Tuesday, May 10, 2011

Keunikan Bahasa dan Kesalahan Tata Bahasa (Ep 45)

Pertanyaan Mengenai Iman Episode 45

Keunikan Bahasa dan Kesalahan Tata Bahasa

Mohamed:

Para pemirsa terkasih, selamat berjumpa di episode program, “Pertanyaan Mengenai Iman”, dan bersama kita kembali tamu terhormat Pendeta Zakaria Botros. Selamat datang kembali Pak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Terima kasih.

Mohamed:

Kita telah menerima banyak pertanyaan-pertanyaan. Kita akan membagikan beberapa kepada Anda. Surat ini berasal dari Mesir, negara tercinta Mesir: “Kepada Bapak-Bapak, penanggung jawab program “Pertanyaan Seputar Iman” – sebenarnya “Pertanyaan Mengenai Iman” – kepada pendeta saleh, Bapak Zakaria Botros, damai dan anugerah. Pertama-tama saya ingin menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya atas usaha yang hebat, yang dituangkan dalam program yang disiarkan di saluran Al Hayat. Dan saya seorang penonton program yang tekun.

Saya ingin agar Anda mengirimkan sebuah buku “Sons of Ishmael” (Anak-anak Ismail). “Sons of Ishmael” (Anak-anak Ismail) adalah sebuah buku yang diterbitkan beberapa waktu yang lalu. Ada kesaksian-kesaksian dalam buku ini yang berasal dari orang-orang yang dulunya penganut Islam dan sekarang mereka adalah orang-orang yang percaya kepada Allah kami. Sekarang mereka mengenal Allah yang benar.” Kita mempunyai buku ini dan memberikannya sebagai hadiah bagi para pemirsa.

Kita mempunyai sebuah surat lainnya. Sepertinya berasal dari negara Eropa; dari Jerman atau… Ya, Jerman. “Kepada keluarga yang terhormat dari program indah ini dan kepada seluruh keluarga saluran Al Hayat. Rekan-rekan orang percaya, ini adalah pertama kalinya saya menulis kepada Anda dan saya sangat senang menulis kepada Anda. Dan walaupun saya hanya melihat program indah Anda dua atau tiga kali, saya mereka saya telah menjadi anggota dari keluarga yang indah ini. Dan saya akan merasa sangat terhormat jika Anda menerima saya sebagai seorang saudara perempuan dan seorang teman Anda. Saya berharap kita dapat berkomunikasi dan berkorespondensi. Dan saya akan selalu berterima kasih kepada Anda. Dan ini menambahkan hak istimewa saya.” Kami bersyukur kepada Allah untuk saudari kami, Khalda, dan kami bersyukur kepada Allah atas semua anggota keluarga surgawi, karena ada satu keluarga yang mengikatkan kita kepada satu Allah dan satu Penyelamat. Terima kasih. Kita mempunyai banyak pertanyaan.

Kita kembali ke topik keunikan bahasa dan kesalahan tata bahasa yang didasari dengan asumsi bahwa Al Qur’an adalah dasar dari kefasihan. Para pengaju pertanyaan berkata, “Al Qur’an adalah dasar dari kefasihan, karena tidak seperti Kitab Suci, Al Qur’an bercirikan keunikan bahasa yang sempurna.” Jadi apa pendapat Anda mengenai pertanyaan ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Amin. Pertama-tama, ada sebuah pertanyaan yang tertunda di episode sebelumnya. Jadi dapatkan kita menggabungkannya dengan pertanyaan lainnya, setelah kita menyelesaikan bahasan kita hari ini?

Mohamed:

Mari kita sisakan pertanyaan itu untuk akhir acara. Apakah bisa?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Saya berterima kasih. Sebenarnya, dalam membicarakan keunikan bahasa Al Qur’an, sebenarnya tidak ada keragu-raguan bahwa telah banyak dibicarakan oleh banyak orang, termasuk Dr. Zaghlool Al Najjar, dalam bukunya yang berjudul “From The Verses of Scientific Inimitability in The Holy Al Qur’an” (Dari Keunikan Ilimiah Ayat-Ayat dalam Al Qur’an Suci). Ia mengatakan, “Allah Muhammad kami datang di masa ketika karakteristik utama Semenanjung Arab merupakan kefasihan, pidato, dan ungkapan pelembut.” Dan ia berkata, “Dan oleh karena itu, sama seperti Musa datang di masa sihir, dan Isa datang di masa obat-obatan, Muhammad juga, datang di masa bahasa.” Dan oleh karena itulah, ada keunikan bahasa Al Qur’an. Tetapi saya bertanya-tanya, dan saya yakin saya mempunyai hak untuk melakukan hal itu. Baiklah, kita di sekolah dasar mempelajar bahasa Arab dari kelas satu, dari awal, dan kita mengetahui kaidah “sesungguhnya”, atau “Inna”, dan saudara-saudaranya. “Sesungguhnya” menjadikan subyeknya akustip atau penderita.

Mohamed:

Dan menjadikan obyeknya nominatif.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Dan menjadikan obyeknya nominatif. Jadi contohnya, kita dapat berkata ‘Hathan Telmithan’ – ini adalah dua orang murid – sebuah subyek nominatif dan sebuah obyek nominatif. Ketika ’sesungguhnya’ – Inna – diperkenalkan ke kalimatnya, kita harus berkata: “Inna Hathayne Telmithan. Inna Hathayne.” Tetapi ketika saya membaca Al Qur’an dan saya sampai ke subyek ‘Inna’, di lebih dari satu kejadian, dan di lebih dari satu ayat, kita menemukan subyek ‘Inna’ dalam bentuk nominatif. Contohnya, Surat ke 20 (Ta Ha), ayat 63. Surat ke 20 (Ta Ha), ayat 63: “Inna Hathan Lasaheran” – “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir” – Dan supaya tidak ada orang yang mencurigai bahwa saya membuat-buat hal ini, dan menuduh dengan licik, dan ini tidak benar ataupun tepat sama sekali, Anda tahu bahwa saya mengacu kepada para pemberi komentar. Jadi komentar Al Qurtoby mengatakan sebagai berikut.

Mohamed:

Ini di Surat ke 20 (Ta Ha), bukan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, Surat ke 20 (Ta Ha), ayat 63.

Mohamed:

Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Komentar Al Qurtoby atas ayat ini mengatakan, “Abu Amr mengutipnya: ‘Inna Hathan Lasaheran’ – ‘Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir.’” Jadi disini ia sampai pada salah satu variasi bacaan Al Qur’an. Yang benar adalah “Inna Hathayne…” – “Sesungguhnya, ini adalah keduanya.” Dan selebihnya, telah dituturkan di pegunungan Uthman dan ‘Aisha, semoga Allah disenangkan oleh mereka… Mereka juga menuturkannya: “Inna Hathayne…” – “Sesungguhnya, ini adalah keduanya.” Dan banyak teman-teman sang rasul lainnya yang mengatakan: “Inna Hathayne…” – “Sesungguhnya, ini adalah keduanya.” Dengan begitu, Al Hassan dan Saeed Ibn Jubair juga menuturkannya sama seperti Ibraheem Al Nakh’y, sama seperti para pengikut lainnya. Anda tahu, ada para teman dan para pengikut. Mereka juga, membacanya: “Inna Hathayne…” – “Sesungguhnya, ini adalah keduanya.” Dan diantara para pembaca yang membacanya seperti Eissa Ibn Omar dan Asem Al Jahdary baca. Baiklah, mengapa di sini tertulis “Hathan”? Sekarang dengarkan tambahan dari Al Qurtoby.

Mohamed:

Saya lihat ini sebagai kesetiaan dan keberanian dari Al Qurtoby.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Dengarkan apa yang ia katakan, sebagai tambahan. Apa yang akan Anda katakan ketika mendengar apa yang telah ia katakan di sini? Ia katakan dalam komentarnya, “Dan bacaan ini, “Inna Hathayne…” – “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir”(1)… bacaan ini sesuai dengan pemecahan kata dan infleksi atau nada suara.” Benar. Tetapi dengarkan apa yang ia katakan selanjutnya: “Akan tetapi ini bertentangan dengan Al Qur’an. Sesuai dengan infleksi dan hukum tata bahasa, bertentangan dengan Al Qur’an.” Tidak, Al Qur’an-lah yang tidak sesuai dengan tata bahasa dan pemecahan kata, sebetulnya dan sejujurnya. Bukankah begitu?

Mohamed:

Ini sangat serius. Tetapi Anda berdiri di atas keberanian Al Qurtoby mengenai hal ini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tentu saja. Tidak ada seorangpun yang akan mengatakan hal itu, kecuali ia sangat berani. Tentu saja ia berani. Dan, hal keberanian ini mengingatkan saya atas sebuah artikel yang ditulis oleh anggota dewan Mohamed Al Ashmawy, di majalah “Rose Al Yosof”, tanggal 22Augustus 2003, dengan sebuah judul yang sangat hebat. Ia menulis dengan judul: “Orang-orang Muslim saat ini tidak menanggung apa yang mereka telah katakan seribu tahun yang lalu.” Yaitu, apa yang telah dikatakan seribu tahun yang lalu terlalu berani bagi orang-orang saat ini. Maksud saya bahwa Al Qurtoby, seribu tahun yang lalu, mengatakan bahwa ini sesuai dengan tata bahasa, bertentangan dengan Al Qur’an. Apakah mereka dapat mengatakan hal seperti ini sekarang? Tidak akan pernah. Jadi Al Ashmawy memberitahu mereka, apa yang dikatakan seribu tahun yang lalu, tidak ada seorangpun di masa sekarang ini yang berani mengatakannya.

Mohamed:

Terima kasih kepada anggota dewan Mohamed Al Ashmawy, karena ia telah mempunyai keberanian untuk mengatakan hal-hal seperti ini. Itu benar. Apakah Anda mempunyai contoh-contoh lainnya mengenai ketidaksesuaian Al Qur’an dengan hukum tata bahasa?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Banyak.

Mohamed:

Banyak?.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Oh, ya... Ratusan kesalahan. Di Surat ke 5 (Al Maidah) ayat 69, dikatakan: “Inna Al Latheena amano wal latheena haado wa Al Sabeoon…” – “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin.” Dan mengapa ini? “Wa Al Sabeoon.” The “wa” – “dan” sebagai koordinasi, berguna sebagai tambahan terhadap subyek “Sesungguhnya,” “Inna.”

Mohamed:

Maksud Anda, “Al Sabe’een.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Al Sabeen” – ”Orang Shabiin”.

Mohamed:

Di surat yang mana?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Di Surat ke 5 (Al Maidah) ayat 69. Ia akan mengatakan. Tidak, “Al Sabeoon” – ”Shabiin”, benar. Tunggu sebenar, karena di Surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 62: “Inna Al Latheena amano wal latheena hado…” – “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi,” kata-kata yang sama, “Wa Al Sabe’een...” – ”Shabiin.” Sekarang beritahu saya, yang mana yang benar? “Al Sabeoon”, atau “Al Sabe’een”? Baiklah, jika ia berkata “Al Sabeoon” benar, saya beritahu dia bahwa Surat ke 2 (Al Baqarah) salah, dan jika ia berkata Surat ke 2 (Al Baqarah) benar, jadi Surat ke 5 (Al Maidah) salah.

Mohamed:

Maksud Anda Surat ke 2 (Al Baqarah)?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, Surat ke 2 (Al Baqarah) dan Surat ke 5 (Al Maidah). Ada ketidak-sepakatan diantara keduanya. Dan di Surat ke 22 – yaitu, Surat (Al Hajj) – dikatakan: “Inna Al Lathena Amano Wa Al Latheyna Hado Wa Al Sabe’een…” – “Sesungguhnya, orang-orang mukmin dan orang-orang Yahudi, Shabiin”. Jadi Surat ke 22 (Al Hajj) setuju dengan Surat ke 2 (Al Baqarah) dan kemudian Surat ke 5 (Al Maidah) membutuhkan apa…?

Mohamed:

Penjelasan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Penjelasan.

Mohamed:

Membutuhkan penjelasan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Membutuhkan penjelasan, untuk menjelaskan pertentangan mengenai kata yang sama. Ayat yang sama diulang kata demi kata, dengan pengecualian bahwa di satu tempat kata ini nominatif dan ayat yang sama di tempat lainnya, kata “Inna” akusatif. Ini membutuhkan interpretasi. Di torah yang dilestarikan, apakah tertulis: “Al Sabeoon” atau “Al Sabe’een”? “Dan Kami telah mengirimkan Pengingat dan Kami menjaganya.” Apakah “Kami menjaganya” “Al Sabeoon” atau “Al Sabe’een”? Ini semua adalah tanda tanya.

Mohamed:

Saya hamipir… Saya hampir mendengar Anda mengatakan bahwa ini bukanlah perkataan Allah. Benar?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ini adalah kesimpulan akhir, dan ini diserahkan kepada kebijaksanaan para pemirsa. Biarkan mereka mempelajari dan menelitinya. Masalah ini membutuhkan pembelajaran yang teliti.

Mohamed:

Saya tidak percaya bahwa ada banyak contoh-contoh mengenai hal ini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Oh tidak, bapak yang terkasih. Ada banyak. Ada sangat banyak. Dengarkan. Di Surat ke 4 (Al Nisaa), ada sebuah contoh lainnya. Surat ke 4 (Al Nisaa) ayat 162 berkata sebagai berikut: “Laken Al Rasekhoon Fi Al Elm Menhom Wa Al Moenmenoona Wa Al Mokemeena Al Salat Wa Al Maotoona Al Thakat Wa Al Moamenoona Be Allah” – “Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur'an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan salat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” Ini “Laken” – Tetapi – tidak dengan dua kali “Noon”. Jika “Lakenna”, namanya akan menjadi akusatif. Inilah yang hukum bahasa beritahu kita. Tetapi disini adalah “Laken.” “Noon” mempunyai sebuah “Sokoon”, dan oleh karenanya, namanya tidak diletakkan sebagai akusatif. Jadi namanya tetap nominatif. Dan oleh karena itu, dikatakan “Laken Al Rasekhoon – nominatif – “Wa Al Moemenoona – orang-orang mukmin – nominatif – “Wa Al Mokemeena” – “orang-orang yang mendirikan,” ditambahkan kepada kata benda nominatif.

Mohamed:

Maksud Anda, “Al Mokemoona Al Salat.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Baiklah, seharusnya: “Wa Al Mokemoona” – “mereka yang terus,” supaya menjadi benar.

Mohamed:

Itu ada di Surat ke 4 (Al Nisaa).

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya. Surat ke 4 (Al Nisaa) ayat 162. Dan buktinya adalah ayat tersebut melanjutkan: “Wa Al Moatoon” – ”orang-orang yang terus” – nominatif – “Al Thakat, Wa Al Moamenoona Be Allah,” – “menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah,” – nominatif. Jadi mengapa mempunyai itu di tengah-tengah, tidak sesuai dan menjadi akusatif? Ini sebuah masalah.

Mohamed:

Ini sebuah kesalahan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Baiklah, mari kita lihat … kita tidak dapat mengatakannya, tetapi marilah kita lihat apa yang dikatakan para pemberi komentar. Jika Anda mengijinkan, berhubungan dengan pandangan Anda.

Mohamed:

Baiklah, terlihat, seperti yang Anda katakan, bahwa ini adalah sebuah kesalahan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Seperti yang Anda lihat di permukaan… tetapi marilah kita mengacu kepada para pemberi komentar, karena kita tidak mempunyai hak untuk mengartikan Al Qur’an. Ya. Marilah kita melihat apa yang Al Tabary katakan. Ia berkata, “Mereka yang memberikan pendapat atas hal ini, tidak menyetujui alasan mengapa hal ini tidak sesuai dengan tata bahasa.” Mereka tidak setuju. Ia mengakuinya. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa ini adalah kesalahan tulisan. Dan bentuk yang benar adalah: “Wa Al Mokemoona Al Salat,” – “orang-orang yang terus mendirikan salat.” Aha! Jadi sekarang ia mengakui bahwa itu seharusnya “Al Mokemoona,” – “orang-orang yang terus.” Dan sekarang kesalahannya ada di? Di penulis. Ya, penulisnya bukan masalah saya. Masalah saya adalah mereka yang mengatakan, “Kami telah mengirimkan Pengingat dan Kami menjaganya.” Mengapa Ia akan membiarkan penulisnya membuat kesalahan? Mungkin penulisnya membuat lebih banyak kesalahan, dan ini hanyalah yang terlihat dan yang kita temui. Jadi bagaimana kita tahu, karena kita telah mengijinkan prinsip kesalahan penulisan... Baiklah, penulisnya juga dapat membuat kesalahan dalam arti, asal, dan seterusnya. Apakah saya benar atau salah? Jadi disini ia mengatakan bahwa ini adalah kesalahan penulisan. Dan Al Tabary juga menambahkan, mengutip Al Zobair, dengan mengatakan: “Aku berkata kepada Aban Ibn Uthman Ibn Affan, “Saya heran mengapa tertulis Laken Al Rasekhoon Fi Al Elm Menhom, bahkan mereka yang ahli dalam pengetahuan…” “Wa Al Mokemeena Al Salat,” – orang-orang yang terus mendirikan salat.” Ia berkata, “Penulisnya, ketika ia menulis Laken Al Rasekhoon Fi Al Elm Menhom, bahkan mereka yang ahli dalam pengetahuan, sampai ke kata ini: “Al Mokemoona,” – “orang-orang yang terus”, dan bertanya: “Apa yang seharusnya aku tulis?” Dan dikatakan kepadanya, Tulis “Wa Al Mokemeena Al Salat,” – “orang-orang yang terus mendirikan salat.” Jadi ia menulis apa yang telah diperintahkan. Jadi sekarang ini bukanlah kesalahan penulisnya, ini adalah kesalahan pendiktenya. Jadi sekali waktu mereka mengatakan ini penulisnya, dan di waktu yang lainnya mereka mengatakan ini pendiktenya. Baiklah, masalah saya bukan penulis atau pendiktenya. Dimana Allah? Dimana torah yang dilestarikan? Seharusnya itu harus benar-benar sesuai dengan torah yang dilestarikan. Dimana itu? Al Tabary melanjutkan alasannya dengan mengatakan: “Di pegunungan Hesham Ibn Orwa, mengutip ayahnya, bahwa ia bertanya kepada ‘Aisha mengenai pernyataan: “Wa Al Mokemeena Al Salat,” – ”orang-orang yang terus mendirikan salat.” Mengapa ditulis seperti itu? Dan juga mengenai pernyataannya: “Al Latheyna Hado Wa Al Sabeoon,” – “orang-orang mukmin dan orang-orang Yahudi, Sabiin,”” semuanya tidak sesuai. Dan mengenai pernyataannya: “Inna Hathayne Lasaheran,” – “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir,” ia bertanya kepada ‘Aisha, dan ia menjawab, “Oh, keponakanku, itu semualah yang dilakukan para penulis! Mereka membuat kesalahan dalam menulis.” Baiklah, ini benar-benar mencengangkan. Jadi bagaimana dengan hal-hal yang tidak kita ketahui? Apakah mereka salah atau benar? Karena mereka telah mengijinkan prinsip kesalahan penulisan, ini sebuah masalah. Untuk mengijinkan prinsip seperti itu sama seperti mengatakan bahwa ia telah membuat kesalahan-kesalahan lainnya, yang kita tidak sadari. Dan itu tepat seperti yang Al Sajestany katakan. Abu Dawood Al Sajestany, dalam bukunya “Al Masahef”, halaman 34. Ia mengatakan hal yang sama bahwa ‘Aisha berkata, kata demi kata, bahwa itu merupakan kesalahan penulisnya. Dan oleh karena itu, sekarang para peneliti bertanya… mereka bertanya apa implikasi dari kesalahan penulisan? Kalau begitu, dimana kekuasaan ayat yang mengatakan: “Kami telah mengirimkan Pengingat dan Kami menjaganya.” Dan para peneliti juga tertantang untuk bertanya, “Jadi, apakah Al Qur’an diilhami oleh Allah?” Dan saya menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, yang melebihi garis merah, dan saya berkata, berikan kesempatan kepada para ulama… para ulama, interpretasi, dan Al Qur’an serta bahasa, untuk menyampaikan kata-kata mereka. Dan jika mereka tidak memberikan jawaban yang meyakinkan, merupakan hak baik Anda untuk tidak setuju dan menyatakan pendapat Anda, yang dijamin oleh hukum, adat istiadat, dan agama. Jadi isunya tidak kecil.

Mohamed:

Oh, tidak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ini sebuah pengakuan atas kesalahan tata bahasa dalam Al Qur’an. Dan bukan hanya satu, dua, atau tiga kesalahan… ada banyak.

Mohamed:

Anda berkata bahwa semua pertanyaan ini melebihi garis merah. Jadi ada peneliti-peneliti yang meneliti hal ini dengan teliti serta para ulama yang dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan ini. Akan tetapi, bagaimana dengan orang biasa? Pemirsa biasa, yang tidak mempelajari semua rincian tersebut. Apakah ada kesalahan yang jelas, yang dapat dibuktikan oleh orang biasa, yang dapat menangkapnya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya. Tentu saja ada hal-hal yang oleh para ahli… hanya para ahli yang mengetahuinya. Dan saya tidak mau menyentuh hal itu hari ini. Dalam percakapan saya, saya menyentuh pemirsa dari segala lapisan, diantaranya adalah orang-orang berpendidikan, mereka yang membenci orang-orang Arab, dan mereka yang membenci tata bahasa. Jadi saya tidak mau menyentuh hal-hal khusus. Saya menyisakannya untuk waktu dimana ada orang-orang ahli yang mau membahasnya dengan saya. Tetapi saya berbicara mengenai topik “Inna”, obyek “Inna”, subyek “Kana”, dan obyek “Kana”… Semua hal yang telah kita pelajari di sekolah dasar. Diantara kesalahan-kesalahan tersebut adalah meletakkan subyek sebagai akusatif. Subyeknya, seperti yang banyak dikenal, seharusnya nominatif.

Mohamed:

Aha!

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tetapi bagaimana Al Qur’an, yang sangat memiliki keunikan bahasa, meletakkan subyek sebagai akusatif? Bagaimana ini bisa? Dengarkan Surat ke 2 (Al Baqarah), ayat 124. Dikatakan, “La Yanal Ahdy Al Thalemeen.”

Mohamed:

Seharusnya” Al Thalemoon.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya. “La Yanal Al Thalemoona Ahdy.” Jadi “La Yanal” bersangkutan dengan maju dan mundur. “La Yanal Ahdy Al Thalemoon.”. Itu adalah subyek. Benar? Jadi mengapa? Imam Al Tabary berkata sebagai berikut, dalam komentarnya atas ayat ini. Ia berkata, “Terjadi di Mushaf Ibn Masood, “La Yanal Ahdy Al Thalemoon.” Ibn Masood benar. Jadi mengapa salah di Uthman? Dan mengapa sebuah versi yang sah, yang diterima oleh semua orang dan didistribusikan kemana-mana, salah? Ini sebuah pertanyaan besar.

Mohamed:

Dan salinan Ibn Masood tidak ada lagi.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tidak, salinannya ada. Ia membawanya pergi ketika ia meninggalkan Irak dan tidak menyerahkannya kepada Uthman Ibn Affan. Ada di situ.

Mohamed:

Dan salinan tersebut berbeda dengan semua Al Qur’an yang ada disini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, sangat sayang… sangat sayang. Dan orang menjadi bingung. Al Qur’an yang benar?

Mohamed:

Apakah ada contoh-contoh lainnya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, tentu saja. Baiklah, Anda tidak akan kehabisan persediaan. Penuh sampai kepinggir. Dengarkan temanku terkasih. Di Surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 177, dikatakan sebagai berikut: “Laysa Al Berra An Towalwo Wujuhakom Kebla Al Mashrek Wa Al Maghreb,” – “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan.” “Laysa Al Berra.” Laysa adalah salah seorang saudara perempuan Kana. Ini menempatkan kata bendanya sebagai nominatif. Jadi seharusnya “Laysa Al Berro.” Dan supaya tidak dituduh sebagai suatu fabrikasi, mungkin kita tidak mengetahui bahasa Arab. Benar bahwa bahasa kita adalah bahasa Coptic, tetapi mereka memotong lidah kita untuk mencegah kita berbicara bahasa Coptic, dan mereka memaksa kita mengenal bahasa Arab. Tetapi saya merasa mereka akan sangat menyesal karena telah mengajarkan kita bahasa Arab. Dengarkan saya Pak. Ayat yang tepat di Surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 189 menyatakan: “Wa Laysa Al Berro Be An Ta’to Al Buyoota Men Thehoreha.” – “Bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya.”(2) Akan tetapi di surat yang sama, dengan tidak lebih dari sepuluh ayat diantaranya, muncul dengan pemecahan kata yang berbeda, di ayat 177: “Laysa Al Berra”, dan di ayat 189: “Wa Laysa Al Berro.” Yang mana yang benar? Sebuah masalah! Mari kita dengar apa yang Al Qurtoby katakan. Al Qurtoby berkata, Hamza dan Hafs mengulangnya ‘Al Berra’, sebagai akusatif. Tetapi yang lainnya mengulangnya ‘Al Berro’, seperti subyek Laysa.” Dan juga seperti itu di salinan Obay: “Laysa Al Berro,” dan begitu juga di salinan Ibn Masood, yang paling banyak diikuti oleh para pengulang. Dan mari kita ke sini sekarang. Apakah Anda mengikuti? Siapakah ini? Warsh... Mari kita ke Warsh, halaman 27, melihat apa yang dikatakannya. Kita berkata, “Laysa Al Berra”, bukan? Tetapi mari kita ke sini dan melihat apa yang ia katakan “Laysa Al Berro An Towalwo Wujuhakom Kebla Al Mashrek Wa Al Maghreb.” – “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan.”

Mohamed:

Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Laysa Al Berro An Towalwo Wujuhakom” dan ini dia: “Laysa Al Berra An Towalwo Wujuhakom.” Ini Uthman dan ini, “Laysa Al Berra”, dan yang ini “Laysa Al Berro.” Garis bawah di sini…

Mohamed:

Dan ini adalah salinan-salinan yang ada di peredaran saat ini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Yang ini ada di peredaran di Mesir dan sebagian besar negara-negara. Tetapi yang itu milik Moroko. Dan yang ini setuju dengan yang itu. Maksud saya salinan Kaloon. Ini dia. Dengarkan temanku: “Laysa Al Berro An Towalwo Wujuhakom.” Jadi ada dua “Al Berro”, dan satu “Al Berra”… Di Surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 176.

Mohamed:

Aha!

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Laysa Al Berro.” Apakah Anda melihat bagaimana ini? Ini adalah Mushaf yang ada. Saya tidak berbicara mengenai hal-hal yang tidak ada, tetapi nominatif dan akusatif.

Mohamed:

Hal yang sangat aneh. Sangat ajaib, benar … benar, benar aneh. Dan merupakan suatu keharusan bagi semua orang untuk mempertanyaan perbedaan-perbedaan ini. Ini alami. Baiklah, apakah Anda mempunyai contoh-contoh lainnya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tentu saja. Tapi jangan menggoda saya. Tentu saja, ada sangat banyak. Ada Surat ke 30 (Ar Rum) ayat 10, dimana dikatakan: “Thumma Kana Akebata Allatheena Asaoo Al Soaa.” – ” Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk,” “Thumma Kana Akebata?” Kata benda Kana pasti nominatif. Dan bagaimana disini muncul sebagai akusatif? “Kana Akebata.” Al Qurtoby berkata sebagai berikut, “Nafea dan Ibn Katheer dan Abu Amr mengulangnya, ‘Thoma Kana Akebato,’ dalam nominatif. Dan Al Qurtoby sendiri menjelaskan alasannya, dengan mengatakan bahwa itu adalah subyek Kana. Lihat di sini… lihatlah. Silahkan, lihatlah… halaman 405. Dan di sini juga. Halaman 405.

Mohamed:

Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Akebato.” Dengan sebuah “O.”

Mohamed:

Ya, dengan sebuah Damma.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Dan ambil yang ini…

Mohamed:

Dan yang ini mengatakan “Akebato” juga… hal yang sama. Tidak berbeda.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Baiklah. Lihat di sini, tidak ada perbedaan di sini. “Akebato” dan “Akebato.” Tetapi lihatlah yang di sini. Di sini: “Thumma Kana.”

Mohamed:

“Aakebata Al Latheena.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Kana Akebata”, dalam akusatif. Inilah keduanya, Kaloon dan Warsh. “Akebato.” Tetapi di Uthman, “Akebata.”

Mohamed:

Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Kredibilitasnya hilang. Jadi siapa yang benar dan siapa yang salah? Terus terang ini meragukan. Dan masalahnya membutuhkan sebuah jawaban yang pasti dari para ulama Al Azhar dan Islam yang terhormat.

Mohamed:

Kita telah mencakup banyak hal yang terlihat bertentangan. Tetapi saya masih mempunyai sebuah pertanyaan. Ini adalah salah satu pemirsa yang mengajukan pertanyaan: “Anda percaya bahwa Isa Al-Masih adalah Allah. Jadi siapa yang memerintah dunia ketika Isa Al-Masih ada di atas salib? “Atau ketika Allah mati?” Jika saya boleh menjawab… inilah kebingungannya. Inilah pikiran manusia.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tentu saja. Kebingungan orang-orang Muslim terkasih kita dikarenakan mereka tidak melihat Isa Al-Masih memiliki sifat manusia dan keilahian, seorang manusia sempurna yang dihuni oleh Allah, perwujudan, menetap… yang kita katakan di episode sebelumnya. Seperti Ia mewujudkan diriNya di gunung, dan sama seperti Ia mewujudkan diriNya di pohon. Jadi jika Ia telah mewujudkan diriNya di sebuah batu dan sebatang pohon. Jadi jika Ia telah mewujudkan diriNya dalam sebuah batu dan sebatang pohon, tidaklah berlebihan untuk mewujudkan diriNya dalam seorang manusia. Jadi yang mati itu, yang makan dan minum, itu adalah manusia. Bagian yang meninggal dunia adalah manusia. Tetapi keilahianNya tidak terpengaruh, Seperti besi.

Mohamed:

Allah tidak mati.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Seperti besi. Jika Anda mempunyai sebatang besi dan Anda memanaskannya di api, dan ketika Anda mulai menempanya ... Apa yang Anda tempa sekarang? Besi. Tetapi api adalah suatu unsur yang tidak dapat Anda tempa, api tidak terpengaruh. Jadi keilahian seperti api dan kemanusiaan seperti besi. Penyaliban terjadi pada besi, kematian terjadi pada besi, maksud saya kemanusiaan, dan bukan pada Allah. Allah kekal, karena Ia bukan duniawi. Ia tidak dapat mati.

Mohamed:

Aha!

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya.

Mohamed:

Ada sebuah pertanyaan lainnya lagi. “Jika Anda percaya bahwa Isa Al-Masih adalah Allah, apa artinya ketika Ia berkata di salib ”AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?””

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Benar. “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, menyangkut sebuah cerita yang sangat indah. Dalam doa selalu ada, apakah itu bani Israil, pengikut Isa Al-Masih, ataupun orang Muslim, Imam atau pemimpin gereja yang memimpin doa membukanya dengan membuat pernyataan ini. Contohnya, ia berkata dalam Islam, “Allahu Akbar”, dan semua orang mengikuti dia… “Allahu Akbar.”

Mohamed:

Mereka mengulang hal yang sama.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bukankah itu benar? Dan dalam agama bani Israil seperti itu, dan begitu juga di ajaran Isa Al-Masih. Kita katakan, “Mari kita katakan ‘Zabur kasihanilah aku Allah’, tetapi kita tidak mengatakan, “Mari kita berkata.” Kita hanya berkata, “Ya, kasihanilah aku, Allah.” Dan semua orang akan mengikuti… “Kasihanilah aku Allah, sesuai dengan kebesaran belas kasihanMu.” Mereka mengulang. Jadi Isa Junjungan kita Yang Ilahi, imam tinggi di salib, berkata kepada mereka: “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ini adalah Zabur 22 dibuka dengan ini, dengan kata-kata ini. Jadi apa poinnya? Poinnya adalah Zabur 22 penuh dengan nubuatan mengenai penyaliban Isa Al-Masih. Seperti Isa Al-Masih sedang memberitahu bani Israil, “Apa yang engkau lakukan kepada Aku sekarang, tepat seperti ini, telah diramalkan di Kitab Taurat.” Inilah yang Ia katakan di dalamnya. “Cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. Semua yang melihat Aku mengolok-olok Aku”, “KekuatanKu kering seperti beling”, “ Mereka menusuk tangan dan kakiku.” Nabi Daud tidak ditusuk tangan dan kakinya. “Mereka membagi-bagi pakaianKu di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahKu.” Jadi Ia mengingatkan mereka bahwa kejadian penyaliban akan digenapi. Dan oleh karenanya, Ia mengatakan hal berikut: “Sudah selesai!” Yaitu, nubuatan-nubuatan ini sekarang selesai atau digenapi, di hadapan mata kamu. Jadi itu adalah untuk penebusan dan penyelamatan. Untuk penebusan dan penyelamatan.

Mohamed:

Untuk penebusan dan penyelamatan. Kami berterima kasih, Pak Pendeta. Dan kita akan berjumpa kembali dengan Anda di episode lainnya.

Pemirsa terkasih, syukur kepada Allah, yang ingin mengkomunikasikan pesanNya dan kasihNya kepada kita, umat manusia. Karena Ia berkata kepada kita dalam Kitab Suci, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga. “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba.” Terima kasih, dan sampai kita berjumpa kembali di episode lainnya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Amin.


Texts being used:

The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.

The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.

The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/

Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind

Notes on this episode:

(*) For verses that is not clearly defined, the translation is done directly as the text said, not taken from the quote in the Bible – Untuk ayat-ayat yang tidak direferensikan secara jelas, terjemahan dilakukan secara langsung seperti apa kata text, bukan diambil langsung sesuai dengan teks dari Kitab Suci.

(1) Please check the original script. It doesn’t seem right. – Mohon cek naskah asli. Sepertinya tidak benar.

(2) English version is different from Indonesian version. However, based on the context, the Indonesian version sounds right. Should be “Bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya,” instead of “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan.” We use Indonesian version. – Ayat dalam versi Inggris berbeda dengan versi Indonesia. Akan tetapi, berdasarkan konteks tulisan versi Indonesia sepertinya lebih benar. Seharusnya “Bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya,” bukan “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan.” Kita menggunakan versi Indonesia.

(4) The translation of collyrium is not found. – Terjemahan collyrium tidak ditemukan.

Tuesday, May 3, 2011

Pertentangan-Pertentangan Al Qur’an Jawaban atas Sensus Israel (Ep 44)

Pertanyaan Mengenai Iman Episode 44

Pertentangan-Pertentangan dalam Al Qur’an Jawaban atas Sensus Israel

Mohamed:

Pemirsa terkasih, selamat berjumpa di episode lainnya dari program “Pertanyaan Mengenai Iman.” Dan sekali lagi, kita kedatangan tamu terhormat, Pendeta Zakaria Botros. Selamat datang kembali.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Terima kasih.

Mohamed:

Kita telah menerima banyak surat baik dari negara-negara Arab maupun Eropa, dan saya akan membagikan beberapa surat-surat tersebut kepada Anda. Kita mempunyai sebuah surat yang kita terima dari Maroko. Saya tidak melihat namanya disini. Dikatakan, ”Kepada keluarga program indah “Pertanyaan Mengenai Iman”, salam hangat dan damai bagi Anda semua. Merupakan sebuah kehormatan besar untuk mengambil sebuah pena dan menulis surat ini, setelah saya mengikuti program hebat ini, “Pertanyaan Mengenai Iman”, oleh Pendeta Zakaria Botros dan saudara Mohamed, pembawa acara program ini. Saya berterima kasih atas program yang indah dan menarik ini.”


Thursday, April 28, 2011

Perbedaan-Perbedaan dalam Tulisan Teks Al Qur'an (Ep 43)

Pertanyaan Mengenai Iman Episode 43

Pertanyaan Mengenai Iman Episode 43

Perbedaan-Perbedaan dalam Tulisan Teks Al Qur’an

Mohamed: Pemirsa terkasih, selamat berjumpa lagi di episode baru “Pertanyaan Mengenai Iman”, dan bersama kita hari ini adalah tamu kita terhormat, Bapak Pendeta Zakaria Botros. Selamat datang Pak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Terima kasih.

Mohamed: “Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, yang sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.” “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar; Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” Inilah yang Rasul Pa’ul nasihatkan untuk kita lakukan, karena ia ingin agar kita memuliakan Allah karena kita adalah ciptaanNya dan sangat berharga di hati Allah. Kita telah menerima banyak surat dari negara yang berbeda-beda. Dan surat ini, khususnya dari Saudi Arabia menarik perhatian saya. Suratnya mengatakan, “Dalam nama Allah yang disembah oleh semua orang, kepada program “Pertanyaan Mengenai Iman”, saya memberikan rasa terima kasih terdalam atas program yang berhasil ini, agar semua orang dapat mengenal kebenaran dan saya berterima kasih khususnya untuk Pendeta Zakaria Botros atas usahanya yang bijaksana untuk menyampaikan kebenaran. Tetapi saya mempunyai beberapa pertanyaan dan saya ingin agar Anda dapat memberikan jawabannya kepada saya, apakah di dalam program itu sendiri, atau dalam sebuah surat yang dikirim ke alamat yang tertulis di amplop ini.

Thursday, April 21, 2011

Keanekaragaman dan Perbedaan Mushaf-Mushaf (Ep 42)

Pertanyaan Mengenai Iman Episode 42

Keanekaragaman dan Perbedaan Mushaf-Mushaf

Mohamed:

Pemirsa terkasih, selamat berjumpa lagi di “Pertanyaan Mengenai Iman”. Bersama kita, tamu kita terhormat Bapak Pendeta Zakaria Botros. Selamat datang lagi Pak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Terima kasih.

Mohamed:

Pemirsa terkasih, rasul Pa’ul berkata: “Bukan aku, melainkan anugerah Allah yang bersama dengan aku.” Kami bersyukur kepada Allah atas anugerahnya, yang menawarkan kesempatan kepada kita untuk mengatakan kebenaran. Satu pesan yang kita terima dari Irak terkasih. Penulis suratnya mengatakan ini dalam suratnya, “Bapak Zakaria yang mulia dan terhormat, sejak program yang pertama, hidup dalam hati dan ruh saya, sebuah cahaya yang tidak dapat dipadamkan. Saya mengikuti program ini setiap hari untuk menikmati setiap dan semua perkataan Anda. Dan bersyukur kepada Allah dan pengetahuan Anda yang asli, Anda telah memberikan cahaya kepada titik yang gelap, yang telah berabad-abad tidak diketahui oleh orang-orang Muslim karena ketidakpedulian dan kesalahan. Ketika Anda membaca ayat, “Ketika Musa telah menyelesaikan masanya,” Saya tidak menemukannya di Al Qur’an saya di Surat ke 28 (Al Qasas): ‘Tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa’”.


Thursday, April 14, 2011

Kemungkinan Mengritik Islam, Al Qur’an, dan Muhammad (Ep 41)

Pertanyaan Mengenai Iman Episode 41

Kemungkinan Mengritik Islam, Al Qur’an, dan Muhammad

Mohamed:

Pemirsa terkasih, selamat berjumpa di episode “Pertanyaan Mengenai Iman”, dan bersama kita tamu terhormat Bapak Pendeta Zakaria Botros. Selamat datang.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Terima kasih banyak.

Mohamed:

Kita telah menerima banyak pertanyaan dan pesan dari negara-negara Arab dan Eropa juga. Dan beberapa orang merasa sangat tersinggung dan marah, sedangkan yang lainnya merasa senang. Dan kita hanya dapat mengucapkan terima kasih kepada Anda semua, kepada mereka yang berdoa bagi program ini dan juga kepada setiap orang yang mencari kebenaran, karena Allah ingin agar kita terbangun kepada kebenaran dan bukan kepada dosa. Dan merupakan kesenangan bagi saya untuk saat ini membagikannya kepada Anda mengenai hal yang terpenting yang ada di semua keberadaan, yaitu kasih, karena: “Allah adalah kasih.

Thursday, April 7, 2011

WANITA dalam ISLAM (Ep 40)


EPISODE 40 WOMAN IN ISLAM

Muhammad: Pemirsa yang saya kasihi, selamat datang pada episode baru program kami “Questions About Faith”, bersama tamu yang kami hormati, Bapak Pendeta Zakaria Boutros. Selamat datang.

Pendeta Zakaria: Terima kasih.

Muhammad: Pemirsa, pada episode yang lalu, kita telah berdiskusi tentang hubungan pria dengan istrinya. Dan pada episode kali ini, kita akan membicarakan hal mengenai status wanita dalam Islam dan status wanita dalam Kekristenan. Seperti yang Alkitab katakan: “Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.” Maka keduanya diperlakukan sama, seperti yang dijelaskan Alkitab. Saya pribadi ingat dari masa lalu saya bahwa kaum perempuan dihormati dalam Islam, dan Islam menghormati kaum perempuan. Apakah ini benar? Menurut pendapat Anda dan menurut apa yang telah Anda pelajari, apakah Islam menghormati kaum perempuan atau tidak?


Thursday, March 31, 2011

Hubungan Pernikahan (Ep 39)

EPISODE 39 THE MARITAL RELATIONSHIP

Muhammad: Pemirsa yang terkasih, selamat datang pada program kami “Question About Faith” (Pertanyaan-pertanyaan Tentang Iman) bersama tamu kami yang terhormat, Pendeta Zakaria Boutros. Selamat datang Bapak Pendeta.

Pendeta Zakaria: Terima kasih.

Muhammad: Pada episode yang lalu, kita telah menyelesaikan diskusi kita tentang perang dan perdamaian. Pada episode kali ini kita akan berbicara tentang hubungan pernikahan, hubungan antara laki-laki dan istrinya, dalam Islam dan Kekristenan.


Thursday, March 24, 2011

TERORISME dalam ISLAM (Ep 38)

EPISODE 38 TERRORISM IN ISLAM

Muhammad: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” Merupakan kesediaan para tamu akan program kami, juga saya sendiri, Mohamed Saeed, untuk menghadirkan episode yang baru “Questions About Faith”(Pertanyaan-pertanyaan Tentang Iman). Dan tamu kami yang terhormat, Bapak Pendeta Zakaria, selamat datang. Topik kita pada episode kali ini adalah tentang perang, kesengsaraannya dan konsekuensi yang harus diderita banyak orang karena perang. Kami akan mencari tahu perang dalam Islam, juga dalam agama lain. Bapak Pendeta, topic kita kali ini adalah topic yang cukup sulit. Hal ini akan menyebabkan banyak bencana bagi manusia, dan saya ingin tahu bagaimanakah posisi perang dalam Islam? Dan bagaimana pendpat pribadi Anda tentang hal ini? Bisakah Anda berbagi dengan kami?


Thursday, March 17, 2011

DAMAI KRISTUS dan TERORISME MUHAMMAD (Ep 37)

CHRIST’S PEACE AND MUHAMMAD’S TERRORISM

Mohamed: Pemirsa yang saya kasihi, selamat datang pada acara kami “Questions About Faith” (Pertanyaan-pertanyaan Tentang Iman), bersama tamu terhormat kami di studio, Pendeta Zakaria Boutros. Selamat datang.

Pada episode sebelumnya kami telah berbicara tentang nabi, siapakah yang disebut utusan, misi apa yang dibawanya, dan bagaimana hubungannya dengan Allah. Kami juga telah berbicara tentang kualitas dari utusan Allah. Quran juga mengatakan tentang utusan Allah yang telah datang sebagai “pembawa kasih bagi manusia”. Quran juga mengatakan tentang nabi Muhammad: “Kamu telah dibentuk dengan karakter yang hebat”, selain itu dikatakan juga: “Sebagai utusan Allah, kamu dapat menjadi contoh yang baik.” Kami telah menerima pertanyaan-pertanyaan tentang karakter dari utusan Allah. Lalu bisakah kita melanjutkan diskusi kita mengenai seberapa banyak karakter nabi Muhammad memenuhi persyaratan sebagai utusan Allah?


Thursday, March 10, 2011

Persyaratan disebut Rasul (Ep 36)

THE QUALITIES OF THE MESSENGER

Muhammad: Pemirsa yang saya kasihi, selamat datang di episode baru acara kami “Questions About Faith” (Pertanyaan-pertanyaan Tentang Iman) bersama tamu terhormat kami, Bapak Pendeta Zakaria Botros. Selamat datang Bapak Pendeta.

Pendeta Zakaria: Terima kasih.

Muhammad: Teman-teman yang saya kasihi, tidak ada yang lebih baik atau lebih indah daripada berbicara tentang iman dan masalah-masalah iman. Betapa indahnya berbagi dengan Anda perkataan-perkataan dari Alkitab: “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan.”