendengar berita-berita bohong, dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini kepada kamu, maka terimalah, dan jika kami diberikan yang bukan ini, maka hati-hatilah.” Apakah maksud dari ayat ini? Imam Abdullah Youssef Ali, pada halaman 260, menjelaskan : “Banyak orang Yahudi suka sekali mendengarkan nabi berbohong. Mereka tetap bertanya kepada nya, kemudian mereka akan berkata: “Kamu bohong akan hal itu” atau “Kamu berbohong disini”. Kamu baru saja salah mengatakan sesuatu.” Hal ini tidak pernah terjadi. Mendengar nabi berbohong dan telinga mereka terbuka untuk kebohongan yang tersebar tentang nabi, bahkan dari orang-orang yang tidak datang kepadanya.. Sebagai contoh, orang akan mengatakan: “Kamu tahu bahwa saya mendengar nabi Muhamad mengatakan itu dan itu, lalu mereka akan berkata, sekarang dia berkata salah lagi.” Ya, tetapi mereka tidak pernah menjadi Muhamad, dan itulah yang dimaksud Muhamad dalam Qur’an.

Pembawa Acara : Tetapi ini masih diluar teks Alkitab.

Bpk. Zakaria : Diluar teks Alkitab. Anda tahu, akar dari masalah ini adalah orang yang menolak tidak mengerti dan tidak ingin untuk mengerti. Sayang sekali, orang itu mengambil sebuah kata dan terbang bersama kata tersebut. Dikatakan: “mereka mengubah kata-kata”, lalu kitab Anda berubah. Disini dikatakan “berubah”, tetapi apakah Anda mengerti apa arti dari pengubahan? Mengapa Anda mengambil ayat dan perkataannya dan periksa apa yang dikatakan para komentator Anda sendiri mengenai ayat tersebut untuk mengetahui bahwa penyimpangan tidak terdapat dalam teks Alkitab. Tidak perkataan dalam teks Alkitab, tetapi hanya penyimpangan dalam memahami teks Alkitab.

Pembawa Acara : Penyembunyian makna.

Bpk. Zakaria : Ya, penyembunyian segala sesuatu, itulah yang dimaksud Qur’an.

Pembawa Acara : Bukan perubahan teks.

Bpk. Zakaria : Benar, dan Abd Allah Youssef Ali, mengenai frase dari “mereka mengubah kata-kata dari tempat-tempatnya”, menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi tidak percaya pada buku mereka, karenanya mereka merusak artinya, dan bukan teksnya. Ini penjelasan dari Imam Abdullah Youssef Ali. Sekarang kita sampai pada Zamakhshari. Imam Zamakhshari berkata: Pernah diceritakkan. Ini adalah pengkhususan. Telah diceritakan tentang seorang bangsawan dari Khaibar yang telah melakukan perzinahan dengan seorang bangsawan wanita dari Khaibar. Dari Khaibar berarti orang Yahudi yang telah menikah, yaitu setiap orang dari mereka yang menikah dengan suami/istri orang lain. Dia telah menikah dengan wanita lain, dan wanita itu telah menikah dengan pria lain, dan mereka melakukan perzinahan. Jadi, mereka harus dihukum rajam sampai mati sesuai dengan kitab Taurat. Tetapi mereka menolak. Orang-orang Yahudi menolak untuk menghukum mereka dengan hukuman rajam, karena status mereka yang bangsawan. Mereka pun mengirim orang untuk bertanya kepada utusan Tuhan mengenati hal tersebut. Mereka menanyakan, “apakah kami harus membunuh orang itu atau tidak? Apakah kami harus merajam mereka atau tidak?” Dan mereka berkata kepada orang yang dikirim kepada nabi Muhamad: “Jika Muhamad memerintahkan kepada mu untuk mencambuk mereka, terimalah. Dan jika dia memerintahkan mu untuk merajam mereka, janganlah diterima.”

Pembawa Acara : Mereka telah dinasehati terlebih dahulu.

Bpk. Zakaria : Dan mereka membawa dua orang penzinah tersebut bersama mereka, lalu nabi meminta mereka untuk dihukum rajam, setelah masalah diselidiki. Tetapi mereka menolak perkataan nabi Muhamad, lalu dia menunjuk seorang penengah antara mereka dan dia sendiri. Dia membawa seorang penengah yang adalah seorang Yahudi, yaitu Rabbi Ibn Suriya – seorang penengah Yahudi yang diminta untuk merajam mereka. Dan dikatakan pada akhir cerita bahwa sesudah kesaksian Rabbi Ibn Suriya tersebut, nabi memerintahkan untuk merajam mereka, dan mereka dihukum rajam di pintu gerbang mesjid untuk mengukuhkan hukuman kitab Taurat terhadap mereka.

Pembawa Acara : Kita telah mendapatkan banyak hal dari penjelasan ini.

Bpk. Zakaria : Ya, dan karenanya para komentator setuju akan alasan ayat ini telah diungkapkan, yaitu ayat “mengubah kata-kata” yang terdapat dalam Surat 5 adalah mengenai cerita tersebut diatas. Ayat itu memang khusus untuk cerita tersebut, bukan berbicara tentang penyimpangan terhadap keseluruhan isi Alkitab, tetapi salah dalam penyajian/penggambaran. Mereka tidak ingin penzinah tersebut dihukum hingga mati. Lalu mereka salah mentafsirkan arti dari merajam menjadi “hanya mencambuk”, bukan hukuman rajam. Jadi, maksud dari penyimpangan disini adalah salah menterjemahkan dari kata “hukuman rajam” menjadi “hanya mencambuk”, dan bukan mengenai merusak teks Alkitab. Dan itu adalah alasan Al Jalalyn dalam ulasannya : “ayat ini telah diungkapkan karena dua dari orang-orang Yahudi telah melakukan perzinahan. Mereka menggugat sebelum nabi, yang menghukum mereka dengan hukuman rajam. Kitab Taurat – “Ambillah kitab Taurat kemari”. Mereka mengambilnya dan kitab itu menjadi hakim atas mereka. Itu adalah nabi Muhamad, yang mengatakan “Ambillah kitab Taurat kemari” dan kitab itu merupakan hakim atas mereka untuk dihukum rajam hingga mati. Perhatikan dengan benar disini, karena ini penting. Apakah pengakuan nabi Muhamad terhadap kitab Taurat adalah sebuah bukti yang pasti atas kebenarannya? Bagaimana dia dapat membuktikannya? Bagaimana dia dapat mengakui sebuah buku bila mengetahui buku itu telah dirusak isinya? Sayu ingin tahu.

Pembawa Acara : OK. Sekarang kita kembali pada pertanyaan, apakah ada ayat-ayat dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Alkitab tidak mengalami penyimpangan? Kita telah menyebut ayat-ayat Qur’an yang membuktikan bahwa Alkitab telah diungkapkan dan juga ayat-ayat yang menyebutkan penyimpangan. Dan kita telah membuktikan tidak adanya penyimpangan dalam Alkitab, dan sekarang kita ingin ayat-ayat dari Alkitab itu sendiri yang membuktikan keasliannya.

Bpk. Zakaria : Ini benar-benar sebuah pertanyaan yang sangat penting. Baiklah, dalam Alkitab, kita menemukan dari sekian banyak pernyataan Tuhan Yesus. Dalam Matius 24 : 35, Dia berkata “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu.” Untuk tujuan apapun perkataanKu tidak akan berlalu. Dan dalam pasal 5 : 18, dikatakan: “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari khukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Tidak satu hurufpun. Dalam ayat sebelumnya, dikatakan: “PerkataanKu tidak akan berlalu”, yang dimaksud adalah seluruh perkataan dan kemudian ayat: “tidak satupun iota akan berlalu” dan “tidak satu titikpun dari perkataanKu akan berlalu”. Mengapa demikian? Karena ada peringatan dalam Alkitab.

Pembawa Acara : Ya

Bpk. Zakaria : Peringatan dan hukuman atas penyimpangan. Dalam kitab Wahyu 22 : 18 dan 19, dikatakan: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis didalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus seperti yang tertulis dalam kitab ini.” Siapa yang berani mengurangi dengan resiko dikurangi? Siapa yang mengurangi sesuatu dan siapa yang menambahkan, dengan resiko malapetaka akan ditambahkan kepadanya. Apakah terbayangkan bagi siapa saja yang berani melakukan tindakan semacam itu? Anda mengerti sekarang?

Pembawa Acara : Saya ingin mundur lagi kepada Qur’an, Apakah ada ayat-ayat dalam Qur’an yang membuktikan keaslian Alkitab dan kebebasannya dari penyimpangan? Karena ini sangat penting untuk membuktikan hal ini menurut kitab mereka.

Bpk. Zakaria : Tentu ada banyak ayat dalam Qur’an yang menyatakan bahwa isi Alkitab sempurna dan tetap utuh. Kesaksian yang jelas berdasarkan ayat-ayat seperti: dan dengan maksud untuk mengerti dengan benar, kami harus bertanya: “Apakah Anda ingin mengatakan bahwa penyimpangan, menurut pendapat Anda, terjadi sebelum masa nabi Muhamad atau sesudah masa nabi Muhamad? Kapan itu terjadi? Beberapa mengatakan itu terjadi sebelum masa nabi Muhamad. Tentu saja, kalau tidak, nabi Muhamad tidak akan datang untuk membuatnya benar. OK. Kita lihat apa yang dikatakan Qur’an tentang hal itu. Dalam Surath 5 : 46, “ Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya petunjuk dan cahaya dan membenarkan kitab yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

Pembawa Acara : Apakah Anda akan menjelaskan kata “membenarkan” (mussaddiqal)?

Bpk. Zakaria : Pertanyaan yang bagus. Apa arti dari kata “membenarkan” (mussaddiqal)? Lagi, saya tidak berhak untuk menjelaskan nya sendiri. Kalau tidak, seseorang akan membantah. Jadi mari kita mengambil jalan dengan merujuk kepada ulasan mengenai “untuk membenarkan apa yang telah ada”. Para komentator setuju bahwa Tuhan telah menurunkan kitab dengan kebenaran untuk menegaskan apa yang telah ada dari buku sebelumnya, yaitu menegaskan kitab yang telah ada pada masa nabi Muhamad. Kitab tersebut adalah Taurat dan Injil. Dan kata “melindungi” berarti memberi kesaksian tentang itu. Ini dikutip dari ulasan Al Jalalayn mengenai Surat 5 : 47. Apa lagi yang dikatakan? “Untuk membenarkan apa yang telah ada”, berarti menegaskan kitab yang telah ada pada masa nabi Muhamad; kitab Taurat dan Injil, dan memberi kesaksian atas keasliannya. Dan dalam Surat 3 : 3, dikatakan: “Dia telah menurunkan Kitab kepadamu dengan kebenaran untuk menegaskan apa saja yang telah ada sebelum kitab tersebut. Dia telah menurunkan kitab Taurat dan Injil di masa lalu sebagai petunjuk bagi manusia.” Dikatakan bahwa sebagai petunjuk, tidak dikatakan bahwa kitab itu telah diubah, tetapi untuk menegaskan dan sebagai petunjuk. Apakah itu telah mengalami penyimpangan, dikatakan tidak. Untuk menyingkap adanya penyimpangan, juga tidak. Itu bukanlah petunjuk untuk tujuan seperti itu. Dan dalam Surath 10 : 37, dikatakan: “Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya” Ayat ini mengesahkan keberadaan kitab tersebut. Lalu bagaimana bisa mereka merubah isi kitab tersebut? Hal ini tidak mungkin, dan bagaimanapun ada 12 ayat lain. Tetapi tidak perlu membacakannya. Saya hanya akan memberikan referensi. Dari Alkitab?

Pembawa Acara : Maksud Anda satu ayat yang mengandung kata “membenarkan” (mussaddiqal)?

Bpk. Zakaria : Ya. Menegaskan apa yang telah Dia miliki.

Pembawa Acara : Karena ini benar-benar sering mengalami pengulangan.

Bpk. Zakaria : Ya, Surat 2 : 41, 89, 51 dan 57, Surat 4 : 46, Surat 6 : 92, Surat 12 : 111, Surat 35 : 31, Surat 46 : 22. OK. Apakah Alkitab telah mengalami penyimpangan, akankah semua ayat ini menyatakan dan mengatakan “menegaskan apa yang telah Dia miliki”? Dan memberikan bukti? Anda tahu, terlebih lagi Qur’an benar-benar menjelaskan bahwa Tuhan memerintahkan nabi Muhamad dan memerintahkan kaum Muslim untuk mundur kepada kitab suci Taurat dan Injil. Lalu apakah kitab tersebut telah mengalami penyimpangan, akankah Dia memerintahkan mereka merujuk kepada kitab tersebut? Dan bagaimana Dia memberikan kitab tersebut sebagai rujukan kepada mereka? Saya katakan kepada Anda, Surat 10 : 94, “Jika kamu ragu mengenai apa yang telah kami turunkan kepada mu”, ini ditujukan kepada nabi Muhamad. Jika Saya ragu pada Qur’an, apa yang harus saya lakukan? Bagaimana saya bisa merasa yakin? “Maka bertanyalah kepada mereka yang sudah membaca kitab tersebut sebelum kamu.” Jika kamu meragukan Qur’an, bertanyalah kepada mereka yang telah membaca kitab tersebut sebelum kamu. Kitab yang dimaksud tentu saja adalah Alkitab. Apa maksud semua ini? Dan Qur’an memerintakan Muhamad untuk dibimbing oleh Alkitab dan menyalinnya, meniru para nabi. Dalam Surat 6 : 90, dikatakan “Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab dengan hikmat dan kenabian. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” Ikutilah petunjuk mereka, berarti bahwa Anda harus dibimbing oleh Alkitab dan mengikuti petunjuk Alkitab.

Pembawa Acara : Ya, ada ayat yang lain?

Bpk. Zakaria : Tentu saja ada. Dia juga memerintakan mereka untuk menrujuk kepada orang-orang yang punya pengetahuan. Dalam Surat 16 : 43, “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.”

Pembawa Acara : Orang yang mempunyai pengetahuan adalah orang-orang dari kitab Taurat dan Injil.

Bpk. Zakaria : Ya, dan lagi, sebagai tambahan, nabi Muhamad mengutip kitab Taurat dan Injil, yang ada pada masanya, yang membuktikan keaslian kitab tersebut. Dalam Surat 28, dia mengatakan, “Katakanlah: Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih dapat memberi petunjuk daripada keduanya, niscaya aku mengikutinya.“ Dan dalam Surat 5 : 68 dikatakan: “Katakanlah: Hal Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil.” Apakah kedua kitab tersebut telah dirusak? Lalu mengapa nabi Muhamad berkata pada meeka untuk merujuk kepada kitab Taurat dan Injil? Benar, bukan? Surat 5 : 45, “Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat, yang didalamnya ada hukum Allah?”

Pembawa Acara : Ini adalah sebuah diskusi yang sangat panjang dan saya dapat melihat bahwa ayat-ayat yang diberikan sangat banyak. Kita akan melanjutkan diskusi kita pada episode mendatang. Di akhir episode ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Pendeta atas penjelasannya. Pemirsa yang saya kasihi, saya ulangi lagi, silahkan Anda mengirimkan kepada kami pertanyaan-pertanyaan Anda dan bila Anda menginginkan Alkitab, kami akan mengirimkannya ke alamat Anda. Terima kasih dan sampai jumpa.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment