Tuesday, May 24, 2011

Keunikan Al Qur’an dan Kesalahan Sejarah (Ep 47)

Pertanyaan Mengenai Iman Episode 47

Keunikan Al Qur’an dan Kesalahan Sejarah

Mohamed:

Pemirsa terkasih, selamat berjumpa kembali di program kita, “Pertanyaan Mengenai Iman.” Disini, tamu terkasih kita, Bapak Pendeta Zakaria Botros. Selamat datang.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Terima kasih banyak.

Mohamed:

Merupakan sukacita kami untuk membagikan kepada Anda di episode ini, beberapa surat yang telah kami terima… ada sangat banyak. Surat ini berasal dari Jerman: “Dalam nama Allah, Pencipta semesta alam, dan Allah semua mahluk, kepada program “Pertanyaan Mengenai Iman”, saya berterima kasih kepada Anda dari hati saya yang terdalam atas pesan-pesan dan buku-buku yang indah, dan saya menawarkan Anda kata-kata yang wangi seperti musim semi yang bemekaran, dan saya juga berterima kasih kepada setiap orang yang berpartisipasi dalam program yang indah ini, sehingga dapat menjadi lilin yang benderang di dalam hati yang gelap. Teman terkasihku, saya bersyukur kepada Allah, yang telah menempatkan Anda di jalan saya untuk menjernihkan kebenaran bagi saya, yang selama bertahun-tahun tidak saya sadari.

Tidak dipungkiri bahwa setiap orang sangat membutuhkan Allah, karena tanpa Allah, hidup manusia tidak berharga. Beberapa hari yang lalu, saya membaca suatu hal yang hebat di sebuah buku tertentu yang telah Anda kirimkan, yang tidak akan pernah saya lupakan, yaitu bahwa di setiap hati manusia ada sebuah kekosongan berbentuk Allah, dimana hanya Dialah yang dapat mengisinya. Ya, pernyataan ini menegaskan bahwa kita benar-benar membutuhkan Allah.” Anda benar, saudariku. “Saya seringkali memikirkan diri saya; betapa naifnya saya dahulu, bertahun-tahun hidup dengan mempercayai kebohongan yang benar-benar tidak mempunyai dasar. Selama bertahun-tahun, saya terbiasa berdoa dan berpuasa, dan memohon kepada Allah dan mengenakan cadar. Tetapi saya selalu merasa bahwa Allah jauh dari saya dan doa-dosa serta permohonan saya tidak sampai melebihi langit-langit rumah saya. Sepertinya mereka mencapai langit-langit rumah dan kembali ke saya. Tetapi sejak saya mulai menggunakan pikiran saya, saya mulai merasakan betapa Allah dekat dengan saya dan saya mulai merasa bahwa Ia benar-benar mendengar saya.”

Saudari terkasih, masalahnya dengan orang-orang Muslim adalah mereka bertindak sesuai dengan perkataan, “Saya tidak melihat, saya tidak mendengar, saya tidak berbicara,” karena jika ada Muslim manapun yang berani berpikir dan mendengar, bahkan sekali dalam hidupnya, hasilnya akan seperti apa yang Anda lihat sekarang. Karena kebenaran seperti matahari yang terang dan jika manusia manapun yang memiliki intelegen yang kecil atau sederhana membaca mengenai Isa Junjungan kita Yang Ilahi, ajaran-ajaranNya, dan perintah-perintahNya, tidak diragukan lagi ia akan dipengaruhi oleh semua itu dan tidak akan menunda-nunda, serta tidak akan dapat mengkritik satu huruf darinya. Ya, saya telah menemukan semua hal yang diinginkan hati saya, melalui hubungan pribadi saya dengan Allah dan kepastian atas kehidupan kekal, dan lebih dari itu semua, kasih Allah bagi manusia.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Syukur kepada Allah.

Mohamed:

Islam tidak memiliki semua elemen penting dan utama ini, dan malapetaka besarnya adalah kepada mereka yang Anda coba mengkomunikasikan kebenaran ini, mereka akan menutup kuping mereka dan menolak untuk mendengarkan, agar tidak digoda oleh kejahatan; oleh karena itu menghalangi diri mereka sendiri dari semua hal-hal yang indah ini, yang telah saya sebutkan. Saya tahu bahwa Allah meletakkan Anda di jalan saya agar dapat membawa saya kepada Dia, dan saya bersyukur kepadaNya atas hal tersebut. Tetapi saya masih perlu mengetahui lebih banyak lagi, karena sepanjang hidup saya, saya tidak pernah mendengar apapun mengenai ajaran Isa Al-Masih kecuali melalui Islam, dan informasi saya tidak sempurna. Saya telah mengunjungi sebuah gereja dekat rumah saya beberapa hari yang lalu, dan saya terkejut atas perlakuan baik mereka. Mereka tidak pernah menanyakan siapa saya, juga tidak menanyakan alasan kunjungan saya. Mereka lebih memilih untuk mengundang saya ke ibadah yang sedang mereka lakukan, walaupun saya mempunyai anak-anak kecil. Mereka tidak terganggu atas hal itu, walaupun anak-anak saya bermain dan berisik. Saya tidak banyak mengerti karena saya tidak tahu apakah ibadah itu, tetapi saya merasa sangat gembira.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Diberkatilah nama Allah.

Mohamed:

“Saudara terkasihku, saya akan sangat berterima kasih jika Anda berhubungan dengan saya melalui surat-surat Anda yang indah dan buku-buku berharga, dan saya akan sangat berhutang kepada Anda. Semoga Allah memberkati perjalanan Anda, supaya Anda akan memegang tangan-tangan lebih banyak orang lagi dan memberitahu mereka jalan kepada keselamatan.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Amin.

Mohamed:

Terima kasih saudari Jilan. Kami berdoa bagi Anda dan kami bersyukur kepada Allah atas Anda, begitu juga berdoa bagi banyak orang agar mengenai kebenaran.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Amin.

Mohamed:

Dalam program ini kita akan berbicara mengenai keajaiban Al Qur’an, dan juga mengenai kesalahan-kesalahan sejarah, karena kita telah menerima sebuah pertanyaan dari salah seorang pemirsa kita: “Apakah ada persetujuan antara Kitab Suci dan Al Qur’an mengenai sejarah atas kejadian-kejadian yang terjadi dalam keduanya? Dan sejauh mana hal tersebut sesuai dengan yang dikatakan oleh para sejarawan dan arkeologis?”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, sejujurnya ini pertanyaan yang amat sangat penting. Cukup terlihat oleh semua orang yang membaca Kitab Suci dan Al Qur’an bahwa ada perbedaan-perbedaan atas kejadian-kejadian sejarah. Jadi pertanyaannya adalah: “Yang mengilhami buku ini, dan mengilhami buku itu, seperti yang mereka duga, bagaimana Ia dapat membuat kesalahan mengenai kejadian-kejadian sejarah?” Di sini kita menemukan sebuah gambar dan di sana kita menemukan sebuah gambar lainnya. Contohnya, mengenai perawan Maryam yang mulia… mengenai perawan Maryam, di Surat ke 66 (At Tahrim) ayat 12 dikatakan: “dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat!” Maryam, putri Imran. Dan di Surat ke 19 (Maryam) ayat 28 … 27 dan 28: “Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” Saudara perempuan Harun. Jadi ia anak perempuan Imran dan saudara perempuan Harun. Inilah yang digambarkan Al Qur’an mengenai Maryam. Tetapi Kitab Suci, begitu juga catatan sejarah, semuanya menjelaskan bahwa perawan Maryam, ibu Isa, adalah anak Yohakim, dan sebenarnya Amram, bukan Amranm, adalah ayah Harun, yang mempunyai seorang anak perempuan yang juga bernama Miryam, dan ia seorang nabi perempuan. Tetapi ia bukanlah ibu dari Isa. Di Kitab Keluaran pasal 15 dan ayat 20, dan Kitab I Hikayat pasal 6 dan ayat 3 – Anda dapat membaca mengenai hal ini – dan ini terjadi di tahun 1.500 sebelum Masehi. Miryam, anak Amram, saudara perempuan Harun, menikahi seorang laki-laki bernama Hoor dan melahirkan Nadab dan Abihood. Inilah kesaksian sejarah. Jadi bagaimana Al Qur’an dapat membingungkan dia dengan perawan Maryam, ibu Isa? Walaupun perbedaan diantara mereka adalah 1.500 tahun.

Mohamed:

Maksud Anda ada perbedaan waktu yang besar diantara keduanya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Maryam bukanlah anak perempuan Amram, bukan juga saudara perempuan nabi Musa dan nabi Harun. Ini adalah seseorang dan itu adalah orang lain. Apakah Allah akan membuat kesalahan seperti itu? Ini sebuah tanda tanya yang saya angkat dihadapan para pemirsa dan dihadapan para ulama Islam supaya mereka memberikan pendapat mereka atas hal ini.

Mohamed:

Apakah Anda keberatan untuk menceritakan kepada kita mengenai kelahiran Isa Al-Masih, berdasarkan Kitab Suci dan juga Al Qur’an? Dan apakah ada perbedaan diantara keduanya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tentu saja. Tentu saja. Maksud saya, contohnya, di Surat ke 19 (Maryam) dari ayat 22 sampai 26, dikatakan: “Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka seseorang(1) menyerunya dari tempat yang rendah – yaitu Isa Al-Masih’ – “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu – Saria adalah sebuah kata asing, seperti yang kita pelajari kemarin. – Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini!” Apakah Anda mengikuti? Cerita ini benar-benar berbeda dengan cerita Lukas mengenai kelahiran Isa Al-Masih, dimana dikatakan dalam Injil Lukas pasal 2 dari ayat 1 sampai 7: “ Pada waktu itu, Kaisar Agustus mengeluarkan perintah supaya diadakan sensus di seluruh dunia… Karena itu semua orang yang akan disensus kembali ke kota-nya masing-masing. Maka Yusuf pun berangkat dari kota Nazaret di Galilea ke Bait Lahim, kota Daud, di wilayah Yudea, sebab ia dari keluarga dan keturunan nabi Daud… Ketika mereka di sana, sampailah waktunya bagi Maryam untuk melahirkan. Ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung. Maryam membungkusnya dengan kain bedung lalu membaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka untuk menginap.” Jadi hal-hal yang kita catat di sini… dicatat bahwa ada perbedaan yang besar diantara kedua cerita. Sebenarnya Al Qur’an keliru atas Maryam, ibu Isa Al-Masih, dengan Hagar, istri Ibrahim dan ibu Ismail. Perempuan yang pergi ke gurun adalah Hagar, ibu Ismail, dan perempuan yang ditunjukkan sungai oleh malaikat adalah Hagar, ibu Ismail. Tetapi perawan Maryam melahirkan Isa Al-Masih di Bethlehem, dan sejarah bersaksi atas hal ini. Anda dapat pergi ke Bethlehem sekarang, Anda akan melihat palungannya bukan di gurun, di kota Daud di Bethlehem.

Mohamed:

Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ini menciptakan banyak pertanyaan, pertanyaan utama mengenai, sebuah pertanyaan besar mengenai, “Goyanglah pangkal pohon kurma ke arahmu.” Bagaimana?

Mohamed:

Apakah Allah mungkin telah memberikan ia kekuatan untuk menggoyangkan pangkal pohon?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ini adalah pertanyaan yang memposisikan dirinya sendiri. Maksud saya, seseorang yang baru saja melahirkan dan diketahui bahwa itu merupakan pengalaman yang menyakitkan, bahkan seperti yang dikatakan: “Rasa sakit akan melahirkan.” Ia sedang kesakitan, jadi mengapa Ia menyuruh dia, “Goyanglah pangkal pohon kurma.” Mengapa Ia tidak menggoyangkannya untuk dia supaya kurma-kurmanya jatuh? Anda dapat berkata kepada saya, “Tidak, Ia harus memainkan peranNya sendiri.” Tetapi apa peran yang Ia mainkan ketika menyulap anak sungai sehingga mendapatkan sebuah sungai, ketika seseorang yang menggali sebuah sungai untuknya akan menyebabkan kurma-kurmanya jatuh.

Mohamed:

Ini kehendak Allah. Allah tidak membuat kesalahan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Oh, ya. Ini kehendak Allah, bukankah begitu? Kehendak Allah. Hal-hal seperti itu karena Allah menginginkan mereka seperti itu. Dengarkan saya, Pak. Saya mohon maaf. Saya benar-benar mohon maaf karena saya melupakan Surat ke 5 (Al Maidah) ayat 101, yang berkata sebagai berikut: “Janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu.” Jadi tidak ada tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan di luar itu. “Seperti itu. Itu kehendak Allah.” Allah berkehendak dan Allah tahu yang lebih baik, dan pikiran kita tetap bingung, sepertinya agama adalah rahasia dan misteri yang tidak terpecahkan. Tetapi saya bertanya kembali dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan saja: Bagaimana Isa Al-Masih dapat berkata kepada dia dari bawah, “Maka makan, minum,” tetapi ketika ia bertemu seseorang ia berkata, “Aku berpuasa”, dan bahwa, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah.” Apakah Ia mengajarkannya untuk berbohong? “Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu.”

Mohamed:

Allah melarang.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tetapi ketika Anda bertemu seseorang, Anda berpuasa. Ini masalah yang membutuhkan pemikiran, apakah saya salah? Pasti dalam hal ini ada sesuatu yang tidak dapat dimengerti pikiran kita. Yang kita inginkan hanyalah agar para ulama terhormat mau menjelaskan perbedaan-perbedaan ini kepada kami, beritahu kami apa ini semua.

Mohamed:

Pertanyaan sulit. Tetapi mungkin, apa artinya berpuasa, apakah berpantang bicara saja.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bicara saja? Mungkin Anda benar. Tetapi menurut saya tidak. Dan mengapa begitu? Karena puasa tidak pernah muncul, dalam hukum yang disetujui manapun, sebagai berpantang bicara, dan bukan berpantang makanan. Benar? Dan lebih dari itu, bagaimana ia dapat berkata, “Aku bernazar untuk tidak berbicara”, tetapi ia baru saja berkata “Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan!” Dan Ia menyuruhnya untuk, “Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” Baiklah, ia berbicara... Apakah Anda mengikuti? Jadi ini benar-benar tidak sesuai, menurut pikiran saya sendiri.

Mohamed:

Sebenarnya, hal ini cukup membingungkan. Mari kita ke contoh lainnya. Apakah Anda mempunyai contoh-contoh yang serupa?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Maksud Anda mengenai sejarah?

Mohamed:

Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Kita mempunyai masalah.

Mohamed:

Ya. Saya fokus atas hal urutan kronologikal juga.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Kita telah berbicara mengenai sang perawan dan garis keturunannya di sejarah, serta kelahiran Isa Al-Masih sebagai kejadian sejarah, dan kita juga sampai ke suatu hal yang sangat aneh. Firaun... Al Qur’an berkata, di Surat ke 28 (Al Qasas) ayat 8 dan ayat 38, bahwa ia mempunyai seorang perdana menteri bernama Haman, dan inilah kesalahan penempatannya. Maksud saya, di Surat ke 28 (Al Qasas), dikatakan: “ Firaun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah!” “Berkata Firaun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta!” Haman, perdana menteri Firaun, walaupun Kitab Suci memberitahu kita bahwa Haman bukanlah perdana menteri Firaun. Ia adalah perdana menteri raja Ahasuerus, raja Persia yang bernama Zaraksees, yang tinggal di tahun 486 sebelum Masehi. Haman adalah nama Allah dalam Ilamites, yaitu sebuah nama Persia. Firaun berkuasa atas Mesir di tahun 1.490 sebelum Masehi.

Mohamed:

Dan Haman, di 486 sebelum Masehi.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Yaitu seribu tahun lebih awal. Benar? Pertanyaan yang memposisikan dirinya sendiri adalah: Dapatkah pewahyuan membuat kesalahan? Tidakkah Allah tahu bahwa Haman adalah perdana menteri Ahasuerus, raja Persia, dan kemudian membingungkan dia dengan perdana menteri Firaun di Mesir?

Mohamed:

Kita tahu bahwa Allah sempurna. Mungkinkah karena kemiripan nama? Mungkin ada lebih dari satu Haman?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Mungkin. Kemungkinan ini dapat dipertimbangkan.

Mohamed:

Ya, logikanya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Logika yang akan membuktikan ini, tetapi ada turunannya. Kata ‘Haman,’ dalam akar dan kontruksi bahasanya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Firaun di Mesir. Jadi secara bahasa, ini adalah kata Persia.

Mohamed:

Maksud Anda, nama ‘Haman’ tidak pernah ada di Mesir.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Itu merupakan sebuah nama dewa di Iran, di Persia. Jadi bagaimana mereka akan memberikan sebuah perdana menteri, nama dewa dari negara asing? Kebiasan di seluruh tanah Mesir pada saat itu adalah untuk memanggil orang dengan nama dewa-dewa Mesir. Amonhotep, Amonra’e, Atonra’e, dan seterusnya. Ra’e adalah seorang dewa, dan Amon adalah dewa, jadi semua nama-nama tersebut berhubungan dengan dewa-dewa Mesir. Bagaimana seseorang menyebut dirinya sendiri dengan nama seorang dewa asing di masanya? Mereka akan membunuhnya karena dianggap seorang mata-mata.

Mohamed:

Apakah Anda mempunyai contoh-contoh lainnya? Apakah hanya ini satu-satunya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tidak, tentu saja. Tidak hanya Haman dan Firaun. Ada sebuah contoh yang sangat mengejutkan. Ini tidak mungkin. Sangat tidak mungkin bagi Allah yang benar melakukan kesalahan-kesalahan seperti ini. Hal ini sangat mencurigakan.

Mohamed:

Maksud Anda ada banyak kesalahan-kesalahan yang tidak dapat diterima?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya. Maksud saya, contohnya Samiri yang membuat anak lembu bagi Musa… bagi orang-orang Musa di gurun. Di Surat ke 20 (Ta Ha), mengatakan sebagai berikut, dari ayat 85 sampai ayat 88, ia berkata: “Allah berfirman: “Maka sesungguhnya kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri. Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?” Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya. Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lubang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa”. Jadi Samiri, bahkan kata “Samari” tidak dikenal saat itu… tidak sama sekali.

Mohamed:

Dan mengapa?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Saya beritahu Anda mengapa. Musa hidup di tahun 1500 sebelum Masehi, sebelum Isa Al-Masih.

Mohamed:

Sebelum Isa Al-Masih…

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Dan kata “Samiri” berhubungan dengan kota Samaria, dan kota tersebut muncul tujuh abad setelah masa nabi Musa. Kota itu telah dibangun tujuh abad setelah masa nabi Musa. Maksud saya, dibangun di tahun 880 sebelum Masehi, menurut sejarah. Dan tidak ada orang-orang yang disebut Samiri.

Mohamed:

Jadi bagaimana Samiri ini dapat ditemukan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Di masa nabi Musa. Bagaimana ia dapat muncul di masa nabi Musa? Bukankah itu benar? Allah tidak membuat kesalahan sama sekali, tetapi Muhammad datang 7 abad setelah Isa Al-Masih, jadi seluruh hal ini mencurigakan. Ini meragukan. Saya tidak mau memberikan Anda solusinya, tetapi kita menantikan pandangan para ulama Islam yang agung dan mulia untuk menjelaskan hal ini untuk kita.

Mohamed:

Mudah-mudahan, kita akan menonton saluran TV Arab, untuk penjelasan logis atas perbedaan-perbedaan ini…

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Saya harap.

Mohamed:

Kita ingin mendengar…

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Oh, saya sangat berharap mereka akan datang ke studio ini, dan membahasnya dengan kita. Saya telah mengundang mereka selama setahun penuh untuk membahasnya di studio ini, dan kita belum menerima satu suratpun dari seseorang yang mengatakan bahwa mereka mau datang dan membicarakan hal-hal ini. Mereka bahkan tidak perlu datang. Mereka dapat berbicara di saluran TV Arab seperti yang Anda sarankan.

Mohamed:

Mereka dapat berbicara dan mereka menuduh Anda sebagai seorang Zionist, seorang agen CIA, dan lain sebagainya. Saya pribadi telah membaca beberapa artikel dan mendengar tuduhan-tuduhan tersebut, tetapi saya belum mendengar…

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ini pengelakan, pengelakan dari pembelajaran obyektif terhadap tuduhan pribadi, dan ini cara kuno yang sama. Ini seperti piringan hitam yang rusak. Sudah terlalu kuno sekarang, dan tidak membodohi siapapun. Hal ini tidak lagi mempunyai tempat di komunikasi logis.

Mohamed:

Apakah Anda mempunyai hal-hal lainnya yang ingin Anda tambahkan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, ya, tentu saja. Bapak terkasih, ada sebuah cerita lainnya mengenai pertentangan-pertentangan dalam Al Qur’an sendiri. Maksud saya, kita telah mengutip pertentangan-pertentangan antara Al Qur’an dan Kitab Suci, dan Allah tidak dapat membuat kesalahan dalam keduanya. Tetapi ada, dalam Al Qur’an sendiri, ketidakkonsistenan internal.

Mohamed:

Oh, tidak!

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bagiamana itu? Mengenai Firaun… apakah ia mati atau tidak, dan apakah ia telah ditenggelamkan atau tidak. Satu surat mengatakan bahwa ia tenggelam dan surat lainnya mengatakan bahwa ia tidak tenggelam. Mari kita lihat mereka. Surat ke 28 (Al Qasas) ayat 38 sampai 40, mengatakan sebagai berikut: “Berkata Firaun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta!” Dan berlaku angkuhlah Firaun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami hukumlah Firaun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. – Yaitu, mereka dilemparkan ke laut – Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang lalim!” Apa akibatnya? Kematian. Karena tenggelam: “Kami lemparkan mereka ke dalam laut.” Itulah yang ada di Surat ke 28 (Al Qasas). Sekarang marilah kita lihat Surat ke 10 (Yunus), ayat 90 sampai 92: “Kami memungkinkan bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya – yaitu, menangkap mereka – karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” “Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu.” Oh… “Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang lalim.” Tetapi di sini dikatakan, “Kami selamatkan badanmu, supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” Apakah ia tenggelam atau tidak? Informasi tertentu ini ditemukan di Kitab Suci karena sesuai dengan sejarah dunia, bahwa Firaun di masa nabi Musa telah tenggelam. Di pembelajaran mengenai Mesir, Firaun di masa nabi Musa tenggelam di laut. Kitab Zabur 136 ayat 15, dan Kitab Keluaran pasal 14 ayat 28, berkata sebagai berikut: “Mencampakkan Firaun dengan tentaranya ke Laut!” dan juga menambahkan, “Seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka.” “Seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka.” Bukan – menyelamatkan dia bersama-sama dengan tubuhnya, dan Allah tidak dapat merubah perkataanNya. Setelah Allah berbicara mengenai sebuah kejadian, yang terbukti dalam sejarah, kemudian ada orang lain yang datang dan berkata, “Kami selamatkan badanmu.”

Mohamed:

Dan ini pertentangan keji dengan cerita Kitab Suci.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bertentangan dengan Kitab Suci. Kemudian ada sebuah tanda tanya besar, sebesar studio ini. Sebuah tanda tanya besar. Apa yang sedang terjadi? Apakah ini wahyu dari Allah? Apakah Allah mungkin menentang diriNya sendiri dan merubah perkataanNya?

Mohamed:

Banyak pertentangan-pertentangan dan perbedaan-perbedaan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bermasalah…

Mohamed:

Cukup bermasalah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Cukup bermasalah! Bgaimana para Muslim terkasih membaca hal-hal seperti itu tanpa mengerti atau bertanya-tanya mengenai mereka?

Mohamed:

Dan mengenai hal ini, salah seorang pemirsa bertanya: “Saya mendengar bahwa yang harus saya lakukan adalah membuka hati saya bagi Isa Al-Masih supaya Ia dapat masuk. Tetapi hati saya penuh dosa, jadi apakah Ia akan menerima saya? Dan bagaimana hal itu dapat terjadi?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ini pertanyaan utama, amat sangat penting. Dan sebenarnya, saya bersyukur kepada Allah bahwa ada orang-orang yang peduli akan isu-isu rohani dan tidak sekedar masalah teori dan teologi. Maih ada orang-orang yang peduli akan kehidupan rohani. “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba; akan menjadi putih seperti bulu doa.” “Dan darah Isa Al-Masih, anakNya, membersihkan kita dari semua dosa… Jika kita mengakui dosa-dosa kita, Ia setia dan akan mengampuni kita dari dosa-dosa kita, serta membersihkan kita dari segala kejahatan.”

Mohamed:

Amin. Pemirsa terkasih, Allah Isa Al-Masih berkata: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya.” Allah, saat ini mengetuk pintu hati Anda, karena Ia berkata: “"Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. Sebab: "Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?" Tetapi kami memiliki pikiran Isa Al-Masih.”

Pemirsa terkasih, Allah menginginkan hal itu: “semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” Ia juga berkata: “Aku telah datang agar engkau beroleh hidup dan hidup yang lebih berkelimpahan.”(*) Ia mengatakan lagi, “Aku sudah mengasihimu dengan kasih yang tak berkesudahan, maka dengan kasih yang tak berkesudahan, Aku sudah memanggil engkau.”(*) Terima kasih banyak. Sampai kita berjumpa lagi di episode lainnya. Amin. Terima kasih.


Texts being used:

The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.

The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.

The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/

Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind

Notes on this episode:

(*) For verses that is not clearly defined, the translation is done directly as the text said, not taken from the quote in the Bible – Untuk ayat-ayat yang tidak direferensikan secara jelas, terjemahan dilakukan secara langsung seperti apa kata text, bukan diambil langsung sesuai dengan teks dari Kitab Suci.

(1) English version says ‘someone’ but Indonesian version says ‘Gabriel’. We use ‘someone’ so it will be consistent with the context. – Versi Bahasa Inggris menggunakan ‘seseorang’ tetapi versi Indonesia menggunakan ‘Jibril’. Kita menggunakan ‘seseorang’ supaya sesuai dengan konteksnya.

Tuesday, May 17, 2011

Kata-Kata non Arab dalam Al Qur’an (Ep 46)

Pertanyaan Mengenai Iman Episode 46

Kata-Kata non Arab dalam Al Qur’an

Mohamed:

Pemirsa terkasih, selamat berjumpa kembali di episode lainnya dari program, “Pertanyaan Mengenai Iman”. Sekali tagi, tamu terhormat yang bersama dengan kita, Bapak Zakaria Botros. Selamat datang kembali Pak. Selamat datang.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Terima kasih banyak.

Mohamed:

Kita telah menerima begitu banyak surat. Ini salah satunya… Saya akan membagikannya kepada Anda…

“Bapak Zakaria Botros terhormat: Salam, hormat dan penghormatan untuk Anda. Saya ingin berterima kasih atas program Anda yang hebat dan bermanfaat ini, yang telah meningkatkan iman dan pengetahuan saya, serta menambah banyak informasi kepada saya, yang jika tidak, tidak akan pernah saya ketahui. Saya mohon kepada Bapak yang unggul untuk menjawab beberapa pertanyaan yang membuat saya bingung dan tidak menemukan jawaban yang memuaskan.



Apakah gambar Isa Junjungan kita Yang Ilahi yang kita temui tercetak, gambar Dia yang sebenarnya atau tidak? Juga ada banyak gambar-gambar dari Dia yang sangat tidak sama. Apakah ada gambar Dia diantara gambar-gambar tersebut? Dan gambar yang mana yang benar? Dan jika tidak ada yang nyata, mengapa kita menerima gambar-gambar ini? Walaupun dalam Kitab Suci dikatakan, “Jangan membuat bagimu patung… jangan sujud menyembah kepadanya” dan dengan melakukan hal itu, kita tidak mematuhi perintah Allah.” Ini sebuah pertanyaan yang berharga, saudari Manal. Terima kasih, dan kita menantikan jawabannya. Saya tahu bahwa dalam Islam, patung dilarang seperti dewa-dewa, karena patung berhubungan dengan dewa-dewa. Mereka sama. Tentu saja. Silahkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ada sedikit koreksi di sini. Saya tidak disapa sebagai ’Yang unggul’, tetapi saya dapat disapa sebagai ‘Uang suci”. “Yang unggul” adalah sebuah gelar untuk posisi yang lebih tinggi daripada posisi saya. Mengenai gambar Isa Al-Masih, gambar itu diambil dari gambar di kain kapan suci. Kain kapan Isa Al-Masih telah ditemukan dan dipamerkan di Torino. Gambar yang tercetak ini diteliti oleh agen-agen pihak luar dan mereka menemukan bahwa kain tersebut tidak dicat dengan minyak atau warna-warna atau apapun juga.

Isa Al-Masih, seperti Ia bangkit dari kematian, kecemerlangan cahaya kebangkitan, seperti cahaya bom atom, mencetak rupa Isa Al-Masih dengan luka-lukaNya, wajahNya dan punggungNya di kain kapan, bagian belakang dan depan. Kain kapannya tidak dibungkus seperti itu, kainnya dibungkus seperti ini, belakang dan depan, dari atas ke bawah. Jadi gambar di kain kapan ada, dan dari situ semua gambar Isa Al-Masih diambil. Setiap negara mengambilnya dan mewarnainya sesuai seninya. Tetapi ciri-ciri utamanya tetap sama. Mengenai perintah, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah… jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.” Konsep dibalik ayat ini adalah melarang pemujaan atau sujud menyembah kepadanya. Buktinya hal itu disebutkan di Kitab yang sama, di pasal 20. Kita diperintahkan: “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada… jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.” Di kitab yang sama, pasal 25, dikatakan: “Haruslah mereka membuat tabut... dua setengah hasta panjangnya… dan seterusnya. Dan haruslah kau buat dua kerub dari emas… emas tempaan… dan seterusnya.” “Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana;” – bukan untuk bersujud kepada mereka – Ia menyuruhnya untuk menutupnya dengan kerub. Tabut itu harus dihiasi dengan kerub. Kerub adalah malaikat. Larangannya bukan terhadap gambarnya, larangannya adalah terhadap pemujaan, karena apakah gambar? Gambar adalah alat ilustrasi. Ilustrasi. Dan dalam Islam, tentu saja, dewa-dewa dilarang. Tetapi jangan lupa bahwa ketika nabi Muhammad masuk ke Mekah, ketika ia menaklukkannya, ia masuk ke dalam Ka’bah dan berkata, “Buang semua gambar dan dewa-dewa”, tetapi ia meletakkan tangannya di atas sebuah gambar tertentu dan berkata, “kecuali yang ini”, dan itu adalah patung Maryam dan Isa Al-Masih. Dan patung tersebut tetap berada di Ka’bah sampai Ka’bah sendiri terbakar berabad-abad kemudian.

Mohamed:

Gambar ini ada di Ka’bah?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Di Ka’bah… dan Muhammad… sejarah dan biografi Rasul mengatakan begitu.

Mohamed:

Apakah ada di situ?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ada di situ, ada di biografi oleh Ibn Hisham dan Al Halabi.

Mohamed:

Sangat aneh.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya. Jadi itu adalah alat ilustrasi bukan pemujaan.

Mohamed:

Terima kasih. Sekarang kita kembali topik mengenai keunikan bahasa Al Qur’an, meskipun ada kesalahan bahasa, baik tata bahasa maupun konjugasi. Jadi apa pendapat Anda mengenai pernyataan Al Qur’an: “Kami telah menurunkan Al Qur’an Arab.”? Silahkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Baiklah, tentu saja ada lebih dari sembilan ayat yang berhubungan bahwa itu adalah “Dalam Bahasa Arab yang jelas.” Di Surat ke 12 (Yusuf), 20 (Ta Ha), 39 (Az Zumar), 41 (Fussilat)(1), 26 (Ash Shu’araa), 43 (Az Zukhruf), 46 (Al Ahqaf), dan 26 (Ash Shu’araa), 16 (An Nahl), dan “Bahasa Arab yang jelas.” Dan semua para pemberi komentar menyetujui kata “Mobeen – jelas – yang berarti jenis bahasa Arab yang paling fasih.

Mohamed:

Jadi Anda yakin bahwa Al Qur’an dalam lidah bahasa Arab yang fasih.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Itu yang mereka katakan.

Mohamed:

Jadi Anda tidak yakin.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Baiklah, bagaimana saya dapat yakin ketika saya mempunyai sebuah daftar yang berisikan lebih dari 275 kata-kata dalam Al Qur’an yang bukan bahasa Arab? 275, dengan kesaksian dari ensiklopedia. Bukan, bukan, bukan ensiklopedia. Ensiklopedia Islam, volume 26 di halaman 8222.

Mohamed:

Jadi Anda mengatakan bahwa kata-kata yang dipertanyakan melebihi 275.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Sangat tepat, 275 kata. Di sini dikatakan mengenai kata-kata asing: “Para pemberi komentar awal tidak malu mengakui ada banyak kata-kata asing dalam Al Qur’an atau untuk membahas mereka… dan seterusnya.”

Mohamed:

Kata-kata asing? Apa maksud Anda mengenai hal itu? Apakah ada penjelasan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ini mereka. Kata-kata… kata-kata terkenal dari Etiopia, Persia, Yunani, Hindi, Seriak, Ibrani, Nabatian, Coptic , Turki, Afrika dan Barbarisme. Ada kata-kata tersebut dalam jumlah yang besar. Itu dikutip oleh Ibn Abbas, dan mereka yang setuju dengannya memberikan perhatian khusus untuk mencari asal kata dan menentukan artinya. Tetapi setelah muncul prinsip kekekalan dan kesempurnaan Al Qur’an, mereka mulai merubah pendapat mereka. Kemudian mereka mengatakan, “Tidak, Al Qur’an sepenuhnya bahasa Arab.” Tetapi inilah yang dinyatakan oleh ensiklopedia. Ensiklopedia Islam dari halaman 8222 sampai 8224. Dikatakan sebagai berikut: Dikatakan, “Sejumlah besar ahli bahasa, seperti Abi Obayd, tidak pernah berhenti mengatakan bahwa ada kata-kata asing non-Arab di dalam Al Qur’an, dan ada sejumlah peneliti yang benar-benar mengesampingkan semua pertimbangan agama dalam meneliti topik ini, seperti Al Siouty, yang memberikan perhatian khusus kepada kata-kata asing dan mendedikasikan sebuah bab khusus untuk kata-kata tersebut dalam bukunya, “Al Etqan Fi Uloum Al Qur’an.” Untuk kata-kata yang tidak ditemukan dalam bahasa Hegaz, sebuah bab didedikasikan untuk kata-kata yang tidak ada di bahasa Arab. Dan ensiklopedia, Ensiklopedia Islam menambahkan: “Di sebuah pembelajaran yang terpisah oleh Al Motawakaly, sebuah kompilasi sejumlah besar kata-kata yang dianggap berasal dari Ethiopik, Persia, Yunani, Hindi, Seriak, Ibrani… dan seterusnya.”

Mohamed:

Dan ada kata-kata dari semua bahasa-bahasa ini di dalam Al Qur’an?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, saya akan menunjukkannya kepada Anda sekarang. Ensiklopedia Islam berisikan contoh-contoh yang disebutkan oleh Al Siouty mengenai asal elemen kata-kata Al Qur’an. Ia mengatakan: “Kata-kata yang tidak dianggap bahasa Arab sama sekali dan tidak dapat dilacak ke akar bahasa Arab, seperti Istabraq – artinya “brokat” – Zangabeel, el Fardous… Dan seterusnya mencatat 275 kata-kata non-Arab.

Mohamed:

Ini sebuah informasi yang sangat serius. Dapatkah Anda menyebutkan beberapa contoh dari kata-kata asing ini dan surat-surat yang telah Anda catat?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Dengarkan, kita mempunyai sebuah buku disini berjudul: “Ta’reekh Al Al Qur’an”, “Penulisan Sejarah Al Qur’an.”

Mohamed:

Sejarah?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Penulisan sejarah.

Mohamed:

Penulisan Sejarah Al Qur’an. “Ta’reekh”.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Ta’reekh Al Al Qur’an”, oleh Sheikh Ibrahim Al Ibiary, dicetak oleh Dar Al Ketab Al Mesry, di Kairo tahun 1981. Buku itu mengutip beberapa contoh-contoh dari kata-kata non-Arab dalam Al Qur’an, dan menunjuk sebuah buku berjudul: “Al Borhan Fi Uloum Al Al Qur’an” oleh Al Zarkashi dan buku, “Al Etqan Fi Uloum Al Al Qur’an”, oleh Al Siouty. Apakah Anda ingin mengetahui beberapa kata, arti, serta lokasinya?

Mohamed:

Ya, saya ingin menanyakan kepada Anda beberapa kata-kata asing dan bahasa asli mereka serta artinya dalam bahasa Arab? Kata pertama adalah “Al Tour”. Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Al Tour”. Adalah sebuah kata asing. Darimana asalnya? Syriak. Apa artinya? “Gunung”. Dimana lokasinya? Di Surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 63: “Ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan “Tour” di atasmu.” Artinya, “Kami angkatkan gunung di atasmu”.

Mohamed:

Al Tour.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Al Tour”, bukan ‘Tour’ dengan T ringan, tetapi ‘Tour ’ dengan ’Tah’.

Mohamed:

“Al Tour”, artinya “gunung”. Tifqa… Tafiqa.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tafiqa… “Tafiqa” adalah sebuah kata Yunani, artinya “Mulailah keduanya”. Di Surat ke 7 (Al A’araf) ayat 22: “Dan mulailah keduanya – yaitu nabi Adam dan Siti Hawa – menutupinya dengan daun-daun.” “Al Raqeem” adalah sebuah kata Yunani, artinya “Torah”. Di Surat ke 18 (El Kahf), ayat 9: “Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”

Mohamed:

Ada sebuah kata lainnya, “Hodna”.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Hedna”. Ini sebuah kata Yunani yang berarti “Kami bertobat”. Surat ke 7 (Al A’araf) ayat 156: “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau!” “Inna Hodna Elayka”. Kata “Ta Ha” di Surat ke 20 (Ta Ha). Anda akan terkejut bahwa itu bukanlah kata bahasa Arab. Asalnya adalah bahasa Ethiopik. Artinya, “Ta’a”, “Oh, tidak”. “Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.”

Mohamed:

Bagaimana dengan kata “Sineen”? Apa bahasa asalnya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bahasa Yunani…

Mohamed:

Bahasa Yunani.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bahasa Yunani… dan artinya, “berupa yang baik”.

Mohamed:

Baik?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Dekat pohon ara dan zaitun, Gunung Sinai dan daerah pedesaan ini,” “…Gunung yang berupa yang baik, ia bersumpah atasnya.”

Mohamed:

Gunung yang berupa baik.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, maksud saya bagus.

Mohamed:

Bagaimana dengan kata “Sijil”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Kata “Sijil” adalah dari bahasa Persia dan artinya “buku” ...Ini ada di Surat ke 21 (Al Anbia’) ayat 104.

Mohamed:

Tetapi terdengar Arab bagi saya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Itu sebuah kata bahasa Persia. Surat ke 21 (Al Anbiyaa) ayat 104, dikatakan: “(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas.”

Mohamed:

Bagaimana dengan “Istabraq”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Itu kata bahasa Persia. Artinya ”brokat kasar atau sutera yang tebal” dan ada di Surat ke 44 (Ad Dukhan) ayat 53: “Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan,”

Mohamed:

“Mutaqabilayn”. “Al Sundus”.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Al Sundus” adalah bahasa Hindi.

Mohamed:

Asalnya dari India?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, artinya “Pakaian bagus atau sutera yang halus”. Di Surat ke 44 (Ad Dukhan), ayat 53: “Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan,”

Mohamed:

“Al sarriy”.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, “Sarriya”. “Al sarriya” adalah kata bahasa Yunani. Artinya “Anak sungai”. Di Surat ke 19 (Maryam) ayat 24: “Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” Sungai tempat minum, jadi makan dan minum.

Mohamed:

Bagaimana dengan “Mishkah”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Mishkah” adalah bahasa Ethiopik. Artinya “Cekuk”, dalam sebuah tembok, seperti kubah cekuk di Surat ke 24 (An Nur): “Allah adalah cahaya surga dan bumi. SinarNya dapat dibandingkan dengan sebuah cekuk dimana didalamnya ada sebuah lampu.” Yaitu sebuah ruangan kecil di tembok, dimana lampu diletakkan.

Mohamed:

Bagaimana dengan…?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Durriy”? Itukah yang Anda inginkan?

Mohamed:

“Durriy”.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Durriy” adalah sebuah kata bahasa Ethiopik juga, dan artinya “Berkilau”. Dikatakan: “Lampunya ada di dalam sebuah kaca; dan kacanya seperti bintang yang berkilau.”

Mohamed:

Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Nashe’at al leil” adalah bahasa Ethiopik. Artinya, “Serangan malam”, dan muncul di Surat ke 73 (Al Muzzammill) ayat 6: “Bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.”

“Keflayn” adalah Ethiopik dan artinya, “Dua bagian”. Di Surat ke 57 (Al Hadeed) ayat 28: “Hai orang-orang yang beriman (kepada para Rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian.” Yaitu dua bagian rahmat.

Mohamed:

Bagaimana dengan “Al Qaswara”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Qaswara” adalah sebuah kata bahasa Ethiopik, artinya “Singa”. Di Surat ke 74 (Al Muddaththir), ayat 51: “Lari daripada singa.”

Mohamed:

Dari seekor singa... Bagaimana dengan “Milla alukhra”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Itu bahasa Coptic. Artinya “Yang terakhir”.

Mohamed:

Ya. Kata “Ukhra” bukan bahasa Arab.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tidak, maksud saya “Al milla.”

Mohamed:

“Al milla”... “Al millal ukhra”.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Artinya, “Yang terakhir”. Surat ke 38 (Sad) ayat 7.

Mohamed:

Artinya ”Yang terakhir”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya. “ Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (menyesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” “Al millal akhera”. Yaitu “Hari yang terakhir”. “Waraa’ahom.”

Mohamed:

Ya…

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Waraa’ahom” bukan berarti “Di belakang mereka”. Waraa’ahom adalah kata bahasa Coptic yang berarti “Di hadapan mereka”. Apakah Anda mengikuti? “Waraa’ahom” akan berarti “Di belakang mereka” jika itu bahasa Arab, tetapi di sini artinya, “Di hadapan mereka”. Diturunkan dari bahasa Coptic.

Di Surat ke 18 (Al Kahf): “Di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.” Ini ada di komentar Al Tabary, bukan saya sendiri. Ia berkata, “Di hadapan mereka ada seorang raja.”

Mohamed:

Bagaimana dengan “Bata’enha”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bahasa Coptic juga, dan artinya berlawanan dengan arti bahasa Arab “Batn”, yang berarti, “Bagian dalam”. Jika kita mengambilnya dari “Batan”, akan berarti “Dari dalam”, tetapi dalam bahasa Coptic artinya “Permukaan luarnya”.

Mohamed:

Dari luar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Surat ke 55 (Ar Rahman), ayat 54: “ Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra.” Artinya, bagian luarnya terbuat dari brokat atau sutra.

Mohamed:

“Abareeq”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bahasa Persia… artinya “Piala”. Di Surat ke 56 (Al Waqi’a), ayat 18.

Mohamed:

“Injeel”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bahasa Yunani dan artinya “Kabar gembira”. Ketika kita berkata “Injeel Matius”, artinya, “Kabar gembiar yang dibawakan Matius.” Ya, pesan gembira.

Mohamed:

Kata “Injeel” ada di Al Qur’an juga.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, dan mengapa begitu? Ini adalah semua kata-kata yang muncul di Al Qur’an, yang bukan berasal dari Arab, tetapi mereka masih menyebutnya “ini bahasa Arab yang jelas.” Ini tidak jelas, ini telah….

Mohamed:

Kata-kata dari bahasa lain.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Kata-kata bahasa asing.

Mohamed:

Baik, “Taboot”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bahasa Coptic juga, artinya “Peti jenazah”.

Mohamed:

“Juhannam”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bahasa Coptic juga ... Maaf, bahasa Ibrani.

Mohamed:

Bahasa Ibrani.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Dari bahasa Ibrani. Artinya, “Api atau neraka jahanam”. Surat ke 8 (Al Anfal), ayat 36.

Mohamed:

Bagaimana dengan “Zakat”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Dapatkah Anda mempercayai ini? Itu adalah kata bahasa Ibrani.

Mohamed:

Tidak!

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Percaya saya, itu adalah kata bahasa Ibrani. Artinya, “Sebagian uang”.

Mohamed:

Dan asalnya…

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Sebuah kata bahasa Ibrani.

Mohamed:

Aneh tapi nyata!

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Anda tahu, ada banyak bani Israil yang tersebar di Medinah dan bahasa mereka dikenal dan digunakan.

Mohamed:

“Sijjeel”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Sijjeel” is Pahlavy … adalah bahasa Persia.

Mohamed:

Bahasa Persia.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Artinya “Lumpur padat”. “Ia melempari mereka dengan batu sijjeel.” Yaitu lumpur padat.

Mohamed:

“Suradeq”.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bahasa Persia. Artinya “Paviliun”.

Mohamed:

Apa?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Paviliun seperti sebuah tenda.

Mohamed:

Oh ya, tenda. Bagaimana dengan kata “Surat”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Asalnya “Seriak”. Artinya “bagian” atau “bab”, seperti sebuah bab buku.

Mohamed:

Bagaimana dengan “Ferdouss”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Ferdaouss” adalah kata bahasa Pahlavy, dan artinya “Sebuah taman”. “Taghooth” adalah kata bahasa Ethiopik, artinya “Musuh”. “Taghooth” artinya “Musuh”. “Ma’aoon…” Bahasa Ibrani. Artinya, “Sebuah tempat”. “Ma’aoon” adalah sebuah kata Ibrani.

Mohamed:

Banyak kata-kata yang bukan bahasa Arab.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

275 kata. Kita hanya mencatat 30 kata. 275 kata asing dan pada akhirnya mereka mengatakan: “Bahasa Arab yang jelas.”

Mohamed:

Saya mempunyai sebuah pertanyaan dari episode sebelumnya. Kita tidak mempunyai waktu untuk menjawabnya dan saya mempunyai sebuah pertanyaan lainnya, pertanyaan terakhir. Pertanyaan dari episode yang lalu adalah sebuah pertanyaan rohani, yang menanyakan: “Mengapa Allah menciptakan saya?” Dan pertanyaan ini ditanyakan oleh semua orang. Silahkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Allah menciptakan kita untuk menyembah Dia, untuk menyembah Dia, Ia menciptakan kita untuk menyembah Dia. Yaitu tujuannya adalah penyembahanNya. Dalam kasus ini, sejujurnya, Allah akan terlihat seperti seseorang yang butuh disembah. Ia menciptakan mereka untuk menyembah Dia.

Tidak… tetapi dalam ajaran Isa Al-Masih, Allah menciptakan kita dari kebesaran kasihNya. Ia mengasihi kita, jadi Ia menciptakan kita, dan ketika kita datang untuk mengenal kasihNya, kita mengasihi Dia dengan lebih lagi sebagai balasannya, dan puncak kasih tersebut adalah penyembahan. Seseorang berkata, “Ini dan itu begitu mengasihi, ini dan itu sampai sedemikian memuja.” Apa artinya, “Sampai sedemikian memuja”? Artinya ia tidak dapat menyatakan bahwa apapun dari dia, karena seorang budak tidak mempunyai hak. Oleh karena itu penyembahan merupakan hasil, bukan tujuan. Dan oleh karena itulah ajaran Isa Al-Masih adalah kasih. Kita berkata bahwa Allah menciptakan kita karena kasihNya, dan Ia mau kita hidup di dalamNya, dalam kasih. “Kita mengasihi Dia karena Ia mengasihi kita terlebih dahulu.”

Mohamed:

Jadi bukan karena maksud perbudakan atau perhambaan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tidak, jika seperti itu Allah akan egois.

Mohamed:

Dan bukan agar kita menjadi budak Allah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tidak, tapi harus kehendak kita sendiri.

Mohamed:

Tetapi kita menjadi penyembah Allah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Kita melakukan ini dari kehendak bebas kita sendiri, tetapi ini bukan tujuan Allah.

Mohamed:

Dan kita menyembah Allah karena kita percaya kepadaNya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Dan mengasihi Dia.

Mohamed:

Dan kasih kita kepadaNya, jadi kita menyembahNya dan mengagungkanNya dan meninggikanNya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Karena itu sesuai bagiNya. Ia tidak menciptakan kita untuk tujuan khusus ini; ini adalah hasil dari kasih kita. Apakah jelas? Perbedaan antara tujuan dan hasil? Tujuan artinya tujuan saya untuk melakukan hal tersebut, tetapi hasil… hasil bukanlah tujuan. Seelah menyelesaikan suatu tujuan, kita mendapatkan hasil.

Mohamed:

Tujuannya adalah kasih Allah dan hasilnya adalah penyembahan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya. Hasilnya penyembahan.

Mohamed:

Terima kasih. Pertanyaan terakhir: “Apa yang harus saya lakukan agar memiliki hubungan pribadi dengan Allah?”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Betapa indah. Sebuah pertanyaan yang indah!

Mohamed:

Karena setiap ciptaan mengingini Penciptanya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ini sangat indah. Apa yang saya lakukan, saya hanya mendengarkan suaraNya, karena Ia berkata: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk.”(*) Program ini adalah Allah yang mengetuk hati. Ia berkata, “Aku di sini.” Dan Anda duduk dan menonton… Anda tidak di sini secara kebetulan. Tidak, ada sebuah tujuan dan rencana untuk Anda dengar, ketika saya mendengar ketukan kasihNya, saya membuka hati saya bagi Dia. Ia berkata, “ Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan Aku pintu, Aku akan masuk.”(*) Ketika Ia masuk ke dalam hidup saya, sebuah hubungan pribadi antara saya dan Dia dimulai, sebuah hubungan kasih yang didasari oleh kasihNya kepada saya. Dan Dia-lah yang datang kepada saya untuk memasuki hati saya. Jadi saya menerima Dia, dan berkata kepadaNya: “Silahkan masuk Allah, masuklah ke dalam hatiku.” Saya ingin agar semua pemirsa saat ini mengatakannya dengan saya: “Ya Allah, Engkau mengetuk pintu hatiku. Aku membuka pintu bagi Engkau, Tuanku. Masuklah, dan tinggallah dalamku, supaya aku dapat hidup dalam hubungan suci denganMu, sebuah hubungan pribadi, sebuah hubungan kasih. Amin.” “Aku berterima kasih karena Engkau mendengar doaku dan Engkau telah mengabulkan permohonanku. Amin.”

Mohamed:

Terima kasih. Apa rintangannya? Ini adalah hasrat dan keinginan semua orang, untuk mempunyai hubungan pribadi dengan Allah. Apa yang merintangi manusia untuk membuat atau mengambil keputusan ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Halangannya… mungkin ada banyak halangan, dan semua halangan datang dari kita, bukan dari Allah, karena Allah menginginkan: “Semua manusia diselamatkan dan mengenal kebenaran.”(*) Jadi jika ada halangan, itu ada di bagian saya… keras hati, keengganan, dosa yang mengikat saya dan tidak mau saya lepaskan, agar dapat hidup dengan Allah. Tidak adanya kepercayaan dan iman dapat terjadi dengan mudah, bahwa Allah akan begitu saja masuk ke hati saya karena Ia mengasihi saya. Tidak adanya kepercayaan dan iman. Bukankah itu benar? Tetapi jika seseorang bersungguh-sungguh mengasihi Allah, Allah pasti akan memenuhi keinginannya.

Mohamed:

Tetapi ada hal-hal yang lebih besar atau lebih hebat dari kita manusia, yang memisahkan kita dari Allah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Dosa dan setan. Dosa dan setan… Baiklah, saya menempatkan mereka bersama-sama. Allah adalah Allah yang penuh kasih, yang memanggil saya ke jalan keselamatan, betul? Ia mungkin mencabut kenikmatan fisik saya, tetapi Ia akan memberikan saya sukacita rohani dan damai sejahtera. Akan tetapi setan melakukan hal yang sebaliknya. Ia memberikan saya kenikmatan sementara dan mencuri damai sejahtera saya. Mana yang saya pilih? Setiap orang pandai, kita dapat mengevaluasi positif dan negatifnya, dan setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Jadi sekarang Allah menawarkan kasihNya, dan bersama-sama dengan kasih tesebut, Ia menawarkan damai sejahtera, ketenangan, suka cita, dan keamaanan di dunia dan di surga. Setan menawarkan dosa, kenikmatan sementara dan kenikmatan duniawi, serta menghancurkan atau mencuri damai sejahtera dan sukacita manusia. Dan ia terus menerus merasa letih.

“Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi”. Tidak ada kepuasan, tetapi orang yang pandai harus mempertimbangkan kasih Allah dan damai sejahtera bersama Dia, dan godaan setan dan damai sejahtera yang hilang. “Tidak ada damai bagi orang jahat kata Allah. Tetapi yang jahat seperti laut bergelora yang tidak dapat tenang, yang airnya melemparkan lumpur dan kotoran.”(*) tetapi Isa Al-Masih berkata, “Damai Aku berikan kepadamu.” “Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadaMu.” Jadi kita datang dan menyerahkan beban kita kepadaNya… keletihan, penyakit, depresi, masalah, kebutuhan kita, dan kita katakan kepadaNya: “Allah, Engkaulah Bapaku. Aku serahkan semuanya di kakiMu. Engkaulah yang memelihara burung-burung di udara, jadi hidupku ada di tanganMu.”

Mohamed:

Allah sangat meninggikan manusia dan sangat mengasihi manusia juga. Dapatkah Anda membagikan kepada saya beberapa ayat mengenai bagaimana Allah meninggikan manusia? Silahkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya. “Bukan lagi sebagai hamba… yaitu sebagai saudara yang kekasih.” Betapa indah – saudara yang kekasih. Ia juga berkata, “Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anakKu laki-laki dan anak-anakKu perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” “Karena engkau berharga di mataKu, Engkau telah ditinggikan, dan Aku mengasihi engkau; Oleh karena itu Aku memberikan manusia kepadamu, dan orang-orang untuk hidupmu, jangan putus asa karena Aku-lah Allah-mu, Aku akan menguatkan engkau, ya, Aku akan menolong engkau, Aku akan menopang engkau dengan tangan kanan kebaikanKu. Jangan takut engkau cacing Yakub, Aku akan menjadikan engkau pembajak dengan gigi yang tajam; engkau akan membajak gunung-gunung dan menghancurkan mereka kecil-kecil, dan membuat bukit-bukit seperti sekam”(*) Janji Allah baik untuk anak-anakNya. Datang kepadaku, Aku akan berikan kepadamu.

Mohamed:

Terima kasih banyak. Pemirsa terkasih, apakah Anda telah mendengar Allah mengetuk pintu hati Anda? Allah dari kekekalan mengasihi manusia dan meninggikan dia, dan menciptakan dia dalam rupa terbaik. Ia menciptakan manusia seperti rupaNya sendiri. Kita seperti Allah… Kita berbentuk terbaik. Allah mengatakan kepada Anda saat ini: “Aku sudah mengasihimu dengan kasih yang tidak berkesudahan; jadi dengan kasih kebaikan, Aku sudah menarik engkau.”(*) Allah Maha Pengampun, Bapa, penuh kasih, Ia-lah sumber kasih, sumber kelimpahan; Ia ingin memberikan kita kehidupan kekal. Ia juga ingin menuliskan nama-nama kita di buku kehidupan. Saya sendiri telah membuat keputusan dan saya menyerahkan hati saya kepada Allah. Saya mengangkat mata dan ruh saya kepada Allah saya, pencipta surga dan bumi, dan memohon pengampunan padaNya, dan untuk hidup denganNya. Dan saya mulai mempunyai hubungan pribadi dan persahabatan dengan Bapa surgawi saya, dan betapa indahnya persahabatan ini! Betapa indahnya persahabatan dengan Allah surga dan bumi, dengan Pencipta saya dan Raja saya, Raja atas segala raja, dan Allah dari segala allah. Angkat hati Anda bersama dengan saya kepada Allah, dan serahkan ruh dan hati Anda kepada Dia, supaya Ia akan menetap dalam hati Anda selamanya, dan supaya Anda akan bersama dengan Dia di surga dan surga kekal.

Terima kasih dan sampai kita berjumpa kembali.


Texts being used:

The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.

The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.

The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/

Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind

Notes on this episode:

(*) For verses that is not clearly defined, the translation is done directly as the text said, not taken from the quote in the Bible – Untuk ayat-ayat yang tidak direferensikan secara jelas, terjemahan dilakukan secara langsung seperti apa kata text, bukan diambil langsung sesuai dengan teks dari Kitab Suci.

(1) Should be Surah 41. We change it from Surah 42 into Surah 41. – Seharusnya Surat ke 41. Kita merubahnya dari Surat ke 42 menjadi Surat ke 41.

Tuesday, May 10, 2011

Keunikan Bahasa dan Kesalahan Tata Bahasa (Ep 45)

Pertanyaan Mengenai Iman Episode 45

Keunikan Bahasa dan Kesalahan Tata Bahasa

Mohamed:

Para pemirsa terkasih, selamat berjumpa di episode program, “Pertanyaan Mengenai Iman”, dan bersama kita kembali tamu terhormat Pendeta Zakaria Botros. Selamat datang kembali Pak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Terima kasih.

Mohamed:

Kita telah menerima banyak pertanyaan-pertanyaan. Kita akan membagikan beberapa kepada Anda. Surat ini berasal dari Mesir, negara tercinta Mesir: “Kepada Bapak-Bapak, penanggung jawab program “Pertanyaan Seputar Iman” – sebenarnya “Pertanyaan Mengenai Iman” – kepada pendeta saleh, Bapak Zakaria Botros, damai dan anugerah. Pertama-tama saya ingin menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya atas usaha yang hebat, yang dituangkan dalam program yang disiarkan di saluran Al Hayat. Dan saya seorang penonton program yang tekun.

Saya ingin agar Anda mengirimkan sebuah buku “Sons of Ishmael” (Anak-anak Ismail). “Sons of Ishmael” (Anak-anak Ismail) adalah sebuah buku yang diterbitkan beberapa waktu yang lalu. Ada kesaksian-kesaksian dalam buku ini yang berasal dari orang-orang yang dulunya penganut Islam dan sekarang mereka adalah orang-orang yang percaya kepada Allah kami. Sekarang mereka mengenal Allah yang benar.” Kita mempunyai buku ini dan memberikannya sebagai hadiah bagi para pemirsa.

Kita mempunyai sebuah surat lainnya. Sepertinya berasal dari negara Eropa; dari Jerman atau… Ya, Jerman. “Kepada keluarga yang terhormat dari program indah ini dan kepada seluruh keluarga saluran Al Hayat. Rekan-rekan orang percaya, ini adalah pertama kalinya saya menulis kepada Anda dan saya sangat senang menulis kepada Anda. Dan walaupun saya hanya melihat program indah Anda dua atau tiga kali, saya mereka saya telah menjadi anggota dari keluarga yang indah ini. Dan saya akan merasa sangat terhormat jika Anda menerima saya sebagai seorang saudara perempuan dan seorang teman Anda. Saya berharap kita dapat berkomunikasi dan berkorespondensi. Dan saya akan selalu berterima kasih kepada Anda. Dan ini menambahkan hak istimewa saya.” Kami bersyukur kepada Allah untuk saudari kami, Khalda, dan kami bersyukur kepada Allah atas semua anggota keluarga surgawi, karena ada satu keluarga yang mengikatkan kita kepada satu Allah dan satu Penyelamat. Terima kasih. Kita mempunyai banyak pertanyaan.

Kita kembali ke topik keunikan bahasa dan kesalahan tata bahasa yang didasari dengan asumsi bahwa Al Qur’an adalah dasar dari kefasihan. Para pengaju pertanyaan berkata, “Al Qur’an adalah dasar dari kefasihan, karena tidak seperti Kitab Suci, Al Qur’an bercirikan keunikan bahasa yang sempurna.” Jadi apa pendapat Anda mengenai pertanyaan ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Amin. Pertama-tama, ada sebuah pertanyaan yang tertunda di episode sebelumnya. Jadi dapatkan kita menggabungkannya dengan pertanyaan lainnya, setelah kita menyelesaikan bahasan kita hari ini?

Mohamed:

Mari kita sisakan pertanyaan itu untuk akhir acara. Apakah bisa?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Saya berterima kasih. Sebenarnya, dalam membicarakan keunikan bahasa Al Qur’an, sebenarnya tidak ada keragu-raguan bahwa telah banyak dibicarakan oleh banyak orang, termasuk Dr. Zaghlool Al Najjar, dalam bukunya yang berjudul “From The Verses of Scientific Inimitability in The Holy Al Qur’an” (Dari Keunikan Ilimiah Ayat-Ayat dalam Al Qur’an Suci). Ia mengatakan, “Allah Muhammad kami datang di masa ketika karakteristik utama Semenanjung Arab merupakan kefasihan, pidato, dan ungkapan pelembut.” Dan ia berkata, “Dan oleh karena itu, sama seperti Musa datang di masa sihir, dan Isa datang di masa obat-obatan, Muhammad juga, datang di masa bahasa.” Dan oleh karena itulah, ada keunikan bahasa Al Qur’an. Tetapi saya bertanya-tanya, dan saya yakin saya mempunyai hak untuk melakukan hal itu. Baiklah, kita di sekolah dasar mempelajar bahasa Arab dari kelas satu, dari awal, dan kita mengetahui kaidah “sesungguhnya”, atau “Inna”, dan saudara-saudaranya. “Sesungguhnya” menjadikan subyeknya akustip atau penderita.

Mohamed:

Dan menjadikan obyeknya nominatif.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Dan menjadikan obyeknya nominatif. Jadi contohnya, kita dapat berkata ‘Hathan Telmithan’ – ini adalah dua orang murid – sebuah subyek nominatif dan sebuah obyek nominatif. Ketika ’sesungguhnya’ – Inna – diperkenalkan ke kalimatnya, kita harus berkata: “Inna Hathayne Telmithan. Inna Hathayne.” Tetapi ketika saya membaca Al Qur’an dan saya sampai ke subyek ‘Inna’, di lebih dari satu kejadian, dan di lebih dari satu ayat, kita menemukan subyek ‘Inna’ dalam bentuk nominatif. Contohnya, Surat ke 20 (Ta Ha), ayat 63. Surat ke 20 (Ta Ha), ayat 63: “Inna Hathan Lasaheran” – “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir” – Dan supaya tidak ada orang yang mencurigai bahwa saya membuat-buat hal ini, dan menuduh dengan licik, dan ini tidak benar ataupun tepat sama sekali, Anda tahu bahwa saya mengacu kepada para pemberi komentar. Jadi komentar Al Qurtoby mengatakan sebagai berikut.

Mohamed:

Ini di Surat ke 20 (Ta Ha), bukan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, Surat ke 20 (Ta Ha), ayat 63.

Mohamed:

Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Komentar Al Qurtoby atas ayat ini mengatakan, “Abu Amr mengutipnya: ‘Inna Hathan Lasaheran’ – ‘Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir.’” Jadi disini ia sampai pada salah satu variasi bacaan Al Qur’an. Yang benar adalah “Inna Hathayne…” – “Sesungguhnya, ini adalah keduanya.” Dan selebihnya, telah dituturkan di pegunungan Uthman dan ‘Aisha, semoga Allah disenangkan oleh mereka… Mereka juga menuturkannya: “Inna Hathayne…” – “Sesungguhnya, ini adalah keduanya.” Dan banyak teman-teman sang rasul lainnya yang mengatakan: “Inna Hathayne…” – “Sesungguhnya, ini adalah keduanya.” Dengan begitu, Al Hassan dan Saeed Ibn Jubair juga menuturkannya sama seperti Ibraheem Al Nakh’y, sama seperti para pengikut lainnya. Anda tahu, ada para teman dan para pengikut. Mereka juga, membacanya: “Inna Hathayne…” – “Sesungguhnya, ini adalah keduanya.” Dan diantara para pembaca yang membacanya seperti Eissa Ibn Omar dan Asem Al Jahdary baca. Baiklah, mengapa di sini tertulis “Hathan”? Sekarang dengarkan tambahan dari Al Qurtoby.

Mohamed:

Saya lihat ini sebagai kesetiaan dan keberanian dari Al Qurtoby.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Dengarkan apa yang ia katakan, sebagai tambahan. Apa yang akan Anda katakan ketika mendengar apa yang telah ia katakan di sini? Ia katakan dalam komentarnya, “Dan bacaan ini, “Inna Hathayne…” – “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir”(1)… bacaan ini sesuai dengan pemecahan kata dan infleksi atau nada suara.” Benar. Tetapi dengarkan apa yang ia katakan selanjutnya: “Akan tetapi ini bertentangan dengan Al Qur’an. Sesuai dengan infleksi dan hukum tata bahasa, bertentangan dengan Al Qur’an.” Tidak, Al Qur’an-lah yang tidak sesuai dengan tata bahasa dan pemecahan kata, sebetulnya dan sejujurnya. Bukankah begitu?

Mohamed:

Ini sangat serius. Tetapi Anda berdiri di atas keberanian Al Qurtoby mengenai hal ini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tentu saja. Tidak ada seorangpun yang akan mengatakan hal itu, kecuali ia sangat berani. Tentu saja ia berani. Dan, hal keberanian ini mengingatkan saya atas sebuah artikel yang ditulis oleh anggota dewan Mohamed Al Ashmawy, di majalah “Rose Al Yosof”, tanggal 22Augustus 2003, dengan sebuah judul yang sangat hebat. Ia menulis dengan judul: “Orang-orang Muslim saat ini tidak menanggung apa yang mereka telah katakan seribu tahun yang lalu.” Yaitu, apa yang telah dikatakan seribu tahun yang lalu terlalu berani bagi orang-orang saat ini. Maksud saya bahwa Al Qurtoby, seribu tahun yang lalu, mengatakan bahwa ini sesuai dengan tata bahasa, bertentangan dengan Al Qur’an. Apakah mereka dapat mengatakan hal seperti ini sekarang? Tidak akan pernah. Jadi Al Ashmawy memberitahu mereka, apa yang dikatakan seribu tahun yang lalu, tidak ada seorangpun di masa sekarang ini yang berani mengatakannya.

Mohamed:

Terima kasih kepada anggota dewan Mohamed Al Ashmawy, karena ia telah mempunyai keberanian untuk mengatakan hal-hal seperti ini. Itu benar. Apakah Anda mempunyai contoh-contoh lainnya mengenai ketidaksesuaian Al Qur’an dengan hukum tata bahasa?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Banyak.

Mohamed:

Banyak?.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Oh, ya... Ratusan kesalahan. Di Surat ke 5 (Al Maidah) ayat 69, dikatakan: “Inna Al Latheena amano wal latheena haado wa Al Sabeoon…” – “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin.” Dan mengapa ini? “Wa Al Sabeoon.” The “wa” – “dan” sebagai koordinasi, berguna sebagai tambahan terhadap subyek “Sesungguhnya,” “Inna.”

Mohamed:

Maksud Anda, “Al Sabe’een.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Al Sabeen” – ”Orang Shabiin”.

Mohamed:

Di surat yang mana?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Di Surat ke 5 (Al Maidah) ayat 69. Ia akan mengatakan. Tidak, “Al Sabeoon” – ”Shabiin”, benar. Tunggu sebenar, karena di Surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 62: “Inna Al Latheena amano wal latheena hado…” – “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi,” kata-kata yang sama, “Wa Al Sabe’een...” – ”Shabiin.” Sekarang beritahu saya, yang mana yang benar? “Al Sabeoon”, atau “Al Sabe’een”? Baiklah, jika ia berkata “Al Sabeoon” benar, saya beritahu dia bahwa Surat ke 2 (Al Baqarah) salah, dan jika ia berkata Surat ke 2 (Al Baqarah) benar, jadi Surat ke 5 (Al Maidah) salah.

Mohamed:

Maksud Anda Surat ke 2 (Al Baqarah)?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, Surat ke 2 (Al Baqarah) dan Surat ke 5 (Al Maidah). Ada ketidak-sepakatan diantara keduanya. Dan di Surat ke 22 – yaitu, Surat (Al Hajj) – dikatakan: “Inna Al Lathena Amano Wa Al Latheyna Hado Wa Al Sabe’een…” – “Sesungguhnya, orang-orang mukmin dan orang-orang Yahudi, Shabiin”. Jadi Surat ke 22 (Al Hajj) setuju dengan Surat ke 2 (Al Baqarah) dan kemudian Surat ke 5 (Al Maidah) membutuhkan apa…?

Mohamed:

Penjelasan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Penjelasan.

Mohamed:

Membutuhkan penjelasan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Membutuhkan penjelasan, untuk menjelaskan pertentangan mengenai kata yang sama. Ayat yang sama diulang kata demi kata, dengan pengecualian bahwa di satu tempat kata ini nominatif dan ayat yang sama di tempat lainnya, kata “Inna” akusatif. Ini membutuhkan interpretasi. Di torah yang dilestarikan, apakah tertulis: “Al Sabeoon” atau “Al Sabe’een”? “Dan Kami telah mengirimkan Pengingat dan Kami menjaganya.” Apakah “Kami menjaganya” “Al Sabeoon” atau “Al Sabe’een”? Ini semua adalah tanda tanya.

Mohamed:

Saya hamipir… Saya hampir mendengar Anda mengatakan bahwa ini bukanlah perkataan Allah. Benar?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ini adalah kesimpulan akhir, dan ini diserahkan kepada kebijaksanaan para pemirsa. Biarkan mereka mempelajari dan menelitinya. Masalah ini membutuhkan pembelajaran yang teliti.

Mohamed:

Saya tidak percaya bahwa ada banyak contoh-contoh mengenai hal ini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Oh tidak, bapak yang terkasih. Ada banyak. Ada sangat banyak. Dengarkan. Di Surat ke 4 (Al Nisaa), ada sebuah contoh lainnya. Surat ke 4 (Al Nisaa) ayat 162 berkata sebagai berikut: “Laken Al Rasekhoon Fi Al Elm Menhom Wa Al Moenmenoona Wa Al Mokemeena Al Salat Wa Al Maotoona Al Thakat Wa Al Moamenoona Be Allah” – “Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur'an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan salat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” Ini “Laken” – Tetapi – tidak dengan dua kali “Noon”. Jika “Lakenna”, namanya akan menjadi akusatif. Inilah yang hukum bahasa beritahu kita. Tetapi disini adalah “Laken.” “Noon” mempunyai sebuah “Sokoon”, dan oleh karenanya, namanya tidak diletakkan sebagai akusatif. Jadi namanya tetap nominatif. Dan oleh karena itu, dikatakan “Laken Al Rasekhoon – nominatif – “Wa Al Moemenoona – orang-orang mukmin – nominatif – “Wa Al Mokemeena” – “orang-orang yang mendirikan,” ditambahkan kepada kata benda nominatif.

Mohamed:

Maksud Anda, “Al Mokemoona Al Salat.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Baiklah, seharusnya: “Wa Al Mokemoona” – “mereka yang terus,” supaya menjadi benar.

Mohamed:

Itu ada di Surat ke 4 (Al Nisaa).

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya. Surat ke 4 (Al Nisaa) ayat 162. Dan buktinya adalah ayat tersebut melanjutkan: “Wa Al Moatoon” – ”orang-orang yang terus” – nominatif – “Al Thakat, Wa Al Moamenoona Be Allah,” – “menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah,” – nominatif. Jadi mengapa mempunyai itu di tengah-tengah, tidak sesuai dan menjadi akusatif? Ini sebuah masalah.

Mohamed:

Ini sebuah kesalahan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Baiklah, mari kita lihat … kita tidak dapat mengatakannya, tetapi marilah kita lihat apa yang dikatakan para pemberi komentar. Jika Anda mengijinkan, berhubungan dengan pandangan Anda.

Mohamed:

Baiklah, terlihat, seperti yang Anda katakan, bahwa ini adalah sebuah kesalahan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Seperti yang Anda lihat di permukaan… tetapi marilah kita mengacu kepada para pemberi komentar, karena kita tidak mempunyai hak untuk mengartikan Al Qur’an. Ya. Marilah kita melihat apa yang Al Tabary katakan. Ia berkata, “Mereka yang memberikan pendapat atas hal ini, tidak menyetujui alasan mengapa hal ini tidak sesuai dengan tata bahasa.” Mereka tidak setuju. Ia mengakuinya. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa ini adalah kesalahan tulisan. Dan bentuk yang benar adalah: “Wa Al Mokemoona Al Salat,” – “orang-orang yang terus mendirikan salat.” Aha! Jadi sekarang ia mengakui bahwa itu seharusnya “Al Mokemoona,” – “orang-orang yang terus.” Dan sekarang kesalahannya ada di? Di penulis. Ya, penulisnya bukan masalah saya. Masalah saya adalah mereka yang mengatakan, “Kami telah mengirimkan Pengingat dan Kami menjaganya.” Mengapa Ia akan membiarkan penulisnya membuat kesalahan? Mungkin penulisnya membuat lebih banyak kesalahan, dan ini hanyalah yang terlihat dan yang kita temui. Jadi bagaimana kita tahu, karena kita telah mengijinkan prinsip kesalahan penulisan... Baiklah, penulisnya juga dapat membuat kesalahan dalam arti, asal, dan seterusnya. Apakah saya benar atau salah? Jadi disini ia mengatakan bahwa ini adalah kesalahan penulisan. Dan Al Tabary juga menambahkan, mengutip Al Zobair, dengan mengatakan: “Aku berkata kepada Aban Ibn Uthman Ibn Affan, “Saya heran mengapa tertulis Laken Al Rasekhoon Fi Al Elm Menhom, bahkan mereka yang ahli dalam pengetahuan…” “Wa Al Mokemeena Al Salat,” – orang-orang yang terus mendirikan salat.” Ia berkata, “Penulisnya, ketika ia menulis Laken Al Rasekhoon Fi Al Elm Menhom, bahkan mereka yang ahli dalam pengetahuan, sampai ke kata ini: “Al Mokemoona,” – “orang-orang yang terus”, dan bertanya: “Apa yang seharusnya aku tulis?” Dan dikatakan kepadanya, Tulis “Wa Al Mokemeena Al Salat,” – “orang-orang yang terus mendirikan salat.” Jadi ia menulis apa yang telah diperintahkan. Jadi sekarang ini bukanlah kesalahan penulisnya, ini adalah kesalahan pendiktenya. Jadi sekali waktu mereka mengatakan ini penulisnya, dan di waktu yang lainnya mereka mengatakan ini pendiktenya. Baiklah, masalah saya bukan penulis atau pendiktenya. Dimana Allah? Dimana torah yang dilestarikan? Seharusnya itu harus benar-benar sesuai dengan torah yang dilestarikan. Dimana itu? Al Tabary melanjutkan alasannya dengan mengatakan: “Di pegunungan Hesham Ibn Orwa, mengutip ayahnya, bahwa ia bertanya kepada ‘Aisha mengenai pernyataan: “Wa Al Mokemeena Al Salat,” – ”orang-orang yang terus mendirikan salat.” Mengapa ditulis seperti itu? Dan juga mengenai pernyataannya: “Al Latheyna Hado Wa Al Sabeoon,” – “orang-orang mukmin dan orang-orang Yahudi, Sabiin,”” semuanya tidak sesuai. Dan mengenai pernyataannya: “Inna Hathayne Lasaheran,” – “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir,” ia bertanya kepada ‘Aisha, dan ia menjawab, “Oh, keponakanku, itu semualah yang dilakukan para penulis! Mereka membuat kesalahan dalam menulis.” Baiklah, ini benar-benar mencengangkan. Jadi bagaimana dengan hal-hal yang tidak kita ketahui? Apakah mereka salah atau benar? Karena mereka telah mengijinkan prinsip kesalahan penulisan, ini sebuah masalah. Untuk mengijinkan prinsip seperti itu sama seperti mengatakan bahwa ia telah membuat kesalahan-kesalahan lainnya, yang kita tidak sadari. Dan itu tepat seperti yang Al Sajestany katakan. Abu Dawood Al Sajestany, dalam bukunya “Al Masahef”, halaman 34. Ia mengatakan hal yang sama bahwa ‘Aisha berkata, kata demi kata, bahwa itu merupakan kesalahan penulisnya. Dan oleh karena itu, sekarang para peneliti bertanya… mereka bertanya apa implikasi dari kesalahan penulisan? Kalau begitu, dimana kekuasaan ayat yang mengatakan: “Kami telah mengirimkan Pengingat dan Kami menjaganya.” Dan para peneliti juga tertantang untuk bertanya, “Jadi, apakah Al Qur’an diilhami oleh Allah?” Dan saya menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, yang melebihi garis merah, dan saya berkata, berikan kesempatan kepada para ulama… para ulama, interpretasi, dan Al Qur’an serta bahasa, untuk menyampaikan kata-kata mereka. Dan jika mereka tidak memberikan jawaban yang meyakinkan, merupakan hak baik Anda untuk tidak setuju dan menyatakan pendapat Anda, yang dijamin oleh hukum, adat istiadat, dan agama. Jadi isunya tidak kecil.

Mohamed:

Oh, tidak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ini sebuah pengakuan atas kesalahan tata bahasa dalam Al Qur’an. Dan bukan hanya satu, dua, atau tiga kesalahan… ada banyak.

Mohamed:

Anda berkata bahwa semua pertanyaan ini melebihi garis merah. Jadi ada peneliti-peneliti yang meneliti hal ini dengan teliti serta para ulama yang dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan ini. Akan tetapi, bagaimana dengan orang biasa? Pemirsa biasa, yang tidak mempelajari semua rincian tersebut. Apakah ada kesalahan yang jelas, yang dapat dibuktikan oleh orang biasa, yang dapat menangkapnya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya. Tentu saja ada hal-hal yang oleh para ahli… hanya para ahli yang mengetahuinya. Dan saya tidak mau menyentuh hal itu hari ini. Dalam percakapan saya, saya menyentuh pemirsa dari segala lapisan, diantaranya adalah orang-orang berpendidikan, mereka yang membenci orang-orang Arab, dan mereka yang membenci tata bahasa. Jadi saya tidak mau menyentuh hal-hal khusus. Saya menyisakannya untuk waktu dimana ada orang-orang ahli yang mau membahasnya dengan saya. Tetapi saya berbicara mengenai topik “Inna”, obyek “Inna”, subyek “Kana”, dan obyek “Kana”… Semua hal yang telah kita pelajari di sekolah dasar. Diantara kesalahan-kesalahan tersebut adalah meletakkan subyek sebagai akusatif. Subyeknya, seperti yang banyak dikenal, seharusnya nominatif.

Mohamed:

Aha!

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tetapi bagaimana Al Qur’an, yang sangat memiliki keunikan bahasa, meletakkan subyek sebagai akusatif? Bagaimana ini bisa? Dengarkan Surat ke 2 (Al Baqarah), ayat 124. Dikatakan, “La Yanal Ahdy Al Thalemeen.”

Mohamed:

Seharusnya” Al Thalemoon.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya. “La Yanal Al Thalemoona Ahdy.” Jadi “La Yanal” bersangkutan dengan maju dan mundur. “La Yanal Ahdy Al Thalemoon.”. Itu adalah subyek. Benar? Jadi mengapa? Imam Al Tabary berkata sebagai berikut, dalam komentarnya atas ayat ini. Ia berkata, “Terjadi di Mushaf Ibn Masood, “La Yanal Ahdy Al Thalemoon.” Ibn Masood benar. Jadi mengapa salah di Uthman? Dan mengapa sebuah versi yang sah, yang diterima oleh semua orang dan didistribusikan kemana-mana, salah? Ini sebuah pertanyaan besar.

Mohamed:

Dan salinan Ibn Masood tidak ada lagi.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tidak, salinannya ada. Ia membawanya pergi ketika ia meninggalkan Irak dan tidak menyerahkannya kepada Uthman Ibn Affan. Ada di situ.

Mohamed:

Dan salinan tersebut berbeda dengan semua Al Qur’an yang ada disini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, sangat sayang… sangat sayang. Dan orang menjadi bingung. Al Qur’an yang benar?

Mohamed:

Apakah ada contoh-contoh lainnya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya, tentu saja. Baiklah, Anda tidak akan kehabisan persediaan. Penuh sampai kepinggir. Dengarkan temanku terkasih. Di Surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 177, dikatakan sebagai berikut: “Laysa Al Berra An Towalwo Wujuhakom Kebla Al Mashrek Wa Al Maghreb,” – “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan.” “Laysa Al Berra.” Laysa adalah salah seorang saudara perempuan Kana. Ini menempatkan kata bendanya sebagai nominatif. Jadi seharusnya “Laysa Al Berro.” Dan supaya tidak dituduh sebagai suatu fabrikasi, mungkin kita tidak mengetahui bahasa Arab. Benar bahwa bahasa kita adalah bahasa Coptic, tetapi mereka memotong lidah kita untuk mencegah kita berbicara bahasa Coptic, dan mereka memaksa kita mengenal bahasa Arab. Tetapi saya merasa mereka akan sangat menyesal karena telah mengajarkan kita bahasa Arab. Dengarkan saya Pak. Ayat yang tepat di Surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 189 menyatakan: “Wa Laysa Al Berro Be An Ta’to Al Buyoota Men Thehoreha.” – “Bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya.”(2) Akan tetapi di surat yang sama, dengan tidak lebih dari sepuluh ayat diantaranya, muncul dengan pemecahan kata yang berbeda, di ayat 177: “Laysa Al Berra”, dan di ayat 189: “Wa Laysa Al Berro.” Yang mana yang benar? Sebuah masalah! Mari kita dengar apa yang Al Qurtoby katakan. Al Qurtoby berkata, Hamza dan Hafs mengulangnya ‘Al Berra’, sebagai akusatif. Tetapi yang lainnya mengulangnya ‘Al Berro’, seperti subyek Laysa.” Dan juga seperti itu di salinan Obay: “Laysa Al Berro,” dan begitu juga di salinan Ibn Masood, yang paling banyak diikuti oleh para pengulang. Dan mari kita ke sini sekarang. Apakah Anda mengikuti? Siapakah ini? Warsh... Mari kita ke Warsh, halaman 27, melihat apa yang dikatakannya. Kita berkata, “Laysa Al Berra”, bukan? Tetapi mari kita ke sini dan melihat apa yang ia katakan “Laysa Al Berro An Towalwo Wujuhakom Kebla Al Mashrek Wa Al Maghreb.” – “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan.”

Mohamed:

Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Laysa Al Berro An Towalwo Wujuhakom” dan ini dia: “Laysa Al Berra An Towalwo Wujuhakom.” Ini Uthman dan ini, “Laysa Al Berra”, dan yang ini “Laysa Al Berro.” Garis bawah di sini…

Mohamed:

Dan ini adalah salinan-salinan yang ada di peredaran saat ini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Yang ini ada di peredaran di Mesir dan sebagian besar negara-negara. Tetapi yang itu milik Moroko. Dan yang ini setuju dengan yang itu. Maksud saya salinan Kaloon. Ini dia. Dengarkan temanku: “Laysa Al Berro An Towalwo Wujuhakom.” Jadi ada dua “Al Berro”, dan satu “Al Berra”… Di Surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 176.

Mohamed:

Aha!

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Laysa Al Berro.” Apakah Anda melihat bagaimana ini? Ini adalah Mushaf yang ada. Saya tidak berbicara mengenai hal-hal yang tidak ada, tetapi nominatif dan akusatif.

Mohamed:

Hal yang sangat aneh. Sangat ajaib, benar … benar, benar aneh. Dan merupakan suatu keharusan bagi semua orang untuk mempertanyaan perbedaan-perbedaan ini. Ini alami. Baiklah, apakah Anda mempunyai contoh-contoh lainnya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tentu saja. Tapi jangan menggoda saya. Tentu saja, ada sangat banyak. Ada Surat ke 30 (Ar Rum) ayat 10, dimana dikatakan: “Thumma Kana Akebata Allatheena Asaoo Al Soaa.” – ” Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk,” “Thumma Kana Akebata?” Kata benda Kana pasti nominatif. Dan bagaimana disini muncul sebagai akusatif? “Kana Akebata.” Al Qurtoby berkata sebagai berikut, “Nafea dan Ibn Katheer dan Abu Amr mengulangnya, ‘Thoma Kana Akebato,’ dalam nominatif. Dan Al Qurtoby sendiri menjelaskan alasannya, dengan mengatakan bahwa itu adalah subyek Kana. Lihat di sini… lihatlah. Silahkan, lihatlah… halaman 405. Dan di sini juga. Halaman 405.

Mohamed:

Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Akebato.” Dengan sebuah “O.”

Mohamed:

Ya, dengan sebuah Damma.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Dan ambil yang ini…

Mohamed:

Dan yang ini mengatakan “Akebato” juga… hal yang sama. Tidak berbeda.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Baiklah. Lihat di sini, tidak ada perbedaan di sini. “Akebato” dan “Akebato.” Tetapi lihatlah yang di sini. Di sini: “Thumma Kana.”

Mohamed:

“Aakebata Al Latheena.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

“Kana Akebata”, dalam akusatif. Inilah keduanya, Kaloon dan Warsh. “Akebato.” Tetapi di Uthman, “Akebata.”

Mohamed:

Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Kredibilitasnya hilang. Jadi siapa yang benar dan siapa yang salah? Terus terang ini meragukan. Dan masalahnya membutuhkan sebuah jawaban yang pasti dari para ulama Al Azhar dan Islam yang terhormat.

Mohamed:

Kita telah mencakup banyak hal yang terlihat bertentangan. Tetapi saya masih mempunyai sebuah pertanyaan. Ini adalah salah satu pemirsa yang mengajukan pertanyaan: “Anda percaya bahwa Isa Al-Masih adalah Allah. Jadi siapa yang memerintah dunia ketika Isa Al-Masih ada di atas salib? “Atau ketika Allah mati?” Jika saya boleh menjawab… inilah kebingungannya. Inilah pikiran manusia.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Tentu saja. Kebingungan orang-orang Muslim terkasih kita dikarenakan mereka tidak melihat Isa Al-Masih memiliki sifat manusia dan keilahian, seorang manusia sempurna yang dihuni oleh Allah, perwujudan, menetap… yang kita katakan di episode sebelumnya. Seperti Ia mewujudkan diriNya di gunung, dan sama seperti Ia mewujudkan diriNya di pohon. Jadi jika Ia telah mewujudkan diriNya di sebuah batu dan sebatang pohon. Jadi jika Ia telah mewujudkan diriNya dalam sebuah batu dan sebatang pohon, tidaklah berlebihan untuk mewujudkan diriNya dalam seorang manusia. Jadi yang mati itu, yang makan dan minum, itu adalah manusia. Bagian yang meninggal dunia adalah manusia. Tetapi keilahianNya tidak terpengaruh, Seperti besi.

Mohamed:

Allah tidak mati.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Seperti besi. Jika Anda mempunyai sebatang besi dan Anda memanaskannya di api, dan ketika Anda mulai menempanya ... Apa yang Anda tempa sekarang? Besi. Tetapi api adalah suatu unsur yang tidak dapat Anda tempa, api tidak terpengaruh. Jadi keilahian seperti api dan kemanusiaan seperti besi. Penyaliban terjadi pada besi, kematian terjadi pada besi, maksud saya kemanusiaan, dan bukan pada Allah. Allah kekal, karena Ia bukan duniawi. Ia tidak dapat mati.

Mohamed:

Aha!

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Ya.

Mohamed:

Ada sebuah pertanyaan lainnya lagi. “Jika Anda percaya bahwa Isa Al-Masih adalah Allah, apa artinya ketika Ia berkata di salib ”AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?””

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Benar. “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, menyangkut sebuah cerita yang sangat indah. Dalam doa selalu ada, apakah itu bani Israil, pengikut Isa Al-Masih, ataupun orang Muslim, Imam atau pemimpin gereja yang memimpin doa membukanya dengan membuat pernyataan ini. Contohnya, ia berkata dalam Islam, “Allahu Akbar”, dan semua orang mengikuti dia… “Allahu Akbar.”

Mohamed:

Mereka mengulang hal yang sama.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Bukankah itu benar? Dan dalam agama bani Israil seperti itu, dan begitu juga di ajaran Isa Al-Masih. Kita katakan, “Mari kita katakan ‘Zabur kasihanilah aku Allah’, tetapi kita tidak mengatakan, “Mari kita berkata.” Kita hanya berkata, “Ya, kasihanilah aku, Allah.” Dan semua orang akan mengikuti… “Kasihanilah aku Allah, sesuai dengan kebesaran belas kasihanMu.” Mereka mengulang. Jadi Isa Junjungan kita Yang Ilahi, imam tinggi di salib, berkata kepada mereka: “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ini adalah Zabur 22 dibuka dengan ini, dengan kata-kata ini. Jadi apa poinnya? Poinnya adalah Zabur 22 penuh dengan nubuatan mengenai penyaliban Isa Al-Masih. Seperti Isa Al-Masih sedang memberitahu bani Israil, “Apa yang engkau lakukan kepada Aku sekarang, tepat seperti ini, telah diramalkan di Kitab Taurat.” Inilah yang Ia katakan di dalamnya. “Cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. Semua yang melihat Aku mengolok-olok Aku”, “KekuatanKu kering seperti beling”, “ Mereka menusuk tangan dan kakiku.” Nabi Daud tidak ditusuk tangan dan kakinya. “Mereka membagi-bagi pakaianKu di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahKu.” Jadi Ia mengingatkan mereka bahwa kejadian penyaliban akan digenapi. Dan oleh karenanya, Ia mengatakan hal berikut: “Sudah selesai!” Yaitu, nubuatan-nubuatan ini sekarang selesai atau digenapi, di hadapan mata kamu. Jadi itu adalah untuk penebusan dan penyelamatan. Untuk penebusan dan penyelamatan.

Mohamed:

Untuk penebusan dan penyelamatan. Kami berterima kasih, Pak Pendeta. Dan kita akan berjumpa kembali dengan Anda di episode lainnya.

Pemirsa terkasih, syukur kepada Allah, yang ingin mengkomunikasikan pesanNya dan kasihNya kepada kita, umat manusia. Karena Ia berkata kepada kita dalam Kitab Suci, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga. “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba.” Terima kasih, dan sampai kita berjumpa kembali di episode lainnya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:

Amin.


Texts being used:

The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.

The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.

The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/

Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind

Notes on this episode:

(*) For verses that is not clearly defined, the translation is done directly as the text said, not taken from the quote in the Bible – Untuk ayat-ayat yang tidak direferensikan secara jelas, terjemahan dilakukan secara langsung seperti apa kata text, bukan diambil langsung sesuai dengan teks dari Kitab Suci.

(1) Please check the original script. It doesn’t seem right. – Mohon cek naskah asli. Sepertinya tidak benar.

(2) English version is different from Indonesian version. However, based on the context, the Indonesian version sounds right. Should be “Bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya,” instead of “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan.” We use Indonesian version. – Ayat dalam versi Inggris berbeda dengan versi Indonesia. Akan tetapi, berdasarkan konteks tulisan versi Indonesia sepertinya lebih benar. Seharusnya “Bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya,” bukan “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan.” Kita menggunakan versi Indonesia.

(4) The translation of collyrium is not found. – Terjemahan collyrium tidak ditemukan.