Sunday, January 24, 2010

Conv 7 - Batu Sandungan mengenai Salib Dijelaskan Kepada Muslim

Bagaimana Kita Bisa Membawa Penebusan Yesus Kristus Kepada Orang-Orang Muslim?
Penolakan Islam terhadap kematian Kristus bagi penebusan

Siapa pun yang menceritakan tentang Yesus kepada seorang Muslim, serta keselamatan yang Ia telah selesaikan, dapat mencapai sebuah titik dalam percakapannya dimana Muslim tidak lagi mau menjawab, melainkan tersenyum dengan diam-diam. Tanyakan alasan mengapa ia tersenyum, dan ia mungkin akan menjawab sebagai berikut:

• Kamu orang-orang Kristen mengikuti sebuah khayalan belaka! Kamu telah disesatkan! (Sura al-Fatiha 1:7). Putra Maryam tidak dibunuh dan juga tidak disalibkan (Sura al-Nisa' 4:157), tetapi sebaliknya, Allah telah mengangkatNya kepada diriNya (Allah) sendiri (Sura Āl 'Imran 3:55; al-Nisa' 4:158). PenyalibanNya sesungguhnya tidak pernah terjadi.

• Muslim lainnya mengklaim bahwa Allah adalah adil. Maka Ia menyelamatkan Kristus yang tidak bersalah dari penganiayaan di atas salib. Sebaliknya, Ia membiarkan Yudas, si pengkhianat, untuk disalibkan (Sura al-Nisa' 4:157). Bahkan hingga hari ini orang-orang Muslim masih meyakini bahwa pendapat inilah yang benar.

• Siapa pun yang memperdalam pengetahuannya mengenai alasan-alasan terhadap penolakan atas penyaliban Kristus di dalam Qur’an, akan menemukan sepertiga argumen yang keluar dari kantung penipuan sesungguhnya berasal dari Bapa Pendusta: Tak seorang pun manusia, berdasarkan Qur’an, dapat dianggap sebagai orang yang mengangkat dosa-dosa orang lain di hadapan penghakiman Allah (Sura al-An'am 6:154; al-Isra' 17:15; al-Fatir 35:18; al-Zumar 39:3; al-Najm 53:38), sebab setiap orang harus memohonkan pengampunan atas dosa-dosanya sendiri kepada Yang Maha Kudus. Berdasarkan Islam, semua korban sebagai pengganti adalah hal yang mustahil.

• Keempat argumen melawan kemungkinan penyaliban Kristus, berdasarkan Qur’an adalah: Allah tidak membutuhkan seorang mediator, tidak membutuhkan korban darah/nyawa, domba dan penggantian untuk pengampunan dosa. Ia adalah Tuhan yang Maha Kuasa, Ia mengampuni siapa pun yang Ia inginkan, dan menyesatkan siapa pun yang Ia inginkan (Sura al-An'am 6:39; al-Ra'd 13:27; Ibrahim 14:4; al-Nahl 16:93; al-Fatir 35:8; al-Muddathir 74:31). Jika Allah menggodai seseorang, tak ada seorang pun yang bisa menolongnya (Sura al-Nisa' 4:88,143; al-A'raf 7:178,186; al-Ra'd 13:33; al-Isra' 17:97; al-Kahf 18:7; al-Zumar 39:23,36; Ghafir 40:33; al-Shura 42:44,46).

• Argumen kelima, muncul melalui penemuan-penemuan dari dunia bawah, melawan pentingnya kematian Yesus bagi penebusan, merupakan hal yang paling persisten. Banyak Muslim yang menganggap diri mereka cukup baik untuk mencapai pembenaran melalui usaha-usaha mereka sendiri (Sura Hud 11:114). Mereka percaya bahwa perbuatan baik mereka akan menghilangkan perbuatan jahat. Mereka berharap untuk diselamatkan, jika mereka memenuhi semua kewajiban-kewajiban yang diperintahkan dalam syariah (hukum Islam). Karena itu, mereka berpikir bahwa mereka tidak membutuhkan seorang penebus dan juga sebuah salib. Keyakinan Islamik adalah sebuah warisan tak langsung dari orang-orang Yahudi dari kelompok Farisi.

• Para hakim agama di antara orang-orang Muslim mengklaim bahwa Allah sebelumnya telah menetapkan nasib setiap manusia, yaitu ketika setiap individu masih ada dalam kandungan ibu mereka, dan adalah hal yang mustahil untuk merubah apa yang telah Allah tetapkan. Mereka meyakini bahwa tak ada yang terjadi dalam hidup seseorang, kecuali apa yang telah dituliskan mengenai dia dalam sebuah buku yang ada di surga. Mereka melihat tidak ada perlunya bagi seseorang untuk disalibkan dan mengalami kematian sebagai korban bagi orang lain.

• Kebanyakan Muslim tidak sadar dengan argumen-argumen yang berbeda. Namun demikian, sebagai rangkuman dari poin-poin ini, ada sebuah konsensus kultural dalam masyarakat Islamik, bahwa salib Kristus adalah sesuatu yang tabu bagi semua Muslim. Mereka berpikir bahwa salib adalah sebuah cover untuk semua jenis politik dan religius para crusader (tentara perang salib), yang ingin menghancurkan kekuatan dan budaya dari negara-negara Islamik.

Kebencian terhadap salib dari Penebus kita telah berakar dalam sebuah ikatan kolektif, yang tidak bisa diatasi hanya dengan logika saja. Tidak akan banyak menolong saat berusaha membuktikan fakta atau arti dari salib Kristus secara intelektual. Kita harus berdoa untuk mereka, supaya mereka menyadari kebenaran dan meyakininya. Roh anti-Kristen ini harus dikalahkan dan diusir dalam nama Yesus Kristus dan melalui kasih Tuhan!
Jika kita memikirkan penolakan dari penyaliban, pemelintiran dan kebohongan-kebohongan yang kompleks, termasuk kebencian kolektif terhadap Yesus Sang Juru Selamat, seseorang bisa dengan mudah merasa putus asa ketika berusaha membawa keselamatan yang telah diselesaikan oleh Kristus, kepada orang-orang Muslim. Namun siapa pun yang mengakui janji-janji dalam Perjanjian Lama sebagai sebuah persiapan ilahi untuk keselamatan, dan tidak meninggalkan realitas dalam Perjanjian Baru, dan jika ia mengambil sumber-sumber sekular atau ayat-ayat yang bersifat kontradiktif dalam Qur’an ketika merujuk pada penyaliban Kristus, orang-orang ini bisa bersaksi bersama-sama dengan rasul Paulus dengan keyakinan dan kepastian:

“Sebab itu, setelah dibenarkan oleh iman, kita memiliki damai sejahtera dengan Elohim melalui Tuhan kita YESUS Kristus.” (Roma 5:1, ILT)

Kelima sumber kebenaran ini lebih kuat dibandingkan tujuh penyangkalan dari orang-orang Muslim. Marilah kita, sambil berdoa, memproklamirkan kemenangan Kristus di atas salib kepada dunia Islam.

I. Janji mengenai kematian bagi penebusan dari Mesias di Perjanjian Lama

Banyak orang Muslim yang percaya mengenai predeterminasi (Tuhan sudah menentukan terlebih dahulu) dari segala sesuatu. Siapa pun yang bisa menunjukkan kepada mereka fakta bahwa berdasarkan Taurat, kitab Mazmur (Zabur) dan Kitab Para Nabi; telah dinubuatkan bahwa Penebus yang dijanjikan harus mati di atas kayu salib untuk menggantikan kita yang sebenarnya harus mati di sana oleh karena dosa-dosa kita. Dengan mengakui penggenapan yang sangat akurat dari nubuatan-nubuatan ini melalui hidup Kristus, kita bisa menolong orang-orang Muslim untuk percaya bahwa Yesus mati di kayu salib. Kita harus mempelajari ke-333 janji dalam Perjanjian Lama dan penggenapannya di Perjanjian Baru, agar kita bisa menyesuaikan diri dengan keyakinan Muslim tentang predeterminasi. Yesus sendiri sudah mengalahkan Setan dan beberapa kali keragu-raguan yang dirasakan oleh murid-muridNya dengan berkata: “Ada tertulis!” (Matius 4:4,6-7; Lukas 18:31; 21:22;24:46; Yohanes 5:46 dan ayat-ayat lainnya)

Musa meninggikan/mengangkat ular
Yesus menjelaskan manfaat dan tujuan yang tidak bisa dihindarkan dari kematianNya di kayu salib kepada Nikodemus, seorang yang takut Tuhan dan merupakan anggota dari Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin), dengan menunjukkan kepada sebuah laporan di dalam Taurat:
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian pulalah seharusnya Anak Manusia ditinggikan. (John 3:15)

Dengan contoh ini, Yesus merujuk pada ular yang terbuat dari besi yang dipersiapkan Musa sesuai dengan perintah Tuhan, dan yang harus ia taruh pada sebuah galah/tongkat. Setiap orang yang sedang ketakutan, dan kemudian memandang pada “simbol kejahatan” ini, dengan segera disembuhkan meski mereka telah digigit oleh seekor ular.
Mengapa Yesus membandingkan diriNya dengan ular yang hampir selalu dianggap sebagai perlambang dari semua yang jahat (Kejadian 3:1-15)? Dalam kasihNya, Yesus menyerap dosa-dosa dari semua orang berdosa, sehingga Ia terlihat sama seperti Seorang Yang Jahat meski tetap kudus, sebagaimana yang ditulis oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus: Sebab, Dia yang tidak mengenal dosa, demi kita Dia telah menjadi dosa, supaya kita dapat menjadi kebenaran Elohim di dalam Dia. (2 Corinthians 5:21)
Yesus menekankan bahwa tidak ada kemungkinan lain bagi keselamatan mereka yang telah disesatkan oleh si Jahat, kecuali melalui kematianNya untuk menggantikan tempat mereka. Dia rela dan harus menderita di atas kayu salib bagi dosa-dosa semua orang berdosa, untuk menggantikan kita.

Yesus – Anak Domba Paskah
• Tuhan kita melaksanakan perayaan Paskah tradisional dengan murid-muridNya untuk menyatakan bahwa Ia sendirilah Anak domba Paskah yang diberikan oleh Tuhan. Ia memperluas cakupan liturgi perjamuan dan menjelaskan kepada murid-muridNya bahwa janji-janji Paskah akan digenapi melalui kematianNya yang semakin dekat (Matius 26:26)

• Tepat setelah penyembelihannya, darah dari anak domba sulung disapukan di atas ambang pintu rumah setiap orang Israel yang saat itu tengah diperbudak di Mesir. Tujuannya adalah supaya murka dan penghukuman Tuhan melewati mereka. Dengan cara yang sama, setiap orang yang meletakkan dirinya dan keluarganya di bawah perlindungan darah Kristus, akan diselamatkan dari murka dan penghukuman Tuhan. Muslim memiliki sebuah pengertian yang tidak jelas mengenai rahasia ini, sebab mereka meyakini bahwa darah dari binatang-binatang yang disembelih bisa melindungi mereka (Keluaran 12:7,13,22-23; Kisah Para Rasul 16:31).

• Sama halnya seperti anak-anak Yakub harus makan daging domba Paskah yang telah dipanggang di rumah-rumah mereka, agar mereka mendapatkan kekuatan untuk keluar dari perbudakan; dengan cara yang sama Yesus Kristus, anak domba Paskah sejati, ingin diam di dalam mereka yang mengikutiNya, dan menguatkan mereka untuk lari dari perbudakan dosa dan Setan (Keluaran 12:3-6, 8-11, 43-48; Matius 26:26; Yohanes 6:35, 48-59).

• Sebagaimana halnya tidak ada pengampunan tanpa pencurahan darah (Imamat 17:11, Ibrani 9:22), salah satu tujuan dari anak domba Paskah yang kekal yaitu Yesus adalah, penebusan dosa secara total bagi mereka yang membuka diri mereka bagi pembersihan melalui darahNya, yaitu jika mereka mempercayai pengorbananNya dan bersyukur atas kuasa darahNya (Ibrani 10:`14).

• Yesus menyebut darah yang ia tumpahkan sebagai darah perjanjian (Kejadian 24:4-8; Matius 26:27-28), yang olehnya Ia mengikatkan diriNya untuk selama-lamanya kepada gerejaNya. Siapa pun yang masuk ke dalam perjanjian yang dimeteraikan dengan darah ini melalui iman, akan menjadi kudus, sebagaimana Tuhan sendiri adalah kudus (Imamat 11:44). Ia harus mengasihi sebagaimana Yesus mengasihi (Yohanes 13:34), dan mengampuni setiap orang sebagaimana Tuhan telah mengampuninya (Matius 6:12, 14-15).
Kita harus menolong orang-orang Muslim untuk memahami bahwa Perjamuan Tuhan adalah penggenapan dari perjamuan Paskah dalam Perjanjian Lama. Siapa pun yang percaya pada anak Domba Elohim akan dimurnikan dari semua dosa-dosanya dan dapat mengalami Yesus yang hidup di dalam dia.

Mazmur (Zabur) Penderitaan
Mazmur 22 adalah sebuah detil nubuatan yang menggambarkan penderitaan Kristus di atas kayu salib. Ayat-ayat ini diinspirasikan kepada Daud sekitar tahun 1000 BC. Prediksi dan penggenapannya yang sangat akurat menunjukkan bahwa ada sebuah tujuan ilahi dan sebuah manfaat yang tidak bisa dielakkan di balik penyaliban Yesus.
Ada lebih dari sepuluh nubuatan mengenai penderitaan Kristus di atas kayu salib dalam mazmur ini. Setiap orang yang mau, bisa mendapatkan bimbingan untuk memahami dan meyakininya dengan memperbandingkan ayat-ayat ini dan penggenapannya dalam kematian Yesus di atas kayu salib:

Siapa pun yang menganggap bahwa nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama ini adalah mengenai kematian Tuhan kita Yesus Kristus di atas kayu salib, akan memahami:

● Bagaimana jiwa Yesus yang penuh kasih dan sensitif atas kebutuhan orang lain telah menderita ketika umatNya tidak mengenaliNya, melainkan menghina dan mengolok-olok Dia! Di Timur Tengah, menjadi bahan hinaan seringkali dianggap lebih buruk dibandingkan kematian!

● Bagaimana tubuhNya hampir-hampir hancur berkeping-keping dengan kesakitan yang luar biasa, tetapi Ia tidak berkeluh-kesah.

● Bagaimana RohNya harus menderita ketika Yahweh BapaNya meninggalkanNya demi dosa-dosa kita! Kita tidak mungkin bisa mengukur kedalaman jeritanNya, “ElohimKu, ElohimKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mazmur 22:2)

Tampaknya tidak bisa terpikirkan bagi sejumlah komentator, bahwa Tuhan benar-benar meninggalkan Anak satu-satunya! Tetapi Yesus tidak berdusta. Ia berkata: “Engkau telah meninggalkan Aku!”
Logika manusiawi memprotes: Jika Tuhan meninggalkanNya, ini pastilah merupakan tanda bahwa Yesus telah berdosa!
Alkitab menjawabnya: Ia yang tanpa dosa telah mengangkat semua dosa-dosa kita. Dosa seluruh dunia telah ditanggungkan atasNya. Karena dosa kitalah, Tuhan telah meninggalkanNya.

Beberapa orang mencoba untuk berkompromi dan berkata, Bapa hanya menyembunyikan wajahNya dari Anak dan terlihat sebagai seorang Hakim kepadaNya karena dosa-dosa kita.
Tetapi Alkitab berkata: Tuhan benar-benar meninggalkanNya! Persatuan di antara Trinitas Kudus telah terbagi dan dirusak. Ini artinya neraka! Ini adalah permulaan dari awal untuk memasuki kegelapan. Matius dan Markus melaporkan hanya satu dari ketujuh perkataan-perkataan Yesus di atas salib. Jeritan ini masih merupakan sebuah batu sandungan bagi gereja. Namun demikian, perkataan ini mengekspresikan lebih dari perkataan-perkataan Yesus lainnya, bahwa keselamatan kita telah menjadi sempurna!
Yesus pertama-tama mengakui: “ElohimKu! ElohimKu!” Yakub bergulat dengan Tuhan di tepi sungai Yabok, dan Tuhan ingin meninggalkannya. Tetapi Yakub tidak membiarkan Tuhan pergi, meski pada kenyataannya ia benar-benar merasa bersalah atas dosa-dosanya. Ia berseru, “Aku tidak akan membiarkan Engkau pergi, kecuali Engkau memberkati aku!”
Melalui imannya, Yakub berhasil mengalahkan penghakiman Tuhan dan menerima berkatNya (Kejadian 32:23-32). Pada level yang lebih tinggi, Yesus tidak membiarkan Tuhan yang menghakimi untuk pergi. Ia melekat kepada BapaNya, kendati BapaNya telah meninggalkanNya. Tetapi dengan iman, Ia tidak membiarkan BapaNya pergi. Ia berseru dan berdoa,”Tuhanku! Engkau tetap menjadi TuhanKu – kecuali Engkau menyelamatkan para pengikutKu!” Iman dari Anak kepada kasih dan kesetiaan BapaNya mengalahkan penghakiman Tuhan. ImanNya adalah kemenangan yang telah mengalahkan dunia (1 Yohanes 5:4). Melalui imanNya, kita telah diselamatkan (Yohanes 16:33)!

Setelah pergulatannya dengan Tuhan yang Maha Kuasa, Yakub menerima sebuah nama baru: Israel! Nama ini mengandung arti: Ia telah bergulat dengan Tuhan dan ia menang. Yesus adalah Israel yang benar dan sejati! Ia bergulat dengan Tuhan bagi keselamatan manusia dan menang melalui imanNya! Ia berpegang kuat pada BapaNya, bahkan dalam keputus-asaan ketika Ia berada jauh dari BapaNya. Ia berdoa beberapa saat sebelum kematianNya: “Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan rohKu!” (Lukas 23:46), meskipun Ia tak bisa lagi melihat Bapa.
Jika anda merenungkan janji-janji dalam Perjanjian Lama dan melihat penggenapannya di dalam Perjanjian Baru, anda bisa menyadari bahwa Perjanjian Lama telah memasukkan ke dalamnya esensi dari Perjanjian Baru.

Hamba Tuhan Yang Menderita
Kemungkinan, janji yang paling penting mengenai kematian Yesus sebagai pengganti/substitusi di dalam Perjanjian Lama telah dinyatakan kepada Yesaya, nabi penebusan. Kami menyarankan kepada semua pembaca dari buklet ini untuk menghapalkan teks unik dari pewahyuan ini. Dari situ anda bisa memperoleh kekuatan yang besar bagi jiwa anda, sebuah penghiburan yang kekal dan menemukan sebuah jawaban sempurna atas penolakan Islamik terhadap salib.

Sesungguhnya, dia telah menanggung penyakit dan penderitaan kita, dia telah memikulnya, tetapi kita menganggap dia kena kutuk, dihajar dan didera Elohim.
Namun, dia ditikam karena pemberontakan kita, diremukkan karena kejahatan kita. Ganjaran demi keselamatan kita menimpa atasnya, dan melalui bilurnya dia telah menjadi kesembuhan bagi kita.
Seperti domba, kita semua telah tersesat, kita masing-masing telah berbalik menurut jalannya sendiri, tetapi YAHWEH telah menimpakan kepadanya kejahatan kita semua.
(Yesaya 53:4-6)

Ketiga ayat ini adalah inti dari keseluruhan pasal. Seorang pelajar Muslim di Casablanca dianjurkan untuk membaca pasal ini di hadapan teman-temannya dan kemudian ditanya apa yang ia pikirkan mengenai orang yang dibicarakan dalam pasal ini. Ia menjawab, setelah merenung beberapa saat: “Jika cerita ini benar, maka pastilah orang ini memiliki kasih yang sangat agung!” Anak muda Muslim ini telah memahami rahasia Injil!

Mengapa anak Muslim ini tidak menolak deskripsi yang sebenarnya berbicara mengenai penderitaan dan kematian Yesus? Alasannya adalah bahwa ia tidak tersandung dengan kata-kata seperti “salib”, “Putera Tuhan”! Kedua kata itu tidak dicatat dalam teks ini. Itulah sebabnya ia tidak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi di kayu salib. Yesaya 53 berbicara mengenai hamba Yahweh yang menderita dan mati dalam penghakiman Tuhan sebagai sebuah pengganti bagi umatNya yang berdosa. Filipi 2:7 menegaskan kesaksian ini, sebagai refleksi dari pengakuan Yesus, yang menyebut diriNya hamba dari semua orang (Matius 10:28; 2 Kor 8:9; Ibrani 2:14,17).

Apa yang bisa disampaikan oleh Yesaya 53 kepada semua Muslim?
Yesus sangat merendahkan diriNya sendiri dan menanggung semua sakit, perbuatan salah, dosa, kejahatan, egoisme kita, dan menanggung hukuman kita di hadapan penghakiman Tuhan. Tuhan sendiri melemparkan semua dosa-dosa kita pada Kristus. Karena dosa-dosa kita, Ia dipukul, disiksa, dilukai, dan akhirnya dihancurkan dan dibunuh.

Sebagai hasilnya, kita diperdamaikan dengan Tuhan dan semua luka-luka kita menjadi sembuh sebab Ia sudah menanggung semuanya. Pengorbanan diri yang Ia lakukan sebagai pengganti telah diselesaikan dengan sempurna, dijamin, aman serta sah untuk selama-lamanya.
Anak Domba Tuhan yang disiksa akan memiliki banyak keturunan dan akan menyelesaikan rencana keselamatan Tuhan – juga diantara orang Muslim dan Yahudi. Ia akan menyelamatkan banyak dari mereka dari dosa-dosa mereka dan akan menaklukkan bahkan yang paling kuat.

Jika anda menghapal keseluruhan pasal 53 kitab Yesaya, dari ayat 1-12, anda akan memperoleh sebuah perlengkapan yang kuat untuk memproklamirkan kemenangan Yesus terhadap Islam! Teks ini harus didistribusikan, dipresentasikan secara rapi dan diprint sebagai sebuah poster (tanpa sebuah salib dan tanpa ungkapan “Putera Tuhan”). Dengan cara ini, ia bisa menyingkirkan dari dalam, penyangkalan akan penyaliban Kristus.

Ayat-ayat lainnya mengenai penyaliban Mesias dalam perjanjian Lama
Mencari janji-janji dan nubuatan-nubuatan mengenai kematian Yesus dalam Taurat, Mazmur dan kitab-kitab nubuatan, maka anda bisa menemukan beberapa ayat serta penggenapannya dalam Perjanjian Baru:
 Tuhan menyembelih binatang dan menumpahkan darahnya di Firdaus untuk menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa (Kejadian 3:21)

 Anak Hawa akan menghancurkan kepala ular dengan tumitnya dan akan digigit dengan bisa si ular (Kejadian 3:21, Wahyu 12:4,5,15-17).
 Orang yang tergantung di kayu salib ada di bawah kutuk Tuhan (Ulangan 21:22, 23; Kisah Para Rasul 5:30)!

 Mereka memberikanNya anggur asam untuk diminum (Mazmur 69:22; Matius 27:33; Yohanes 19:29).

 Ke dalam tanganmu kuserahkan RohKu (Mazmur 31:6; Lukas 23:46).
 Tirai Bait Suci terbelah dua (Keluaran 26:31-33; Matius 27:51).
 Tak ada tulang-tulangnya yang akan dipatahkan (Keluaran 12:46; Yohanes 19:33-34).
 Mereka memandang kepadaku, orang yang telah mereka tikam (Zakariah 12:10; Yoh 19:37; Wahyu 1:7).

Lima Puluh Keping Perak dalam Perjanjian Lama
Dalam kitab nubuatan terakhir, ada sebuah deskripsi yang aneh mengenai lima puluh keping perak yang diterima oleh Yudas ketika ia mengkhianati Yesus (Matius 26:14-16).

Dan aku berkata kepada mereka, “Sekiranya baik menurut pandanganmu, berikanlah upahku, tetapi jika tidak, tahanlah!” Maka mereka membayar upahku, tiga puluh keping perak.
Namun, YAHWEH berfirman kepadaku, “Serahkanlah itu kepada tukang periuk!” Oleh karena aku telah dihargai oleh mereka dengan harga tinggi, maka aku mengambil ketiga puluh keping perak itu dan menyerahkannya kepada tukang periuk di bait YAHWEH (Zakharia 11:12-13)

Dalam teks ini, Yahweh, Tuhan dari perjanjian berkata,”Ketiga puluh keping perak adalah harga yang mereka bayarkan untukKU!”
Apakah Yesus adalah Yahweh? Apakah Tuhan dari Perjanjian menjadi seorang manusia dalam Yesus Kristus (Yesaya 40:3-5; 60:1-2; Lukas 2:11, dan sebagainya)? Pengkhianatan yang Ia alami melalui Yudas untuk tiga puluh keping perak telah diwahyukan kepada Zakhariah lama sebelum peristiwa itu terjadi!

Sebuah kebenaran yang kekal tersembunyi dalam teks-teks di Perjanjian Lama, dan dalam ayat-ayat yang sesuai di Perjanjian Baru, yang menyaksikan kematian Yesus di atas kayu salib. Setiap orang yang ingin mempelajarinya akan bisa memahaminya. Panggilan spesial di kitab terakhir dalam Alkitab juga ditujukan kepada orang-orang Muslim dan Yahudi: “Siapa yang mempunyai telinga, biarlah dia mendengarkan apa yang Roh katakan kepada gereja-gereja. (Wahyu 2:7 dan sebagainya).


II. Penyaliban Yesus Kristus di Perjanjian Baru

Sayangnya banyak Muslim yang ragu untuk menerima laporan dari penderitaan Kristus dan kematianNya di kayu salib sebagai kebenaran historis. Mereka tersenyum dan berpikir: Orang-orang Kristen yang malang! Maksud mereka baik, tetapi mereka terhilang di padang gurun imajinasi-imajinasi dan khayalan-khayalan mereka. Mereka melihat tiga Tuhan dan bukannya satu dan membayangkan satu dari Tuhan itu disalibkan! Kebanyakan orang Muslim yakin bahwa Kristus tidak disalibkan.

Namun demikian, tidak semua Muslim berpikir sangat radikal. Beberapa dari mereka bersedia mendengarkan laporan-laporan dari penyaliban Yesus atau menontonnya dalam sebuah film. Dua orang Muslim menonton film Campus Crusade mengenai hidup Yesus. Setelah itu, seorang daripadanya berkata kepada temannya: “Mengapa sheikh (pemuka agama) kita selalu mengklaim bahwa Yesus tidak disalibkan?” Dengan mataku sendiri aku melihatNya tergantung di kayu salib dan mati!” Kapan saja memungkinkan, kita harus membuka satu dari keempat kisah penyaliban Yesus yang ada dalam Injil, dan meletakkannya di tangan orang Muslim yang tertarik, supaya mereka bisa membacanya sendiri dengan keras dan bertemu dengan Yesus melalui ayat-ayat itu.

Yesus memperkenalkan diriNya:
Bahkan sebagaimana Anak Manusia datang tidak untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan jiwa-Nya sebagai harga tebusan ganti banyak orang (Matius 18:11; 20:28; 26:63-64)

Sekitar 80 kali di keempat Injil, Yesus menyebut diriNya “Anak Manusia”. Meskipun Ia, melalui ekspresi ini, terlihat sebagai Tuhan dan hakim dunia berdasarkan Daniel 7:13-14, Ia pada saat yang sama menekankan kemanusiaan dan inkarnasiNya sebagai seorang hamba yang rendah hati. Dengan melakukan hal ini, Ia menjungkirbalikkan standard semua budaya: Yang pertama harus menganggap dirinya sebagai yang terakhir, dan yang terakhir dijanjikan akan menjadi yang pertama. Yang paling agung harus membungkuk dan menjadi yang paling rendah, dan yang menderita akan diangkat oleh Tuhan dengan kasihNya (Matius 20:26-27; 23:11-12; Markus 9:35; 10:44; Lukas 22:26-27).

Setiap orang yang mengikuti Yesus akan menjadi seorang pelayan, bukan seorang tuan! Ini adalah sebuah pemikiran baru, sepenuhnya berlawanan dengan pemikiran Islamik. Tuhan kita adalah Tuhan yang rendah hati, tetapi Allah dalam Qur’an adalah Tuhan yang bangga dengan diriNya (Sura al-Hashr 59:23). Garis Islamik secara terus-menerus meninggikan dirinya, garis Kristus dan para pengikutNya secara terus-menerus merendahkan dirinya. Salib Kristus menuntut sebuah perubahan pada perilaku kita, sebab jika tidak maka perilaku kita akan menyebabkan kita tersandung.

Dalam Islam, seorang teroris yang siap untuk mengorbankan dirinya untuk membebaskan negaranya seringkali disebut sebagai seorang “penebus” (fida’i). Kristus adalah Sang Penebus sejati (faadi) yang telah mengorbankan hidupNya untuk membebaskan semua orang yang mengikutiNya, dari penghakiman Tuhan, dari kuasa dosa, dari tipu daya Setan yang licik, dan dari kematian kekal. Yesus membeli kemerdekaan kita dari semua kuasa-kuasa negatif yang telah membutakan kita. Ia adalah hamba dari orang-orang yang dicemoohkan dan yang telah menebus hamba-hamba Setan. Kasih dan kerendahan hati Kristus adalah kunci untuk memahami kematianNya di kayu salib.

Manfaat absolut bagi penderitaan Kristus
Beberapa ayat dalam Injil yang merefleksikan sebuah kritik mengenai salib bisa menolong para Muslim yang kritis!
Setelah kesaksian Petrus (Matius 16:16), Yesus menghargai sang juru bicara dari murid-muridNya. Tetapi Ia ingin memperdalam pandangannya mengenai seorang Mesias yang memerintah, kepada realitas dari hamba Tuhan yang menderita. Ia menyatakan kepadanya bahwa Ia akan pergi ke Yerusalem, untuk menderita, dan untuk mati di sana agar Ia bisa dibangkitkan pada hari yang ketiga (Matius 16:21).

Namun Petrus menjadi takut. Ia berpikir bahwa Yesus tengah menderita depresi, dan coba membesarkan hatiNya: “Kiranya Tuhan melindungi Engkau dari hal yang jahat seperti itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau!” (Matius 16:22). Yesus memandang kepadanya dengan tatapan yang tajam dan menyebutnya Satan(!), dan berkata: “Enyahlah ke belakang-Ku, hai Satan! Engkau adalah sandungan bagi-Ku, karena engkau tidak memikirkan perkara-perkara Elohim, melainkan perkara-perkara manusia.” (Matius 16:23)

Bagaimana bisa terjadi perubahan mendadak dalam percakapan antara Yesus dengan juru bicara dari murid-muridNya ini? Petrus mencoba untuk menghalangi penyaliban Yesus, yang sebenarnya merupakan goal dan tujuanNya sehingga Ia menjadi seorang manusia. Yesus sanggup membedakan antara suara Setan dengan kata-kata dari seorang rasul yang jelas dimengerti, karena tak ada yang paling dibenci oleh Setan kecuali salib dari Putera Tuhan, tempat dimana ia sepenuhnya dikalahkan.

Kata-kata teguran yang sama juga bisa diarahkan kepada Muhammad, yang membiarkan Allah melakukan apa pun untuk menyelamatkan Putera Maria dari penyalibanNya.
Yesus tiga kali menjelaskan kepada murid-muridNya bahwa alasan kedatanganNya adalah untuk menjalani penderitaan dan kematianNya yang tidak bisa dihindari (Matius 16:21; 17:22-23; 20:17-18):
“Lihatlah, kita sedang naik ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan para ahli kitab, dan mereka akan menghukum Dia dengan kematian.
Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa lain, untuk memperolok-olok dan mencambuki dan menyalibkan, dan pada hari yang ketiga Dia akan bangkit kembali.”

Semakin jauh Yesus mendekati Yerusalem, semakin sadar Ia akan detil-detil dari penderitaan dan kematianNya, termasuk kebangkitanNya. Ia sesungguhnya lebih dari sekedar seorang nabi, Ia adalah Firman Tuhan dalam wujud manusia. Ia selalu berbicara dengan BapaNya di Surga, yang dengan akurat menyatakan kepadaNya peristiwa-peristiwa yang akan datang.

Pikiran seorang manusia normal mungkin akan menolak: “Jika Yesus mengetahui semuanya ini, mengapa Ia tidak lari saja keluar negeri atau bermigrasi; seperti Muhammad yang pergi meninggalkan Mekah menuju Medinah? Mengapa Yesus tidak bersembunyi atau menyembunyikan diriNya?” Sebuah manfaat ilahi mengendalikanNya! Ia tahu bahwa tak ada keselamatan bagi manusia tanpa kematian yang Ia lakukan demi orang lain. Ia mentaati kehendak dari BapaNya di surga hingga kematianNya! Manfaat ini kelihatannya sesuatu yang aneh dan menjijikkan bagi Muslim!

Yesus di Getsemani
Yesus merasa ragu, meratap dengan pahit dan sangat sedih saat kematianNya semakin mendekat, ketika Ia tengah berdoa di Bukit Zaitun di bawah tembok Yerusalem. Murid-muridNya tertidur, dan tidak bisa menolongNya dengan permohonan mereka. Namun Ia berdoa: “Bapa-Ku, jikalau mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku, tetapi bukan sebagaimana Aku menghendaki, tetapi sebagaimana Engkau! (Matius 26:39)
Yesus, jiwa dan tubuhNya telah menyusut karena murka Tuhan yang akan ditimpakan di dalam kematianNya. Namun Putera Tuhan di dalam diriNya mengalahkan kehendak daging dan menyerah dengan setia kepada kehendak Dia yang mengasihiNya. Salib Yesus bukanlah sebuah piknik, bukan pula sebuah manajemen kesenangan bersama, tetapi sebuah pertempuran antara Surga melawan Neraka. Yesus menerima kehendak tertinggi dari BapaNya dan berdoa untuk kedua dan ketiga kalinya: “Bapa-Ku, jika tidak mungkin cawan ini berlalu dari pada-Ku, kecuali Aku meminumnya, biarlah kehendak-Mu terjadi.” (Matius 26:42)

“Islam” sejati atau penyerahan total terlihat jelas dalam pertempuran doa yang dilakukan oleh Yesus. Tak ada seorang pun yang memaksaNya untuk menyerah pada kehendak BapaNya; Ia didorong oleh keyakinan kepada kasih yang tak tergoyahkan di dalam bimbingan spiritual sempurna dari BapaNya.
Kegagalan para murid dan kesabaran Yesus
Para murid telah melalui Sekolah Alkitab terbaik yang ada di dunia dengan training praktis di hadapan guru terbaik yang pernah ada. Ketika ujian tiba, sementara Yesus ditangkap, semua mereka gagal dalam ujian akhir itu. Mereka lari ke dalam kegelapan malam! Petrus memotong telinga dari seorang tentara dengan pedangnya, dan kemudian menyangkali kalau ia mengenal guru dan Tuhannya, bahkan dengan bersumpah (Matius 26:56,69-75).
Bagaimana Yesus bereaksi? Bagaimana Dia memberikan ujian ulang atas kegagalan murid yang Ia kasihi? Ia berdoa bagi mereka ketika Ia tengah digantung di kayu salib: “Ya Bapa, ampunkanlah kepada mereka, sebab mereka tidak tahu mereka berbuat apa.” (Lukas 23:34). Ia menyelesaikan keselamatan dunia sendirian dan berseru di akhir dari penderitaanNya: “Sudah selesai!” (Yohanes 19:30)
Pada momen ini, Ia juga mengadakan pembenaran terhadap murid-muridNya yang sudah gagal, tanpa mereka mengetahuinya. Ia menyelamatkan seluruh dunia, termasuk semua orang-orang Yahudi dan Muslim, dengan keselamatanNya. Yesus tidak perlu sekali lagi mati bagi orang-orang Muslim dan Yahudi. Ia mengasihi semua orang, termasuk mereka yang membenci Dia. Ia juga menantikan mereka untuk datang padaNya.
Perwira Roma yang bertanggungjawab ingin memastikan bahwa “Raja Orang Yahudi” benar-benar sudah mati dan menikamkan tombak pada tulang rusuk sebelah kanan hingga mengenai jantungNya. Tikaman tombak ini sebenarnya sudah cukup untuk membunuh Yesus. Tetapi siksaan di kayu salib sudah mencapai sasarannya. Tikaman tombak sendiri menjadi bukti bahwa Yesus benar-benar mati. Tetapi bagaimana Muhammad bisa mengatakan, ”Mereka tidak membunuhNya! Mereka tidak menyalib-kanNya! Tetapi yang mereka bunuh adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka?” (Sura al-Nisa' 4:157)
Ketika Yesus telah bangkit dari kematian dan terlihat dalam tubuh spiritual kepada murid-muridNya yang tengah bersembunyi di balik pintu yang terkunci karena takut, Ia tidak menegur mereka karena melarikan diri, tetapi memberikan salam pada mereka, ”Damai Sejahtera bagi kamu!” (Yoh 20:19). Saat mereka belum memahami bahwa itu benar-benar adalah Dia, ia menunjukkan pada mereka luka-lukaNya yang ada di tangan dan kaki yang dipaku, serta luka yang ada di lambungNya (Yoh 20:20). Setelah itu baru mereka mengenali bahwa Yesus yang telah disalibkan dan dikubur benar-benar hidup, dan saat itu tengah berdiri di tengah-tengah mereka!
Setelah itu, Tuhan yang sudah bangkit sekali lagi mulai mengajar mereka mengenai rencana keselamatan di Perjanjian Lama. Selama 40 hari, Ia menunjukkan pada mereka mulai dari Taurat, Mazmur, dan kitab para nabi bahwa Kristus harus menderita sebelum Ia masuk ke dalam kemuliaanNya (Lukas 24:26-27). Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka bisa memahami kitab suci dan meyakinkan mereka, “Inilah yang tertulis: Kristus harus menderita dan bangkit dari kematian pada hari yang ketiga.” (Lukas 24:46)
Yesus sendiri membimbing kita kepada metode yang benar untuk melayaniNya di tengah-tengah orang Muslim. Ketika orang-orang Muslim, setelah beberapa waktu tertarik dengan pesan mengenai Kristus, tetapi kemudian melarikan diri dan tidak menemukan tempat perhentian dalam iman mereka, sama halnya dengan yang dilakukan oleh murid-murid Yesus yang pertama: Maka tugas kita adalah untuk mengumpulkan mereka sekali lagi dan memulai pelajaran Alkitab sekali lagi, sama seperti yang dilakukan oleh Yesus kepada murid-muridNya!

Terobosan besar
Setelah Yesus mempersiapkan murid-muridNya untuk diurapi dengan Roh Kudus, sebagai hasil dari kematian korban yang Ia lakukan di kayu salib, maka murid-murid bertanya kepadaNya, “Tuhan, apakah Engkau sedang memulihkan kerajaan bagi Israel pada masa ini?”

Mereka masih mengharapkan sebuah kerajaan yang bersifat politis-keagamaan! Mereka masih belum memahami pesan Yesus mengenai sebuah kerajaan spiritual. Setelah 40 hari mendapatkan training khusus dari Tuhan yang telah bangkit, kembali mereka gagal dalam ujian! Mereka masih berpikir dalam terminologi duniawi, politik dan manusiawi. Namun, pada saat mereka telah menerima kuasa dari Roh Kudus, visi dan kotbah mereka berubah secara radikal. Mereka memperoleh keberanian untuk mengekspresikan kebenaran di dalam kasih. Mereka memberitakan kepada para pendengar yang ketakutan bahwa mereka semuanya akan dibunuh, bahwa dengan pertolongan dari tentara pendudukan Roma, mereka telah menyalibkan Yesus, Sang Mesias, di atas kayu salib (Kisah Para Rasul 2:23).
Bagaimana kerumunan orang-orang Yahudi men-jawab? Tak ada! Tak satu pun kata! Tak satu pun dari kerumunan orang itu yang berseru: “Diamlah! Tenanglah! Kami tidak membunuhnya, kami tidak menyalibkanNya!” Sebaliknya mereka terdiam. Diamnya orang Yahudi adalah sebuah bukti dari fakta historis bahwa Yesus memang benar-benar disalibkan. Ingat bahwa reaksi orang Yahudi masih seperti itu hingga saat ini (red). Jika mereka masih memiliki sedikit saja kesempatan untuk menyangkali perasaan bersalah mengenai penyaliban ini, maka mereka akan berseru dan memprotes dengan keras. Tetapi, mereka semuanya tetap diam. Sebab mereka sendirilah yang berseru, “Salibkan Dia, salibkan Dia!” (Matius 27:22-26; Yohanes 19:15).
Petrus dan para rasul mengulangi panggilan mereka untuk pertobatan di beberapa kesempatan dan menyaksikan kebenaran yang menempelak dari penyaliban Mesias di hadapan kerumunan orang yang ada di Bait Suci, yaitu setelah penyembuhan seorang yang lumpuh, dan di hadapan Sanhedrin. Tak ada seorang pun dari imam besar dan ahli-ahli Taurat yang bisa membatalkan kesaksian mereka, sebab mereka semua berpartisipasi dalam penyaliban Yesus sebagai saksi mata aktif (Kisah Para Rasul 2:36; 3:13-15; 4:10; 5:30; 7:52 dan lain-lain).
Siapa pun yang memahami konsekuensi dari kesaksian para Rasul di ketujuh ayat yang ada di Kisah Para Rasul, dan memahami bagaimana orang-orang Yahudi ini menjadi tercengang-cengang, sebab mereka bisa menemukan di sana bukti kuat akan realitas dari penyaliban Yesus. Orang-orang Muslim memahami bahwa tak seorang pun akan membiarkan dirinya disebut sebagai seorang pembunuh kecuali ia benar-benar dipercaya sebagai pembunuh! Ketujuh ayat ini membuktikan fakta penyaliban Kristus.
Kita juga harus mengakui bahwa para rasul tidak mampu menyaksikan penyaliban Yesus dan kebangkitanNya sebagai kemenangan agung Tuhan sebelum Roh Kudus dicurahkan dan memasuki hati mereka. Mereka akan tetap diam, tidak sanggup memahami apa yang telah terjadi, untuk waktu yang lama.

Ketika menyaksikan kepada Muslim, penjelasan dan pengajaran kita hanya sedikit manfaatnya hingga Roh Kudus menerangi pikiran mereka, sama seperti apa yang ditulis oleh Dr. Martin Luther,”Saya percaya bahwa saya tidak bisa mempercayai Yesus Kristus, Tuhanku, atau datang padaNya dengan logika atau kehendak bebas saya sendiri, kecuali Roh Kudus telah memanggil saya melalui Injil, menerangi saya dengan anugerahNya, memurnikan saya, dan menjaga saya tetap pada iman yang benar, sama seperti Ia yang memanggil dan mengumpulkan semua orang-orang Kristen yang telah percaya di dunia, dan menjaga mereka dalam kesatuan iman yang benar.”

Berdoa bagi persiapan dan keterbukaan pikiran dari orang-orang Muslim dan pembaharuan hati mereka melalui Roh Kudus, sama pentingnya dengan sebuah kesaksian penuh hikmat mengenai Juru Selamat yang sudah bangkit, yang khususnya dipersiapkan agar sesuai dengan konteks Muslim.


III. Sumber-sumber sekular mengenai Penyaliban Yesus

Banyak Muslim yang tidak mau mendengar kesaksian Alkitab, sebab mereka telah diajar bahwa Alkitab sudah dipalsukan. Bagi teman-teman yang sudah disesatkan seperti itu, khususnya jika mereka adalah kaum intelektual, kita harus melakukan yang terbaik untuk menemukan petunjuk-petunjuk mengenai penyaliban Kristus dalam sumber-sumber sekular, yang tak ada kaitannya atau sedikit berhubungan dengan pengajaran Kristen.
Ada 2 ahli sejarah kuno terkenal yang melaporkan kematian Yesus, anak Yusuf dari Nazaret. Salah satu diantaranya adalah Tacitus, dalam bukunya, Annals, dan yang lain adalah Flavius Josephus dalam bukunya The Jewish War. Josephus melaporkan secara detil mengenai Yesus dan penyalibanNya di bawah Pilatus di volume VIII, pasal 3:3. Kedua karya historis mereka diakui secara internasional dan bisa menolong orang-orang Muslim yang ingin menemukan kebenaran untuk memikirkan ulang realitas dari kematian Yesus.

Hal yang sama pun berlaku untuk Talmud Belgia. Orang-orang Yahudi selama beberapa generasi hidup di Belgia diantara orang-orang Kristen dan harus memberikan jawaban ketika mereka dipersalahkan atas kematian Yesus. Mereka menulis bahwa Yesus, anak Yusuf, benar-benar wafat. Catatan di Talmud ini merupakan kontras dari penolakan terhadap Yesus dari orang-orang ortodoks fanatik yang memutuskan bahwa “NamaNya akan dilupakan dan dihapuskan dari semua ingatan.” NamaNya tidak akan pernah lagi disebutkan di antara orang-orang kita!”

Sebuah catatan yang bersifat mengejek terhadap Yesus bisa ditemukan di ruang bawah tanah Palladium di Roma. Sebuah salib besar dilukiskan pada dinding dengan gambar seorang pria dengan kepala dari seekor keledai yang tengah digantung. Di bawah salib itu, seorang tentara Roma bisa dilihat tengah berlutut dan menyembah orang yang disalibkan itu, sementara tentara-tentara Roma mengolok-olokkanNya. Gambar Yesus ini dengan jelas menunjukkan bahwa penyaliban Yesus sudah dikenal diantara orang-orang Roma sekular dan didiskusikan secara publik, karena ada tentara-tentara Roma yang mulai mempercayai Juru Selamat yang telah mereka eksekusi.
Ada indikasi berikutnya terhadap fakta historis dari penyaliban Yesus yang bisa membuat setiap Muslim berpikir. Selama pemerintahan Jamal Abd al-Nasser di Mesir, Paus Yohanes XXIII mencoba untuk membersihkan tuduhan-tuduhan yang dialamatkan pada orang-orang Yahudi yang hidup pada masa itu, bahwa mereka sebenarnya tidak membunuh Yesus.
Namun Presiden Mesir, bereaksi dengan marah, dan menjawab Paus melalui televisi dan media lainnya: “Kami telah memahami rencana Anda! Engkau ingin membenarkan semua orang-orang Yahudi dan Israel! Kami tidak akan pernah mengijinkan hal ini! Kami tahu siapa yang membunuh Kristus: Orang-orang Yahudi yang telah membunuhNya dan tak ada yang lain!” Para pemimpin Muslim, bishop-bishop Kristen, para imam, pendeta dan orang-orang lain yang mempunyai kedudukan menjadi tersenyum. Terlihat jelas bahwa, agar bisa mempersalahkan Israel, Jamal Abd al-Nasser siap untuk mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Qur’an adalah salah!
Berdasarkan hukum syariah, para hakim teologis di Universitas Al-Azhar di Kairo atau di pusat-pusat Islamik lainnya, seharusnya memprotes dan mengkoreksi pernyataan Nasser dalam kurun waktu satu bulan, jika tidak maka apa yang ia sampaikan akan diterima sah secara umum. Namun demikian, para sarjana takut dengan sang diktator atau, barangkali, mereka tidak ingin Israel dibenarkan. Poin penting di sini adalah bahwa para pejabat penting Islamik tetap diam, dan karena itu, berdasarkan prinsip-prinsip syariah, secara tak langsung mengakui bahwa mereka sesungguhnya tahu bahwa Yesus benar-benar disalibkan. Tetapi, mereka tidak bisa mengakui hal ini dengan jujur, sebab hal itu akan berkontradiksi dengan ayat-ayat yang cukup dikenal di Qur’an. Namun demikian, agar bisa menyalahkan Israel, mereka menerima kejahatan yang lebih kecil!
Hari ini, orang-orang Yahudi liberal dan moderat, yang tidak mengasosiasikan diri mereka dengan fanatisme Yahudi ortodoks, dan yang saat ini hidup di negara Israel; banyak dari mereka yang coba mengeksplorasi fenomena Yesus dengan tujuan untuk membawa kembali Seorang yang agung, yaitu Saudara mereka yang telah hilang ini kepada orang-orang Israel.
Mereka mengkonfirmasi kelahiran Yesus di “Nazaret”, namun bertanya-tanya jika kelahirannya mungkin merupakan sebuah kasus perkosaan dari seorang tentara pendudukan Roma. Mereka mendiskusikan ajaran-ajaran dan mujizat-mujizatNya. Tetapi apa yang mereka tuliskan tentang kematianNya? Apakah mereka menyangkali penyalibanNya seperti yang dilakukan oleh Muhammad? Apa jawaban mereka terhadap pertanyaan yang aneh ini? Mereka melukiskan eksekusi Yesus sebagai sebuah kesalahan legal! Mereka tidak mempertanyakan fakta mengenai penyalibanNya. Semua orang Yahudi dengan satu suara akan menyangkali penyaliban Yesus untuk membebaskan mereka dari beban sejarah selama 2000 tahun, jika hanya ada sedikit kemungkinan. Tetapi mereka menyadari bahwa fakta-fakta historis tidak bisa diubah dan akan berbicara untuk dirinya sendiri.


IV. Ayat-ayat yang cukup menolong dalam Qur’an yang membuat kematian Yesus sebagai sesuatu yang bisa dibayangkan.

Jika anda mempelajari statement-statement yang berbeda dari Muhammad mengenai kematian “Isa di dalam Qur’an”, maka anda akan menemukan kontradiksi dan sebuah kekerasan hati yang semakin berkembang mengenai sikap Muhammad terhadap salib. Dimulai dengan sebuah penerimaan yang bersifat toleran akan kematian Isa, kepada sebuah pertentangan dimana Muhammad menyangkali kematian Yesus. Namun demikian, ada kelemahan-kelemahan yang pasti dalam ayat-ayat ini dan juga petunjuk-petunjuk yang memungkinkan terhadap salib Yesus, yang kami presentasikan di sini untuk bisa anda pakai ketika bersaksi dengan orang-orang Muslim.
Eksekusi nabi-nabi oleh anak-anak Israel dipresentasikan dan dipersalahkan sebanyak 10 kali di dalam Qur’an (Sura al-Baqara 2:61,87,91; Āl 'Imran 3:21,112,181,183; al-Nisa' 4:155,157; al-Ma'ida 5:70). Salah satu referensi ini mengatakan:
Dan telah kami berikan bukti-bukti kebenaran (mujizat) kepada Isa Putera Maryam, dan Kami memperkuatNya dengan Rohul Kudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu, lalu kamu angkuh; maka beberapa dari antara mereka kamu dustakan, dan beberapa orang yang lain kamu bunuh.” (Sura al-Baqara 2:87)

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ

Ayat-ayat seperti ini ditulis selama masa hidup Muhammad di Medinah. Ia tidak menyangkali eksekusi yang berulang-ulang dilakukan terhadap para nabi di Perjanjian Lama, tetapi mempresentasikannya sebagai tuduhan terhadap orang-orang Yahudi. Tetapi, ia juga tidak bisa membayangkan bahwa Putera Maria juga dilempari dengan batu, kendati ia mengkaitkanNya dengan nabi-nabi yang dieksekusi secara langsung (Sura al-Baqara 2:87; al-Nisa' 4:157). Logika Qur’an dengan demikian juga mensyaratkan kematian Yesus.

Kematian Yesus dalam Qur’an
Ada sebuah ayat yang ganjil dalam Sura Maryam, yang hampir-hampir bisa dipahami sebagai kesaksian dari seorang Kristen di dalam Qur’an. Dalam ayat ini, “Isa memperkenalkan diriNya di dalam Quran dan memberi rangkuman mengenai hidupNya dalam satu kalimat:
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari Aku dilahirkan, pada hari Aku meninggal, dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali.” (Sura Ma-ryam 19:33)

وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Muhammad mewahyukan pengakuan mengenai Isa ini untuk bisa membenarkan ibunya Maria, dan untuk memperlihatkan bahwa Puteranya itu bukanlah sebuah anak haram. KelahiranNya ada di bawah kehendak dan damai Allah. Di sini, inkarnasi dari Firman Tuhan dan RohNya, di dalam Kristus bersinar melalui Qur’an (Sura Āl 'Imran 3:45; al-Nisa' 4:171; Maryam 19:20; al-Anbiya' 21:91; al-Tah¬rim 66:12 and others). Ini juga merupakan sebuah gema dari nyanyian malaikat di padang gurun Bethlehem (Lukas 2:14).
Kristus muncul di dalam Qur’an sebagai seorang manusia yang membawa damai. Ia tidak berdosa (Sura Ma-ryam 19:19), Ia bukan seorang yang melakukan kekerasan dan hal-hal jahat lainnya (Sura Maryam 19:32). Ia tidak mengambil bagian dalam peperangan, pembunuhan atau ucapan-ucapan yang bermusuhan. Kristus adalah seorang pembawa damai, yang merupakan arti literal dari kata ‘Muslim’. Ia satu-satunya Muslim sejati, Sang Raja damai.
Ayat ini (Sura Maryam 19:33) juga menyatakan sebuah statement yang jelas dan pasti mengenai kematian Kristus. Ayat-ayat ini senantiasa terbukti menjadi sebuah batu sandungan bagi para komentator Muslim.
Mereka memelintir artinya dengan menuliskan bahwa, tanpa ada keraguan,”Isa pun akan mati, tetapi bukan di kehidupanNya yang pertama di dunia, tetapi hanya setelah kedatanganNya yang kedua. Ia akan datang pertama-tama untuk menghancurkan anti-Kristus, kemudian membunuh semua babi dan menghapuskan semua salib.”
Setelah itu, Ia akan menikah, memiliki anak-anak dan akan mentobatkan semua orang (termasuk semua orang-orang Kristen) kepada Islam. Hanya setelah itu baru Ia mati! KematianNya akan menjadi “pengetahuan mengenai saat terakhir” (Sura al-Hujurat 49:61).
Sebuah pengertian gramatikal bisa membantu anda untuk mengatasi pemelintiran yang licik ini. Ayat 23 tidak mengandung kata "saufa" yang sendirinya akan mentransfer “kematian Isa ke dalam masa depan yang jauh, tetapi sebaliknya ia berbicara mengenai kematianNya yang mendekat dan bersifat natural, dalam sebuah rangkaian kelahiran, kematian dan kebangkitan natural. Semua penafsiran-penafsiran lainnya hanyalah mimpi atau kebohongan-kebohongan, yaitu untuk menyelubungi realitas dari kematian Yesus.
Ada sebuah ayat yang mirip di Sura Maryam mengenai Yohanes Pembaptis (Yahya), yang akan merendahkan ‘Isa pada level Yahya’. Di sini, Jibril, pembawa pesan Allah berkata,
“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal, dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.” (Sura Maryam 19:15)

وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Diketahui umum bahwa Yohanes telah dipenggal dan dikuburkan. Fakta ini digambarkan di beberapa konteks peristiwa yang juga dialami oleh Isa: KelahiranNya yang pertama, kemudian kematian dan akhirnya kebangkitanNya. Namun demikian, dalam kasus Isa, para komentator dengan sengaja memelintir urutan ini dengan tujuan untuk menghapuskan kemungkinan akan sebuah kematian di atas kayu salib.
Barangkali Muhammad mempresentasikan ‘Isa dan Yahya bersama-sama secara berurutan untuk menunjukkan bahwa Isa bukanlah sebuah natur yang ilahi. Namun meskipun demikian, ia membiarkan ‘Isa memperkenalkan diriNya seolah-olah Ia sedang memberikan sebuah “pewahyuan” surgawi, sedangkan Yahya sendiri hanya diperkenalkan oleh Jibril. Dalam Qur’an, Isa memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan Yahya. Putera Maria muncul sebagai sebuah Roh Allah dalam daging dan sebagai kalimatNya, yang telah berinkarnasi; sementara Yahya hanyalah seorang anak yang normal yang dilahirkan dari orang tua yang dikenal.

Berdasarkan Qur’an, Isa hidup tanpa dosa (Sura Āl 'Imran 3:45; al-Nisa' 4:171; Maryam 19:19 dan sebagainya). Karena itu ia tidak harus mati untuk kesalahanNya sendiri. Hal ini memberikan ruang bagi penafsiran bahwa Ia telah menanggung dosa semua orang di atas diriNya sendiri, mati untuk menggantikan mereka, memperdamaikan Pencipta dan dunia melalui kematianNya demi penebusan. Dalam Qur’an, Isa menegaskan bahwa damai Allah akan tinggal pada Dia bahkan pada hari kematianNya!

Hal yang paling menyesatkan
Ayat lainnya yang menunjukkan perkembangan sikap Muhammad terhadap kematian Kristus dapat ditemukan dalam Sura Āl 'Imran:
“Dan mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu, dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya, sebab mereka berkata: O Isa, Aku akan menyampaikan Kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat Kamu kepadaKu.” (Sura Āl 'Imran 3:54-55)

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ


Berdasarkan Qur’an, bangsa yang paling licik adalah orang-orang Yahudi. Mereka mencoba secara rahasia untuk membunuh Isa, tetapi Allah terlebih dahulu telah mengetahui rencana pembunuhan yang akan mereka lakukan. Namun Allah lebih licik dari mereka semua, Ia membuat Isa berhasil kabur dengan diam-diam dan kemudian mengangkatNya ke Surga ke hadiratNya.

Siapakah “Penipu Daya paling licik” yang disini oleh Qur’an sendiri dipakai sebagai gelar Allah? Ia menyelamatkan Kristus dari sebuah kematian yang mengerikan seperti melalui dilempari dengan batu atau penyaliban! Dengan cara ini, Muhammad secara sembunyi-sembunyi mencoba untuk menghilangkan salib Kristus dengan cara yang sederhana yaitu dengan tidak menyebutkannya. Ada 3 ekspresi berkaitan dengan “trik philantropik” ini, yang bisa ditemukan di seluruh kata-kata dalam ayat ini.

Untuk menghilangkan salib Kristus, Muhammad menyebut Allah sebagai “penipu yang paling ulung”! Alkitab menggunakan ungkapan yang sangat mengerikan ini hanya ketika kata ini ditujukan kepada “si ular” yang ada di Firdaus (Kejadian 3:1)! Diperhadapkan dengan salib, roh Islam harus mengakui siapakah dia sesungguhnya! Allah harus menyatakan diriNya di hadapan salib sebagai “penipu yang paling licik dari semuanya” (khair-ul-maakirin)!
Kita harus memahami konsekuensi lebih jauh dari statement Qur’anik ini bagi diri kita dan teman-teman kita. Dalam Efesus 6:11-20, Paulus memerintahkan semua pelayan Kristus agar tidak coba-coba mengalahkan ikatan demonik kolektif dengan kekuatan dan hikmat mereka, tetapi dengan doa, percaya dan melayani dengan tulus dalam nama Yesus Kristus dan dalam kuasa Roh Kudus. Dimana salib Kristus dengan liciknya disangkali, kita harus meninggalkan area logika dan masuk ke dalam area roh-roh dan demon. Darah Kristus tetap menjadi satu-satunya perlindungan kita (1 Yoh 1:5-2:2), dan Roh KudusNya adalah satu-satunya kekuatan kita (Kisah Para Rasul 1:8).
Kata lain dalam teks ini adalah "mutawaffika". Allah bersabda, ”Aku akan membiarkan Engkau pergi (meloloskan diri). Kata ini memiliki beberapa arti. Ia juga mengekspresikan pengertian “jatuh tertidur dengan lembut” atau “menyelesaikan hidup seseorang dengan sukses”. Muhammad menggunakan perkataan yang kompleks ini untuk memuaskan orang-orang Kristen dan juga Muslim. Untuk yang pertama, Ia telah mati, kepada yang lain Ia tidak mati. Dalam pendapat mereka “Isa telah diangkat ke surga tanpa merasakan sakit.” Muhammad adalah seorang yang cerdik. Ia berbicara tidak hanya dalam 2 pengertian, tetapi jika diperlukan dalam 3 pengertian, dengan hanya menggunakan satu kata!
Terjemahan orang-orang Turki dan Indonesia yang dipakai untuk kata dari Qur’an ini ekuivalen dengan “Saya akan membiarkan Engkau mati dalam damai”, sebab inilah arti terdekat dengan akar katanya. Namun demikian, beberapa penterjemah lainnya, bergumul dengan ekspresi ini, untuk menyenangkan para komentator Islamik.
Muhammad biasa berkata,”Perang adalah tipu daya!” Perang Suci, termasuk di dalamnya berdebat dengan orang-orang Kristen dan Yahudi, adalah sesuatu yang dipenuhi dengan tipu daya dan muslihat. Kita harus merubah pendekatan kita dan menjadi orang-orang yang berhikmat! Tak semua yang mereka katakan, dalam Islam artinya sama seperti yang mereka katakan!
Setelah Muhammad menyatakan bahwa salib Kristus telah dihindari dan dihapuskan melalui “tipuan paling licik” dari Allah, Muhammad kemudian bernafas lega dan coba memuaskan delegasi Kristen dari Yaman Utara, yang (berdasarkan biografi Muhammad Ibn Hisham), mereka telah datang untuk mendiskusikan hal-hal iman dengannya di Medina.
Ia membuat Allah mengangkat “Isa kepada diriNya sendiri”. Ini adalah sebuah statement sensasional dalam Qur’an. Kristus hidup! Tetapi Muhammad mati! Berdasarkan Qur’an, “Isa pada hari ini berada di sisi Allah dan bercakap-cakap denganNya (Sura Āl 'Imran 3:55; al-Nisa' 4:158; al-Ma'ida 5:110-111,116-118; al-Anbiya' 21:28 dan sebagainya). Tetapi Muhammad, sedang menunggu di sebuah tahapan tingkat menengah (alam barzakh), menantikan kebangkitan orang mati dan hari penghakiman. Itulah sebabnya mengapa semua orang Muslim harus mendoakannya, supaya ia bisa mendapatkan damai, setiap kali mereka menyebutkan nama Muhammad (Sura al-Ahzab 33:56).
Roh dibelakang Islam bisa bertoleransi dengan Kristus yang hidup dan yang akan datang kembali, dan mengintegrasikannya ke dalam sistem iman Muslim, tetapi ia tidak akan pernah bisa menerima salib dan keilahianNya! Karena itu, peringatan Paulus dan Yohanes bisa diaplikasikan kepada Islam juga (Galatia 1:8-9; 1 Yohanes 2:21-27; 4:1-5). Setiap dialog penginjilan dengan Muslim karena itu harus, bukan saja menjadikan mereka sebagai sahabat, tetapi juga mendoakan mereka supaya mereka bisa dibebaskan dari ikatan kolektif mereka. Muhammad tahu alasannya mengapa ia memperingatkan para pengikutnya untuk tidak bergaul dengan orang-orang dari latar belakang agama lain, khususnya Kristen (Sura Āl 'Imran 3:28; al-Nisa' 4:89; al-Anfal 8:73; al-Mumtahana 60:1,9). Kita tidak boleh takut berhubungan dengan orang Muslim, karena berkat Kristus lebih kuat daripada kutuk Muhammad (Matius 5:44-45; Sura Āl 'Imran 3:61; al-Tawba 9:29 dan lain-lain)!
Kata spesifik dimana termasuk di dalamnya pengertian “jatuh tertidur dengan lembut” dipakai untuk menggambarkan kematian Kristus untuk kali kedua di dalam Qur’an (Sura al-Ma'ida 5:117).
Di sana, Putera Maryam berbicara kepada Allah secara personal dalam sebuah percakapan langsung, setelah kenaikanNya dan mengkonfirmasikan bahwa Yang Maha Kuasa telah membiarkannya lolos dan telah mengambil alih tanggungjawab atas murid-muridNya di tempat Ia sebelumnya berada. Kematian Kristus yang lembut dipresentasikan dalam Qur’an dengan dua cara, satu sebagai sesuatu yang sedang mendekat, dalam keterangan waktu akan datang yang sudah dekat, dan satunya lagi sebagai sesuatu yang sudah selesai dikerjakan, dalam keterangan waktu past perfek, sehingga para pembaca Qur’an harus yakin bahwa Kristus tidak pernah disalibkan, tetapi tanpa rasa sakit dipindahkan kepada Allah sendiri!

Penyangkalan akhir dari penyaliban Kristus
Satu-satunya ayat dalam Qur’an yang menyangkali penyaliban “Isa secara langsung (Sura al-Nisa' 4:157) merepresentasikan akhir dari perkembangan sikap Muhammad terhadap kematian Kristus. Ayat ini menggantikan dan membatalkan semua “wahyu-wahyu sebelumnya” , jika hal ini mengijinkan kemungkinan akan penyaliban dari Putera Maria. Penolakan terhadap eksekusi Kristus yang menyakitkan ini diekspresikan dalam sebuah cara yang ambigius (bersifat dwi-arti), supaya ia bisa meninggalkan ruang bagi keragu-raguan dan intepretasi yang berlawanan. Dalam Sura al-Nisa kita membaca:

“Orang-orang Yahudi berkata, ”Kita telah membunuh Mesias, ‘Isa Putera Maria, Utusan Allah!’ – padahal mereka tidak membunuhNya dan tidak menyalibNya, tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka! Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keragu- raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Sura al-Nisa' 4:157-158)

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا
بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Teks ini mengandung beberapa jebakan:

● Mustahil bahwa orang-orang Yahudi di Medinah mengakui secara publik bahwa Putera Maria adalah Mesias sejati dan utusan Allah! Mereka juga tidak percaya pada kelahiran Yesus dari seorang perawan dan juga inkarnasiNya. Mereka sepenuhnya menolak Dia sebagai Mesias dan menyebutNya sekutu Beelzebul, roh jahat tertinggi di Israel pada waktu itu (Matius 12:22; Markus 3:22-27; Lukas 11:14-23). Statement ini dalam Qur’an mustahil berasal dari orang-orang Yahudi, sebab mereka tidak mengenali Yesus sebagai utusan Tuhan, tetapi sepenuhnya menyembunyikan atau membuang namaNya.

Namun diperkirakan orang-orang Yahudi ingin memperingatkan Muhammad bahwa ia seharusnya tidak perlu lagi mengganggu dan mengancam mereka, sebab jika tidak maka mereka akan membunuhnya, sama halnya seperti mereka telah membunuh Isa, Mesias yang ia sebutkan dalam Qur’annya. Adalah hal yang mungkin bahwa mereka menggunakan gelar Mesias sebagai sebuah ancaman yang bersifat mengejek.

● Muhammad beberapa kali merasa terancam oleh orang-orang Yahudi di Medinah, dan juga oleh para pedagang Mekah. Tetapi ia menenangkan dirinya dengan berkata, ”Allah adalah setia. Tidak mungkin Ia membiarkan Isa yang setia jatuh ke tangan orang-orang Yahudi. Jika tidak maka aku sendiri pun bisa jatuh ke tangan mereka.” Demi kesetiaan Allah dan keselamatan dirinya sendiri, ia menolak ancaman mereka dan dengan geram menjawab, ”Mereka tidak membunuhNya! Mereka tidak menyalib-kanNya!”

● Muhammad tidak pernah berkata bahwa Yesus sama sekali tidak dibunuh dan tidak disalibkan. Ia hanya menekankan bahwa bukan orang Yahudi yang mengeksekusi Kristus! Barangkali ia telah mendengar bahwa orang-orang Yahudi biasanya tidak menyalibkan musuh-musuh mereka, tetapi melemparinya dengan batu. Di bawah pendudukan kekuasaan Roma, mereka bahkan tidak punya hak untuk menjatuhkan hukuman mati kepada seseorang atau mengeksekusi dia. Karena itu, dalam pengertian ini, Muhammad benar! Orang Yahudi tidak membunuh atau menyalibkan Yesus! Statement dari Qur’an ini, dalam pengertian ini adalah tepat dan persetujuan kita atasnya bisa menurunkan ketegangan antara Kristen dan Muslim.
Di seluruh dunia, diketahui bahwa orang-orang Roma menyalibkan ribuan budak-budak pemberontak dan para penjahat dari negara lain. Karena itu, ayat dalam Qur’an ini sebenarnya menjelaskan kemungkinan lain yaitu bahwa orang-orang Roma sendirilah yang sebenarnya menyalibkan Yesus.

● Muhammad menggunakan sebuah bentuk pasif yang jarang dipakai untuk menjelaskan bahwa Kristus dibuat “mirip” dengan seorang yang disalibkan di mata orang-orang Yahudi (shubbiha lahum). Ia menyangkali penyaliban Kristus sebagai sebuah fakta historis, tetapi sebaliknya mengklaim bahwa Ia hanya dibuat seolah-olah sebagai seorang yang “disalibkan”, sama seperti sebuah hantu.

Muhammad mungkin telah mendengar dari sebuah sekte Kristen di lembah Nil yang mengajarkan bahwa merupakan hal yang tidak bisa terpikirkan bahwa Tuhan yang agung telah menjadi manusia dan harus memenuhi semua kebutuhan-kebutuhan manusia. Mereka percaya bahwa Tuhan hanya terlihat sebagai seorang manusia, tetapi sebenarnya tidak pernah benar-benar berinkarnasi. Mereka juga mengajarkan bahwa Kristus, sebagai Tuhan sejati, tak mungkin bisa mati atau disalibkan, tetapi hanya terlihat seolah-olah Ia disalibkan! Ketika Muhammad mendengar penyesatan ini, ia langsung menemukan kesempatannya dan berkata,”Orang-orang Kristen yang malang! Mereka berpikir dan meyakini bahwa Kristus mati bagi mereka di atas kayu salib, tetapi Ia hanya terlihat seperti orang yang sedang disalib. Ia sesungguhnya tidak pernah disalibkan!” Beberapa kali Muhammad dipengaruhi dan disesatkan oleh sejumlah bidat-bidat Kristen.

Para komentator Muslim telah meletakkan sebuah fantasi yang besar ke dalam intepretasi dari bentuk pasif ini “Ia dibuat terlihat seperti itu kepada mereka”. Kisah-kisah tidak realistik berikut masih tersirkulasi di negara-negara tertentu di antara orang-orang Muslim hari ini:
- Beberapa orang berkata: Simon dari Kirene dipaksa oleh para tentara Roma untuk memanggul salib untuk Yesus yang sudah didera dan sekarang menjadi lemah. Ketika mereka mencapai tempat penyaliban, mereka malah menyalibkan Simon bukannya Kristus. Putera Maria meninggalkan tempat itu dengan bebas.

- Yang lainnya berkata: Allah itu adil! Ia membuat wajah Yudas terlihat seperti wajah Yesus, sehingga Yudas sendirilah yang disalibkan. Tetapi Isa, yang terlihat seperti Yudas, berhasil meloloskan diri tanpa terluka. Ketika seorang Kristen ortodoks mendengarkan cerita ini, ia menolak orang-orang Muslim itu dengan berkata: “Apakah anda pikir Maria, ibu Yesus, yang berdiri di bawah salib Yesus, tidak sanggup membedakan antara puteranya, dengan Yudas yang digantung di atasnya? Atau, apakah engkau berpikir bahwa Allah akan membodohi wanita yang paling baik dari semua wanita di dunia ini dan di dunia yang akan datang (Sura Al 'Imran 3:42) dengan memperdayainya sehingga ia berkabung selama berjam-jam untuk pengkhianat yang tengah sekarat, sementara anaknya sendiri sudah meloloskan diri? Kedua teori ini sesuatu yang sulit untuk dibayangkan.”

- Yang lainnya lagi mengklaim: Kristus benar-benar disalibkan. Tetapi kemudian sebuah gerhana menyebabkan negeri itu menjadi gelap, dan kebanyakan orang kemudian bersembunyi karena takut kepada roh-roh jahat. Kemudian gempa bumi yang kuat mengikuti dan mengguncangkan mereka semua, bahkan para tentara Roma sendiri pun mencari perlindungan. Ketika setiap orang telah pergi, Kristus tergantung di kayu salib sendirian, karena itu Ia turun dari salibNya dan – sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Muslim dari kelompok Ahmadiyah – Yesus berjalan ke Kashmir, dan di sana Ia meninggal secara natural. Tetapi di kuburan yang besar untuk Isa di Srinagar, kita melihat dengan mata kita sendiri , bahwa tidak ada Kristus Putera Maria yang dikuburkan, melainkan kakek dari keluarga seorang bangsawan Kashmir, seorang sheikh Muslim bernama Isa, dan yang kuburannya secara salah ditulisi dengan kalimat “Isa Sang Kristus dari sekte Ahmadiyah.


V. Anugerah khusus bagi dosa yang diakui

Mencoba untuk meyakinkan orang Muslim akan penyaliban Yesus sebagai sebuah fakta historis tidak banyak faedahnya selama mereka sendiri tidak meminta penjelasan. Masalah terbesar dalam pelayanan di antara orang-orang Muslim adalah keyakinan mereka bahwa mereka tidak membutuhkan seorang penebus, mediator atau satu korban bagi pendamaian. Mereka tidak menyadari betapa dalamnya keberdosaan mereka. Mereka berpikir bahwa mereka bisa menyeimbangkan perbuatan buruk mereka dengan berbuat baik (Sura Hud 11:114; al-'Ankabut 29:7; al-Fatir 35:29-30). Tak banyak gunanya menjelaskan soal penyaliban Yesus kepada mereka, selama mereka berpikir bahwa mereka tidak membutuhkan seorang pengganti atau juru selamat. Mereka yakin bahwa mereka cukup baik di dalam diri mereka sendiri.
Membuat mereka menyadari betapa mereka sudah terhilang dan berada di bawah penghukuman, sama halnya seperti semua manusia, terkadang bahkan lebih penting daripada pemahaman mereka akan pembenaran yang bisa mereka peroleh melalui kematian Kristus di atas kayu salib. Pertama-tama mereka harus belajar bahwa tanpa intervensi Tuhan, mereka semua akan pergi ke neraka!

Mazmur pertobatan menawarkan bantuan dalam menggarisbawahi realitas ini (Mazmur 6:2-10, 32:1-11, 38:2-32, 51:3-19 dan lain-lain). Kami rekomendasikan untuk membiarkan Muslim menghapal Mazmur 51, supaya seluruh alam bawah sadar mereka dipenuhi dengan roh pertobatan. Iman seorang Muslim seringkali tidak menembus dari kepala hingga ke hati, tetapi dengan cara yang berbeda, dari hati menuju ke kepala. Ini adalah sebuah realitas yang tersembunyi.

Ketika seorang mantan Sheikh Islam diminta untuk membacakan Mazmur 51 untuk sebuah program radio, dengan cara yang sama seperti ia melantunkan ayat-ayat Qur’an, maka air mata tiba-tiba meleleh di pipinya. Ia tidak hanya membaca ayat-ayat itu dengan hati-hati, tetapi telah mendoakannya dan mengakui bahwa ia adalah seorang berdosa. Mazmur 51 adalah sebuah kelas pertobatan bagi kita semua. Ia menunjukkan pada kita siapakah sesungguhnya kita. Ayat-ayat ini berisi bimbingan yang sangat mendalam bagi semua orang yang merasa puas dengan dirinya:

Mazmur 51:3 Orang berdosa dalam Mazmur 51 memohonkan belas-kasihan dan anugerah. Daud menyadari bahwa ia tidak memiliki hak untuk mengharapkan pengampunan. Ia memohon Tuhan akan menghapuskan semua dosa-dosanya, bukan hanya sebagian dari dosa-dosanya, dan semuanya itu boleh ia alami sesuai dengan belas-kasihan Tuhan yang tidak terbatas.

Mazmur 51:4 Ia merasa kotor di dalam tubuh, jiwa dan rohnya, dan memohonkan sebuah pembersihan menyeluruh dari dosa-dosanya yang menjijikkan.

Mazmur 51:5 Ia merasa sakit ketika menyadari dosa-dosanya yang besar. Dosa-dosanya itu membuatnya merasa compang-camping. Roh Kudus tidak membuatnya merasa tenang. Ia tidak bisa berpikir dengan normal atau tidur di dalam damai.

Mazmur 51:6 Ia memahami: dosa berarti pemberontakan terhadap Tuhan, sang Pencipta dan Hakim. Ia mengakui bahwa sebuah dosa bukan hanya sebuah kesalahan atau sebuah tindakan yang salah, tetapi sebuah serangan terhadap martabat dan kekudusan Tuhan. Ia mengakui: “Engkau benar, tidak perduli bagaimana Engkau menghakimi aku. Aku telah menjadi sangat bersalah dan kehilangan hak-hakku.”

Mazmur 51:7 Saya menjadi sepenuhnya tercemar. Bahkan ketika aku ada di dalam kandungan ibuku, aku telah mewarisi daging dan roh yang berdosa dari leluhurku. Aku telah menjadi rusak sejak masa mudaku. Dagingku, rohku, hatiku, keinginanku, semuanya merupakan sesuatu yang sangat jahat.

Ps 51:8 Tuhan, Engkau ingin mendengarkan kebenaran. Aku mengakui semua dosa-dosaku yang tersembunyi. Engkau telah memperlihatkan kepadaku siapakah aku ini sesungguhnya.
Ps 51:9 Jika hisop, sebuah tanaman yang biasanya dipakai untuk desinfektan pada masa lampau bisa membantu, basuhlah aku di bagian dalam dan luar diriku dengan itu.
Ps 51:10 Kembalikan sukacitaku, sebab keputusasaan bukanlah solusi akhir bagimu. Engkau telah menghancurkan kebanggaanku, tetapi Engkau pun bisa menghiburkan aku di bagian diriku yang paling dalam.
Ps 51:11 Janganlah bersembunyi dari aku, berbicaralah hanya satu kata kepadaku, hilangkan dan hapuskanlah semua pelanggaran-pelanggaranku!
Ps 51:12 Aku adalah seseorang yang tidak berpengharapan! Hanya jika aku menjadi ciptaan baru, aku bisa selamat:

12 Ya Elohim, ciptakanlah bagiku hati yang bersih, dan baruilah dalam diriku roh yang diteguhkan.
13 Jangan membuang aku dari hadirat-Mu, dan jangan mengambil Roh-Mu yang kudus dari padaku.
14 Pulihkanlah padaku sukacita keselamatan-Mu, dan topanglah aku dengan roh kerelaan.

Kita harus memohonkan anugerah Tuhan untuk menolong orang-orang Muslim menyadari keberdosaan mereka dengan cara ini atau cara lainnya, sama seperti kita dari diri kita sendiri pun perlu bertobat bersama dengan mereka. Mazmur ini bisa memimpin setiap orang yang berdoa untuk bertobat, hingga ia akhirnya menyadari bahwa hanya sebuah hati yang hancur dan sebuah hati yang menyesal dengan sangat dalam bisa menyenangkan Tuhan.
Hamba-hamba Kristus lainnya menggunakan Sepuluh perintah Tuhan, Kejatuhan Adam (Kejadian 3:1-4,16), dan khususnya visi dari Yesaya 6:1-8 untuk menghancurkan kebanggaan Muslim yang merasa puas dengan dirinya. Ketika Yesaya menyadari kekudusan Tuhan, imam dan nabi bangsawan ini merasa sangat ketakutan:
“Kemudian aku berkata, “Celaka bagiku, karena aku binasa! Sebab, aku seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah umat yang najis bibir, oleh karena mataku telah melihat Raja, YAHWEH Tsebaot. (Yesaya 6:5)

Kita harus memohonkan Yesus untuk menyatakan diriNya kepada Muslim yang berpusat pada diri mereka sendiri, agar mereka bisa memahami kasih dan kekudusan Tuhan yang agung serta memohonkan anugerahNya. Tanpa mengakui dosa, sulit bagi mereka untuk bertobat dan diampuni. Itulah sebabnya mengapa kita harus menjelaskan arti dari keberdosaan kepada seorang Muslim, sebelum kita berbicara mengenai salib. Namun demikian, kesadaran ini tetap merupakan sebuah anugerah dari Juru Selamat kita (Roma 2:4). Kita harus mendoakan hal itu.

Apakah semua Muslim akan pergi ke neraka?
Ada sebuah ayat yang kejam di dalam Qur’an yang mengklaim bahwa semua Muslim akan pergi ke neraka! Api adalah tujuan mereka yang pasti. Dalam Sura Maryam, Muhammad mengejutkan semua Muslim:

Dan tidak ada seorang pun daripadamu melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang lalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.”(Sura Maryam 19:71-72)

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا
ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Beberapa hamba Tuhan menemukan bahwa ayat-ayat ini membawa sejumlah Muslim kepada kesadaran mereka sebagai sebuah syok terapi. Pengharapan Islam bagi penebusan dari api yang sudah pasti, karena itu didasarkan pada menggenapi syariah, hukum Islam. Hanya Yesus yang sudah berjalan melalui neraka murka Tuhan untuk menggantikan kita yang seharusnya ada di situ, sehingga kita tidak perlu lagi dihakimi dan dihukum (Yohanes 3:18-23; 5:24 dan sebagainya). Kasihnya menyatakan sikap egoisme, kesombongan dan dosa kita, supaya kita bisa dengan penuh ucapan syukur menerima keselamatanNya yang penuh dan memasuki hidup yang kekal.


VI. Anak Domba Tuhan

Segera setelah Yesus memberikan kesadaran kepada Muslim akan dosa-dosa dan penghukumannya, maka kita harus membawa mereka kepada anak domba Elohim sebagai satu-satunya penyembuh, sebab Ia sendirilah yang menghapuskan dosa dunia, termasuk perasaan bersalah dari semua Muslim (Yohanes 1:29-34; 1 Yohanes 2:1-2 dan lain-lain).
Pada perayaan Idul Adha, di akhir dari ziarah ke Mekah, dan secara simultan di semua negara-negara Islam, orang-orang Muslim menyembelih domba, kambing atau unta, satu ekor untuk setiap keluarga, untuk memastikan bahwa berkat Allah akan tetap tinggal di antara mereka. Namun demikian, mereka tidak tahu makna korban darah di Perjanjian Lama, juga kemungkinan dari upacara ini sebagai substitusi untuk dosa-dosa kita, dan rekonsiliasi melalui darah yang dicurahkan. Karena itu, sangat bermanfaat bagi beberapa Muslim untuk mengajarkan pada mereka mengenai hukum-hukum dosa dan korban bakaran di Perjanjian Lama (Imamat 4:4,14,24,33 dan lain-lain), atau mengenai korban pada hari rekonsiliasi yang agung (Imamat 16:6-10). Dengan demikian, mereka akan bisa ditarik lebih dekat dengan Tuhan yang benar dan kudus dan memahami dengan lebih baik akan tujuan dari pengorbanan binatang-binatang yang sebelumnya dilakukan di Perjanjian Lama.
Sebuah meditasi mengenai Anak Domba Paskah, sebagaimana Yesus memerankannya dengan murid-muridNya ketika memperkenalkan Perjamuan Kudus Tuhan, akan membawa kepada kesadaran akan rekonsiliasi yang sempurna dengan Tuhan melalui pengorbanan diri Yesus Kristus.

Pasal yang paling penting untuk mengenali dan mempercayai konsep tentang anak domba Elohim terdapat dalam Perjanjian lama dalam pewahyuan mengenai “Hamba Yahweh yang menderita” (Yesaya 53:4-12). Berita Injil yang terdapat dalam Perjanjian Lama ini telah menjadi sebuah penghiburan kekal dan pertolongan bagi banyak orang yang coba memahami mengenai pembenaran melalui anugerah, ketika mereka disiksa oleh hati nurani mereka. Iman yang dengan segera muncul dalam diri bendahara/sida-sida Ratu Kandake dari Etiopia adalah sebuah tanda yang jelas mengenai hal ini (Kisah para rasul 8:26-39).
Sebagai tambahan, anda bisa menggunakan gema Qur’anik terhadap perintah Tuhan kepada Abraham untuk tidak mempersembahkan anak kandungnya sendiri yaitu Ishak. Di sana Tuhan bersabda kepadanya:
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (Sura al-Saffat 37:107)

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Kalimat yang tegas ini meniadakan semua usaha Muhammad di Qur’an untuk menjauhkan setiap rekonsiliasi dengan Allah. Yang disebut sebagai “pewahyuan” ini mengijinkan sebuah kemungkinan akan sebuah rekonsiliasi ilahi melalui korban sembelihan! Penebusan sempurna dari Ishak tidak dicapai melalui imannya atau perbuatan baiknya, tetapi hanya melalui anugerah!
Kita perlu membuat Muslim menyadari akan pentingnya ayat ini di dalam Qur’an, sementara ia berbicara mengenai sebuah pengorbanan yang “sangat mengagum-kan” yang telah diraih sebelum penyembelihan kambing yang seolah-olah dilakukan untuk orang lain. Hingga hari ini, Muslim mencoba menemukan siapa, atau apa sebenarnya hal yang berkaitan dengan korban ilahi dari rekonsiliasi untuk keselamatan Ishak. Kita tahu rahasianya: Yesus Kristus adalah Anak Domba Elohim yang sejati, yang menghapus dosa dunia. Ia juga telah menyelamatkan semua anak-anak Abraham.

Beberapa orang Muslim mungkin akan membantah, bahwa Abraham mencoba untuk mengorbankan Ismail, dan bukan Ishak, untuk mentransfer berkat-berkat dari tindakan ini kepada orang-orang Arab dan Muslim (Sura al-Saffat 37:8-14). Tetapi, Qur’an sendiri tidak menyebutkan nama dari Putera Abraham yang akan disembelih. Hingga masa al-Tabari, para penafsir Islamik menyebutkan nama Ishak sebagai orang yang disembelih. Baru belakangan mereka merubah intepretasi mereka menjadi Ismail.
Orang-orang Muslim yang keras kepala, lebih jauh akan membantah dengan mengatakan bahwa Qur’an mencatat sebanyak empat kali sebuah statement kritis (Sura al-An'am 6:164; al-Isra' 17:15; Fatir 35:18 al-Zumar 39:7; al-Najm 53:38):

“Dan seorang yang berdosa (dibebani) tidak akan memikul dosa (beban) orang lain” (Sura al-An'am 6:164)

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلا عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Ayat ini mengklaim secara tidak langsung bahwa tidak ada pengganti yang dibebankan dengan dosanya sendiri, dapat mengintervensi dan menanggung dosa orang lain. Untuk menjawab ini, kita harus mencatat bagaimana Qur’an beberapa kali menyaksikan bahwa Kristus tetap tanpa dosa; dan hal ini akhirnya dikonfirmasikan ketika Ia naik ke Surga (Sura Āl 'Imran 3:44,45; al-Nisa' 4:158,171; Maryam 19:19; al-Anbiya' 21:91; al-Tahrim 66:12 dan lain-lain).
Berhutang pada kekudusan Kristus, ke-lima ayat-ayat Qur’anik yang berbicara menentang kemungkinan dari sebuah substitusi, dapat dipakai untuk membuktikan hal sebaliknya: “Sang Pengganti yang tanpa dosa, bisa menanggung beban dari perasaan bersalah yang dialami oleh orang lain.”
Yesus dan pengorbanan diriNya yang Ia lakukan karena kasihNya terhadap semua orang berdosa adalah satu-satunya jawaban yang bisa menolong orang-orang Islam yang hidup tanpa pengharapan. Nama Yesus mengindikasikan programNya yaitu: “Ia akan menyelamat-kan umatNya dari dosa-dosa mereka” (Matius 1:21). KematianNya untuk menggantikan kita, memberikan hak istimewa akan anugerahNya bagi semua kita. Janji Kristus adalah sesuatu yang pasti: “Teguhkanlah hatimu nak, kepadamu sudah diampunkan dosa-dosamu!” (Matius 9:2; Lukas 7:50 dan lain-lain)

Muhammad tidak bisa mengucapkan kalimat seperti ini. Ia tidak pernah berpikir untuk mati demi menggantikan orang-orang Muslim. Kematiannya sendiri menjadi sia-sia, sebab Allah memerintahkanNya beberapa kali untuk memohonkan pengampunan akan dosa-dosanya (Sura Gha-fir 40:55; Muhammad 47:19; al-Fath 48:2; al-Masad 110:3).


VII. Kesaksian melalui pengalaman

Setelah Roh Kudus dicurahkan, sebagai hasil dari korban pendamaian yang dikerjakan oleh Kristus, para rasul memahami dan membagikan penebusan yang mereka alami melalui kematian Yesus, dengan kasih yang tulus. Rasul Petrus mengakui: “Dengan mengetahui, bahwa kamu sudah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia, yang diwariskan oleh leluhurmu, bukan dengan barang yang fana, perak ataupun emas, melainkan dengan darah yang mahal, bagaikan anak domba yang tanpa cacat dan tanpa noda, yaitu Kristus” (1 Petrus 1:18-19)

Rasul Yohanes memberikan penegasan terhadap pesan ini:
“Namun, jika kita berjalan dalam terang sebagaimana Dia ada di dalam terang, kita sedang memiliki persekutuan seorang terhadap yang lain, dan darah YESUS Kristus, Putra-Nya, sedang membersihkan kita dari segala dosa.
Jika kita berkata bahwa kita tidak mempunyai dosa, kita sedang menyesatkan diri kita sendiri, dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
Jika kita mengakui dosa-dosa kita, Dia adalah setia dan adil, sehingga Dia akan mengampunkan kepada kita dosa-dosa itu dan membersihkan kita dari segala ketidakadilan (1 Yohanes 1:7-9).

Rasul Paulus menulis: Sebab firman tentang salib bagi mereka yang memang binasa adalah kebodohan, tetapi bagi kita yang diselamatkan hal itu adalah kekuatan Elohim.
tetapi kami memberitakan Kristus yang telah disalibkan: di satu sisi suatu sandungan bagi orang-orang Yahudi, di sisi lain kebodohan bagi orang-orang Yunani.
Namun bagi mereka yang terpanggil, baik orang-orang Yahudi maupun orang orang Yunani, Kristus itu kuasa Elohim dan hikmat Elohim. (1 Korintus 1:18, 23-24)

Rev. Iskandar Jadeed mengakui, “Sebagai seorang anak muda, saya menderita disebabkan ke-empat isteri yang dimiliki oleh ayah saya, dan perdebatan yang tak ada ujung pangkalnya di antara ke-empat keluarga kami yang hidup di bawah satu atap. Dalam sebuah kalimat yang menghibur, sebuah momen yang mengejutkan, saya tiba-tiba memahami apa yang ditulis oleh Yohanes:
Sebab Elohim demikian mengasihi dunia ini, sehingga Dia mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, melainkan dapat memperoleh hidup kekal. (Yohanes 3:16)

Di India, seorang ibu yang tidak bisa menulis atau membaca, dan telah melahirkan selusin anak-anak – meminta untuk dibaptiskan, setelah suami Muslimnya menjadi seorang Kristen. Pendeta ragu-ragu untuk membaptiskannya, karena ia berpikir bahwa wanita ini ingin melakukannya hanya untuk menyenangkan suaminya. Ketika ia bertanya, mengapa ia sebagai seorang Muslim terus-menerus meminta untuk dibaptiskan, ia pun menjawab dengan mata yang membelalak, ”Yesus Kristus mengampuni semua dosa-dosaku di atas kayu salib, dan menaruh hidup yang kekal tepat ke dalam hatiku.”

Apa yang menjadi kesaksian pribadi anda?
Ayat Alkitab yang mana yang mengekspresikan iman anda paling jelas? Apa yang bisa anda bagikan mengenai Seseorang yang telah mati di atas kayu salib bagi anda? Anda harus mengambil waktu untuk berpikir dan berdoa mengenai kesaksian anda kepada orang-orang Muslim di negara anda sendiri. Jumlah mereka secara konstan terus bertambah. Tak adakah getaran dalam hati anda untuk menyampaikan pesan keselamatan yang sebenarnya sudah diselesaikan oleh Kristus bagi mereka, supaya mereka bisa mengerti?

K U I S

Para pembaca yang terkasih!

Jika anda telah mempelajari buklet ini dengan seksama, maka anda akan dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Siapa yang bisa menjawab 90% dari semua pertanyaan di kedelapan buklet dari seri ini dengan benar, bisa mendapatkan sebuah sertifikat dari kantor pusat kami, mengenai

Studi Tingkat Lanjut
dalam menemukan cara-cara yang bermanfaat untuk melakukan percakapan dengan orang-orang Muslim mengenai Yesus Kristus.

Sebagai sebuah dorongan untuk pelayanan anda ke depan bagi Kristus.

1. Mengapa mayoritas Muslim berpikir bahwa penyaliban Yesus adalah sebuah ilusi?
2. Mengapa sejumlah Muslim membayangkan bahwa Yudaslah yang disalibkan, dan bukannya Kristus?
3. Seberapa sering Qur’an mengulangi kalimat bahwa “Tak seorang pun yang bisa menanggung dosa orang lain?”
4. Mengapa Muslim mengklaim bahwa Allah bisa mengampuni siapa pun yang Ia kehendaki, kapan pun Ia inginkan dan bahwa Ia tidak membutuhkan korban atau sebuah substitusi?
5. Mengapa Muslim berharap (dalam kesia-siaan) bahwa perbuatan baik mereka akan menyingkirkan perbuatan jahat mereka?
6. Sejauh mana keyakinan Islamik dalam predestinasi berlawanan dengan iman di dalam keselamatan melalui Kristus?
7. Mengapa salib tetap menjadi sebuah “tabu” bagi semua Muslim, bahkan kendati mereka tidak mengerti mengenai Qur’an dan Syariah?
8. Apa implikasi spiritual dari fakta bahwa Muslim secara kolektif diikat oleh sebuah roh yang menentang salib?
9. Mengapa Yesus merujuk kepada ular tembaga yang diangkat/ditinggikan oleh Musa di padang gurun untuk menjelaskan bahwa tidak ada keselamatan kecuali ia diangkat kepada salib? Apakah penyaliban Yesus melambangkan semua kejahatan seperti ular?
10. Apa yang dibawa oleh domba Paskah kepada orang-orang Ibrani yang menjadi budak di Mesir, dan mengapa Yesus menjadi domba Paskah bagi kita? Dari bahaya besar yang seperti apa Ia akan melindungi kita dan mengapa kita harus memakan dagingNya?
11. Ada berapa banyak nubuatan yang bisa anda temukan dalam Mazmur 22 yang digenapi oleh Yesus berdasarkan Injil?
Menurut pendapat anda, nubutan-nubuatan yang mana yang bisa meyakinkan Muslim bahwa Kristus benar-benar disalibkan?
12. Mengapa Yesus berdoa, “TuhanKu, TuhanKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Apakah BapaNya benar-benar meninggalkanNya? Apakah kesatuan Trinitas Kudus menjadi terbagi ketika Yesus disalibkan? Apa makna dari doa ini?
13. Mengapa kata-kata dari Yesaya 53:4-7 berisi janji yang paling meneguhan di dalam Perjanjian Lama, yang menjelaskan secara detil bahwa Yesus adalah substitusi bagi kita? Sudahkah anda mempelajari teks ini dengan hati anda?
14. Apa artinya 30 keping perak dalam wahyu kepada nabi Zakariah dan bagaimana nubuatan ini digenapi di dalam Perjanjian Baru? Apakah Yesus itu adalah Tuhan Yahweh sendiri?
15. Mengapa pesan dalam Matius 20:28 secara ekstrim sangat penting dan sanggup merubah semua budaya dan adat-istiadat di setiap masyarakat?
16. Mengapa Yesus tidak bersembunyi atau melarikan diri atau bermigrasi ke Libanon atau Siria, ketika Ia tahu secara detil apa yang sedang menantiNya di Yerusalem?
17. Apakah perbedaan mendasar antara doa Yesus yang pertama dengan yang kedua ketika Ia berdoa di Taman Getsemani?
18. Mengapa Yesus setelah kebangkitanNya, kembali mengumpulkan murid-muridNya yang sudah meninggalkanNya untuk kembali mengajar mereka bahwa kematianNya bagi orang lain adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan berdasarkan Perjanjian Lama?
19. Setelah mereka menerima kuasa dari Roh Kudus, bagaimana Petrus dan rasul-rasul lain menantang orang Yahudi? Apa makna dari “diamnya” orang Yahudi ketika mereka berulang-ulang dituduh oleh para rasul bahwa mereka telah membunuh Yesus?
20. Mengapa hampir mustahil bagi Muslim untuk bisa, dari dalam diri mereka sendiri mempercayai fakta historis dari salib Yesus dan dalam keselamatan yang sudah diselesaikan bagi mereka? Apa yang dengan tulus harus kita mohonkan kepada Bapa surgawi kita bagi mereka?
21. Mengapa laporan historis dari Tacitus dan Flavius mengenai Yesus dan kematianNya di atas kayu salib penting bagi orang-orang Muslim?
22. Bukti apa yang bisa diambil dari grafiti, (lukisan yang ada pada sebuah dinding) seorang pria yang tergantung di kayu salib dengan kepala seekor keledai di ruang bawah tanah Paladium yang ada di Roma?
23. Mengapa Jamal Abd al-Nasser menegaskan melalui berbagai saluran media bahwa orang-orang Muslim tahu siapa yang sesungguhnya menyalibkan Yesus? Apakah konsekuensi legal dari pengakuannya itu?
24. Bagaimana buku-buku modern Yahudi mengkaitkan penyaliban Kristus?
25. Seberapa sering Qur’an melaporkan pembunuhan para nabi oleh orang-orang Yahudi? Mengapa Muhammad, bertentangan dengan logikanya sendiri, menolak kematian Kristus?
26. Berdasarkan kesaksian palsu dalam Sura Maryam 19:33 apa yang menjadi statement Kristus mengenai kelahiran dan kematianNya? Arti Alkitab yang mana yang bisa kita taruh ke dalam ayat Qur’an yang penting ini?
27. Apa kesamaan dan perbedaan yang bisa anda dapatkan antara kesaksian Kristus (Sura Maryam 19:33) dan laporan Jibril mengenai Yahya (Sura Maryam 19:15)?
28. Mengapa Allah disebut “penipu daya paling ulung” dalam konteks bahwa Kristus dengan diam-diam berhasil meloloskan diri? Bagaimana Alkitab mengomentari ekspresi ini?
29. Apakah tipu daya terbesar Allah dalam relasi terhadap orang Yahudi dan Kristus?
30. Bagaimana Muhamamad bisa menyenangkan orang Kristen dan Muslim secara simultan dengan menggunakan hanya satu ungkapan yang menggambarkan kematian Kristus? Apakah tiga kemungkinan arti dari kata ini?
31. Mengapa Qur’an menegaskan kenaikan Kristus kepada Allah tetapi pada saat yang sama menyangkali eksekusi brutal yang Ia alami?
32. Apakah, berdasarkan Islam, arti dari ungkapan: Kristus hidup tetapi Muhammad mati?
33. Mengapa statement dari orang Yahudi di Sura al-Nisa' 4:157 patut dipertanyakan dan sebenarnya merupakan statement yang salah?
34. Mengapa penyangkalan kuat dari Muhammad bahwa “mereka tidak membunuhnya (dan) menyalibkanNya” memberikan pada kita sebuah kesempatan unik untuk membuktikan bahwa Putera Maria benar-benar disalibkan?
35. Bagaimana para komentator Muslim menjelaskan statement dari Qur’an bahwa Kristus tidak disalibkan tetapi hanya kelihatan sebagai orang yang disalibkan?
36. Mengapa seringkali sia-sia mencoba membuktikan sejarah dari Salib Kristus kepada seorang Muslim jika ia sendiri tidak menuntut bukti seperti itu?
37. Bagaimana kita bisa membimbing seorang Muslim untuk memahami bahwa ia sudah terhilang dan sekarang ada di bawah hukuman?
38. Bagaimana Qur’an menjelaskan bahwa semua Muslim pasti masuk neraka?
39. Dalam deskripsi Qur’anik dari peristiwa ketika Abraham mempersembahkan anaknya kepada yang Maha Tinggi, Bagaimana panggilan Allah kepada Abraham bisa memberikan pada kita sebuah kesempatan unik untuk menjelaskan kepada Muslim natur dari kematian Kristus bagi orang lain?
40. Bagaimana kita bisa membuktikan kepada Muslim pertentangan pasti dari statement Qur’an bahwa “Tak ada orang yang memiliki beban (karena dosa) bisa menanggung (dosa) beban dari orang lain?
41. Apakah Kristus Sang Domba Tuhan juga menebus dosa-dosa semua orang Muslim ketika Ia mati di kayu salib, atau haruskah Muslim mati lagi bagi orang Muslim dengan sebuah cara yang khusus? Jika penebusan mereka bagi Tuhan sudah diselesaikan, mengapa orang-orang Kristen tidak menginformasikan kepada Muslim akan hak-hak surgawi mereka?
42. Berdasarkan pengalaman anda, Injil yang mana yang melaporkan penderitaan dan kematian Kristus sebagai sesuatu yang paling sering diterima oleh Muslim?

Setiap peserta dalam Quiz ini diijinkan menggunakan buku apa pun yang dibutuhkan dan bertanya kepada setiap orang yang bisa dipercaya yang ia kenal, ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Kami menunggu jawaban tertulis anda termasuk alamat lengkap anda di atas kertas atau di email anda. Kami mendoakan anda pada Yesus, Tuhan yang hidup, supaya Ia memberikan terang, mengutus, membimbing, menguatkan, melindungi, dan beserta dengan anda dalam setiap hari yang anda jalani.

Saudaramu dalam pelayananNya

Abd al-Masih dan saudara-saudaranya dalam Tuhan


Kirimkan jawaban anda ke:

GRACE AND TRUTH
P.O.Box 1806
70708 Fellbach
GERMANY

or by e-mail to: info@grace-and-truth.net

No comments:

Post a Comment

Post a Comment